SELINGKUH

SELINGKUH
Mendobrak


__ADS_3

"Nyonya, ini adalah minuman hangat dengan jeruk lemon dan madu. Bagus diminum pagi hari." ucap Ratih pada Sefia yang masih terjaga matanya semalaman.


Sefia menoleh, mengambil gelas berisi minuman hangat itu. "Terimakasih, Rat." ucapnya parau.


Ratih duduk disamping Sefia, mengelus punggungnya yang rapuh. "Nyonya tidak tidur semalaman, Apa terjadi sesuatu tadi malam?"


Sefia mengangguk lemah, iapun kembali menunduk sedih. "Iya, aku tidak mengira akan serumit ini."


Ratih tidak dapat berkata apa-apa, mengelus punggung majikannya dengan perlahan guna menenangkan hatinya yang tengah bergejolak.


Sefia sendiri bahkan menatap langit agar air matanya tidak jatuh menetes, sebelum ia kembali meneruskan ucapannya. "Bapak marah karena aku menyusulnya dengan perasaan curiga, lebih lagi dia mengatakan aku bukan seorang ibu yang baik karena aku meninggalkan Rian yang sedang sakit hanya karena kecurigaanku itu." ia menghapus air matanya yang menetes tak tertahan. "Aku bahkan tidak mempunyai kesempatan untuk menjelaskan semuanya, bahwa perempuan itu sedang mempermainkanku. Aku hanya takut, takut seperti kisah masalaluku. Apa aku salah untuk itu?"


Ratih menggelengkan kepalanya. "Nyonya tidak salah, wajar saja jika Nyonya khawatir tetapi wajar juga pak Dedi marah karena Nyonya sudah meragukannya." sahutnya, menghela nafas. "Pak Dedi mungkin saat ini masih marah sehingga tidak mau menerima penjelasan apapun. Nyonya bisa berbicara baik-baik dan menjelaskan pelan-pelan pada pak Dedi jika suasana hatinya sudah lebih tenang."


Sefia mengangguk cepat. "Iya, kamu benar."


"Dan yang perlu Nyonya tahu, pak Dedi tidak sembarangan mempekerjakan seseorang apalagi itu adalah sekretaris pribadinya."


"Maksudmu, Rat? Aku gak ngerti." tanya Sefia, mengerutkan keningnya bingung.


Ratih tersenyum, menatap majikannya. "Saya sendiri harus menghadapi seleksi yang begitu ketat untuk menjadi pengasuh dirumah ini, apalagi sebagai sekretarisnya."


"Aku masih tidak mengerti maksudmu."


"Intinya, Nyonya tenang saja! Pak Dedi pasti akan tahu kebenarannya."


"Ya, semoga saja." sahutnya penuh harap, lalu tersenyum dan memeluk pengasuh anaknya itu. "Terimakasih sudah mau menemani dan menjadi pendengar yang baik untukku."


"Sama-sama Nyonya, pak Dedi dan Nyonya adalah orang baik, dan juga telah banyak membantu keluarga saya, jadi saya akan juga ikut terpukul jika kalian saling menyakiti seperti ini." sahutnya, mengelus punggung Sefia dalam pelukannya. "Saya siap menjadi pendengar yang baik, kapanpun itu."


"Terimakasih, Terimakasih banyak."


****


Disisi lain, Sherly tengah duduk bersindakap penuh angkuh dihadapan adiknya, Anggi.


"Bagaimana? Kamu sudah berhasil menghancurkan rumah tangga mereka." tanyanya dengan nada arogan.


"Tentu dong kak, Semalam mereka bertengkar dan kayaknya sekarang mereka belum baikan." sahutnya penuh bangga.


"Ah baguslah, kerja bagus." ucap Sherly sembari tertawa puas. "Lalu, apa rencanamu selanjutnya?"


"Aku akan mengambil kesempatan ini untuk mendekatinya dan membuatnya menjadi milikku seutuhnya." sahutnya tersenyum penuh harap.


PLAKK!

__ADS_1


tapi tiba-tiba Sherly mengayunkan tamparan keras padanya tanpa terduga.


"Kakak, kenapa menamparku?" tanyanya heran, memegangi pipinya yang panas.


Sherly tersenyum sinis. "Aku hanya memintamu membuat keluarga mereka berantakan, bukan berarti kamu bisa memilikinya."


"Tapi kak, aku juga menginginkannya."


"Hei, lihatlah dirimu yang rendah ini! Kamu bahkan tidak tahu diri, ya? Kamu itu hanya anak dari simpanan Papaku. Jangan harap kamu bisa memiliki pria seperti Dedi untuk menjadi kekasihmu."


"Kakak, kenapa kamu jahat sekali? Meski begini, aku tetaplah adikmu."


"Cih!" Sherly beranjak dari duduknya, lalu melemparkan amplop berisi uang padanya. "Bukankah hanya ini yang kamu mau? Ambil lah!" ucapnya kemudian berbalik, berlalu pergi. Mengabaikan adiknya yang memanggil namanya berulang kali.


"Kakak, aku tetap akan melakukan apa yang aku mau."


****


Setelah Sefia beristirahat sejenak, ia kemudian bersiap diri untuk pergi kerumah sakit menjenguk anaknya.


