SELINGKUH

SELINGKUH
AFFECTION : Berteman


__ADS_3

Kini bel istirahat berbunyi dan Desi langsung beranjak menghampiri Rian yang tengah memasukkan buku-bukunya kedalam tas.


"Hai." sapa Desi, berdiri sembari mengulurkan tangannya kedepan Rian. "Kenalin, aku Desi."


"Ah, iya. Tadi kan sudah kenalan." sahut Rian, menyambut uluran tangan Desi dan segera menariknya kembali.


"Ih, itu kan perkenalan kelas bukan pribadi." sahutnya tersenyum malu-malu. "Mau ke kantin, ga? Bareng yuk!" ajaknya.


Tapi Rian tak menghiraukan, ia malah melihat Yuda keluar kelas dan segera beranjak untuk mengikutinya. "Maaf, lain kali saja." sahut Rian sebelum berlalu pergi begitu saja.


"Ih, kok dicuekin sih." Desi menebalkan bibirnya, merasa kesal. "Tapi, gak apa-apa deh, yang penting udah pegangan tangan."


"Cie, yang baru aja kenalan." ledek dua temannya, Loli dan Mega, membuat Desi tersenyum malu.


Desi hanya bisa menggigit bibirnya dan tersenyum malu saja dibuatnya.


****


Rian tengah mengejar Yuda yang pergi entah kemana karena kehilangan jejaknya, sampai ia melangkah kelantai atas, lalu keatap gedung sekolahnya.


Tapi, bukan Yuda yang ia temui disana, tetapi segerombolan anak nakal yang tengah membully teman lainnya.


"Hei, kalian ngapain?" tanya Rian kaget, setengah membentak.


Merekapun menoleh. "Wah, ada yang sok jagoan kayaknya nih." sahutnya menyeringai. "Apa lo mau gantiin dia, hah?" menunjuk pada pemuda yang dibully.


Seketika Rian memundurkan langkahnya, tapi ia maju kembali karena tak ingin gentar untuk menghadapi tiga pemuda yang terkenal pembuat onar dikelasnya.


"Lepasin dia!" pinta Rian, membentak.


Seketika pemuda itu, ketua geng, menyunggingkan bibirnya dan langsung menarik kerah seragam milik Rian. "Sok jagoan lo, ya!" hendak langsung melayangkan tinju pada wajah Rian.


Tapi seketika seseorang tengah menimpuk kepalanya dengan penghapus bekas.


PLUKK!


"Akh." pekiknya, memegangi kepalanya yang sakit. "Kurang ajar! Siapa yang berani ngelempar penghapus ini ke gue, hah." teriaknya.


"Gue." sahut Yuda, datang dari balik dinding dengan tatapan tajamnya yang khas.

__ADS_1


Seketika tiga pemuda itu ciut, karena mereka tahu bahwa Yuda adalah anak yang terkenal karena keganasan dan perilakunya yang buruk.


"Ke..kenapa kamu ngelemparin kepalaku dengan penghapus bekas?" tanya pemuda itu, gugup.


Yuda tersenyum mengejek, bersindakap. "Apa gue perlu alasan untuk itu? gue suka."


Sontak ketiga pemuda itu langsung menunduk, tak dapat memprotes ataupun berkata apa-apa.


"Kenapa, hah? Kalian gak suka?" tanya Yuda kemudian.


"Enggak bos, kita suka." sahutnya cepat.


Yuda jadi tertawa sarkas. "Ha ha, baiklah. Kalo kalian suka. Suatu hari jangan salahin gue jika gue lebih suka menimpuk kepala kalian bertiga."


Seketika pemuda itu langsung takut dan gemetar.


"Aduh, kita salah ngomong." gumamnya gemetar.


"Pergi sana!" perintah Yuda membentak.


"Baik bos." tanpa banyak protes, ketiga pemuda itu pun berlalu pergi.


Rian menjadi lega, tanpa harus susah payah melawan ketiga pemuda tadi, ia sudah ditolong sekali lagi oleh Yuda.


Pemuda itu mengangguk kepalanya lemah. "Aku baik-baik saja, terimakasih atas bantuannya."


Rian menepuk bahu pemuda itu. "Sama-sama, kembalilah kedalam kelas tetapi lo harus ingat. Walaupun diri lo akan kalah pada akhirnya, jangan membiarkan diri lo yang gak bersalah menjadi tertindas, agar mereka tidak semena-mena lagi, Mengerti?"


Pemuda itu menatap Rian dengan nanar, lalu mengangguk. "Iya, aku akan mencoba untuk melawan mereka. Aku tidak mau menjadi lemah."


"Baguslah!" sekali lagi Rian menepuk bahu pemuda itu dengan bangga, sebelum ia berlalu pergi.


Rian kemudian menoleh, dan menghampiri Yuda yang tengah melihat pemandangan gedung-gedung dari atas atap.


"Terimakasih." ucap Rian, berdiri sebelah Yuda.


"Untuk apa?" tanya Yuda tanpa menoleh.


"Untuk tadi pas waktu loncat pagar dan juga barusan, lo udah nolong gue."

__ADS_1


"Gue gak ada niatan buat bantu siapapun, cuma kebetulan aja gue istirahat dan kalian malah ganggu."


"Tapi gue sendiri emang niat buat ketemu lo." ucap Rian kemudian.


"Hah?" Yuda menoleh, menatap Rian.


Kemudian Rian mengulurkan tangannya. "Boleh jadi teman, gak? Gue Rian."


Yuda menepis tangan Rian. "Udah tau."


"Baiklah! Jadi kita berteman ya?!." ucap Rian tersenyum sumringah.


Sedangkan Yuda tersenyum tipis, baru kali ini ia benar-benar ingin memiliki seorang teman karena ia merasa sangat cocok.


****


Disisi lain, Putri tengah duduk disalah satu bangku kantin yang kebetulan sangat ramai dan Putri beruntung memiliki bangku untuk ia gunakan. Ia kemudian membuka bekal makanan yang sudah dibawanya.


Tanpa permisi, Desi, Loli dan Mega duduk didepannya dan mengangganggunya.


"Hei kutu buku, siapa dah nama lo, ya? Gue lupa." tanya Desi.


"Pu...putri." sahutnya gugup.


"Oke Putri, bangku ini mulai sekarang milik gue dan lo harus pindah tempat! Bisa kan?" pintanya dengan nada ketus dan manja yang dibuat-buat.


"Tapi, ini kan putri yang lebih dulu duduk disini dan sudah gak ada bangku kosong lagi."


BRAK!!


Desi menghentakkan tangannya diatas meja, membuat Putri kaget dan meringis seketika. "Mau pindah atau enggak?" bentaknya.


"Baik kak." segera Putri merapikan kembali kotak bekalnya dan segera pergi ke kelas saja.


"Ah dasar, kutu buku." Desi dan teman-temannya tertawa penuh ejek pada putri yang melangkah pergi.


Putri hanya bisa menunduk sedih, ia bahkan tak dapat bergaul dengan siapapun karena ia adalah anak yang sangat pemalu.


Ia kemudian langsung melangkah pergi memasuki ruang kelas, dan segera melanjutkan makan siangnya.

__ADS_1


****


BANTU VOTE DONG!! Biar Author Rajin Update dan Crazy Upnya :* kamsamida


__ADS_2