"Rat, kalo kamu mau pulang gak apa-apa. Aku akan pergi kerumah sakit sekarang."


"Baiklah Nyonya." sahutnya tersenyum lega, mendapati majikannya itu sudah lebih baik dari sebelumnya.


Sefiapun kini berangkat menuju rumah sakit dengan supir pribadinya.


"Mana uangnya?" tanya Tedy kasar.


"Ini." memberikan amplop berisi uang pada pemuda itu. "Dan segera pergilah!" ucapnya, kemudian berbalik untuk berlalu pergi tetapi pemuda itu menahannya sembari menarik lengannya.


"Tedy, apa yang kamu lakukan? Lepas!" rontanya, ketika Tedy menariknya agar masuk kedalam mobil.


"Diam! Ikut aku!" bentaknya. Lalu mendorong tubuh Anggi memasuki mobilnya dengan paksa.


"Loh, itu bukannya Anggi?" Sefia kaget, yang dimana dirinya tak sengaja melihat Anggi diseret masuk kedalam mobil dengan paksa. "Pak, balik arah dan ikuti mobil itu." tunjuknya, memerintah.


"Baik Nyonya."


Segera mobil Sefia balik arah dan mengikuti mobil Teddy yang sedang membawa Anggi ke dalam suatu rumah, dan Sefia mengikutinya bersamaan dengan supirnya yang jelas mempunyai kemampuan perlawanan untuk bekal mendampingi majikannya.


"Tedy, Lepas!!" ronta Anggi sembari terisak.


Kemudian Tedy menyeretnya masuk kedalam kamar, lalu melemparkannya ke atas ranjang. Yang dimana sudah ada seorang pria tua gendut menyambutnya disana.


"Gimana cocok gak, Bos?" tanya Tedy pada pria tua itu.

__ADS_1


"Ya, ini sih cocok untukku."


Sontak Anggi membelalak kaget. "Tedy, apa kamu sedang menjualku sekarang?"


Teddy langsung mencengkeram kedua sisi pipi Anggi dengan satu jemarinya. "Sayang, aku hanya meminjamkan tubuhmu. Jadi, menurutlah!" ucapnya menyeringai.


"Tedy, kamu keterlaluan." teriaknya, pada Tedy yang sudah berbalik keluar kamar. "Dasar bergesekk! ******** kamu!!" umpatnya.


Dan umpatan itu menjadi rontaan keras, ketika pria tua itu mulai ingin memaksakan kehendaknya.


Disisi lain, saat Tedy baru saja keluar rumah. Ia langsung dihantam dengan tinju keras oleh supir pribadi Sefia, sehingga ia langsung terkapar dan supir itu mengunci kedua tangannya sebelum polisi datang untuk meringkusnya.


Sedangkan Sefia, bergerak cepat memasuki rumah dan langsung mendobrak pintu kamar.


Seketika ia kaget melihat pria tua itu tengah menindihh Anggi yang sudah lemah akibat ditampar dan dipukul sedari tadi olehnya agar menurut, dan memaksa melepas baju milik Anggi hingga robek.


Langsung saja Sefia memukul kepala pria tua itu dengan tas yang ia bawa. "Lepaskan Bajingann! Lepaskan!" teriaknya, sembari memukul pria tua itu.


Pria tua itupun mengaduh kesakitan, dan segera mengulingkan dirinya lalu beranjak menuju Sefia.


Seketika pria itu menatap bengis pada Sefia dan langsung mencekikk lehernya hingga tersudut kedinding.


Sefiapun mencoba untuk melepaskan diri tapi tak berarti karena tubuh pria tua itu lebih besar dan kuat.


Dalam hal terdesak itu, Sefia melirik vas bunga yang berada dinakas dan langsung menghantam kepala pria itu dengan keras sampai kepalanya luka berdarahh dan jatuh terkapar ke lantai.


"Uhuk, uhuk." Sefia mencoba mengatur nafasnya kembali, sebelum ia melangkah cepat menuju Anggi yang sudah setengah sadar.


"Anggi, sadarlah! Anggi." panggil Sefia berulang mencoba menyadarkan perempuan itu. Sefia juga mengelus wajah Anggi yang tampak lebam dengan iba.


Dengan berat, Anggi membuka matanya yang lemah dan samar-samar ia langsung melihat Sefia tengah menatap sembari memanggil namanya dengan panik.


Seketika Anggi beranjak duduk sembari menangis kencang, dan Sefia langsung memeluk tubuhnya yang gemetar dan ketakutan.


"Sudah, Tenanglah! Kamu sudah aman sekarang." ucap Sefia, memeluk perempuan itu.


Dan Anggi hanya bisa menangis hebat, tanpa mampu berkata.


****


Note : Pelakor itu ada ketika pria memberinya kesempatan untuk dirinya masuk.


Kamsamida :* Sorry Klo Author kadang suka kesel sama Hate Coment, karena suasana hati tidak tentu.


Kadang galau, kadang juga senang dan menganggap semua baik-baik saja. Jadi, wajar kalo Author suka sensian.

__ADS_1


Maapin yak :* Saranghaeyo :*


__ADS_2