SELINGKUH

SELINGKUH
AFFECTION : Gede Rasa


__ADS_3

Karena sudah mendapat ijin dari sang papi, Rian kini pergi ke sekolahnya naik motor seorang diri. Sedangkan Yuda menjemput gadis yang disukainya agar berangkat bersama dengannya karena satu arah.


Sampai diparkiran, Rian sudah menemukan Yuda dan Mega datang lebih awal.


"Ekhem, disekokahan nih." ledek Rian ketika melihat temannya sedang tersenyum sembari membuka helm yang dikenakan Mega.


Yuda menoleh. "Dih! Ada yang lagi iri nih." balas Yuda mengejek.


"Enggak ya." sahutnya enteng.


"Bentar lagi Desi ikut lomba matematika tingkat nasional loh." ucap Mega memberitahu.


"Satu sekolah udah tahu kali." sahutnya dingin.


"Ya kan siapa tahu kalo lo belum denger." dengusnya, kalau bukan pemuda itu disukai temannya pasti Mega sudah memukul kepalanya karena kesal. "Desi itu selain cantik juga pintar, idaman banget deh." ucapnya memuji.


"Kamu gak kalah cantik dan pinter kok." sahut Yuda berbisik dibelakang gadis itu.


Seketika Mega jadi memukul dadanya dan tersenyum malu.


"Perih mata gue pagi-pagi liat orang pacaran." ejeknya. "Gue ke kelas duluan!" pamit Rian, berbalik kemudian pergi meninggalkan kedua temannya itu.


"Dih! Bilang aja iri ya, kan?" teriak Mega jadi kesal.


Kemudian Yuda dan Mega saling bersitatap. "Yuk, ke kelas!" ajaknya.


Mega mengangguk. "Yuk!"


Saat sampai didalam kelas, Rian tak lagi disuguhkan oleh penyambutan gadis heboh itu lagi, Desi.


"Dia beneran ikut lomba matematika tingkat nasional?" gumamnya, tersenyum tak percaya. Juga terselip rasa bangga dihatinya.


Beberapa saat kemudian, setelah bel masuk berbunyi, wali kelas meraka pak Alvin segera memasuki kelas.


"Selamat pagi anak-anak?" sapanya.


"Selamat pagi juga pak." sahut Mereka serempak.


"Kalian pasti sudah tahu kabar bahwa salah satu murid di sekolah kita, yang pasti teman sekelas kalian sedang mengikuti lomba tingkat nasional." ucapnya dengan bangga. "Sebentar lagi lombanya akan dimulai dan mari kita menyaksikannya bersama untuk mendukungnya."


Murid di kelas pun kompak setuju, juga merasa bangga juga dengan temannya itu. Mereka tidak menyangka bahwa Desi yang berisik itu adalah salah satu murid yang sangat pintar.


"Ha ha gak nyangka banget ya si Desi." gumam mereka berbisik.


Dan kini mereka pun tetap diam duduk dibangku masing-masing, duduk santai sambil menyaksikan siaran langsung lewat televisi besar yang sudah disediakan.


Disana Desi terlihat sangat mengagumkan, menjawab pertanyaan demi pertanyaan dengan benar.


Teman-temannya yang ikut menyaksikan juga ikut menjadi tegang.


"Ini adalah babak terkahir, siapa yang dapat menjawab pertanyaan ini dengan cepat dan benar. Maka akan menjadi juaranya." ucap pembawa acara.

__ADS_1


Desi dan lawannya itu pun bersiap diri.


"Pertanyaannya adalah fungsi g : R → R ditentukan oleh g (x)\= x² - 3x + 1 dan f : R → R sehingga ( f ○ g ) (x) \= 2x² - 6x - 1. Maka f(x) adalah? Jawab selama tiga puluh detik mulai sekarang!"


Desipun segera menghitungnya dengan cepat, dan dalam hitungan belum sampai tiga puluh detik, ia langsung memencet tombol untuk menjawab pertanyaannya.


"Baik, saudara Desi. Jawabannya adalah?"


"2x - 3." sahutnya dengan lantang.


Sejenak pembawa acara itu melirik jawaban yang ada dilembaran buku yang ia pegang. "Ya, jawabannya ... benar 2x - 3."


Sontak Desi meloncat senang dan kegirangan. Begitu pun dengan teman sekelasnya yang tengah menontonnya bersama. "Whoa, Desi kamu keren!" puji mereka tepuk tangan, merasa bangga.


"Selamat! Anda menjadi juara pertama lomba matematika tingkat nasional tahun ini."


"Terimakasih." sahutnya, menunduk memberi hormat ketika ia menerima piala kemenangannya.


Dan kamerapun mengarah padanya. "Rian!" teriak Desi kegirangan. "Calon pacar masa depan, i love you. Aku menang ye ye ye."


Sontak teman-teman yang melihat kelakuan Desi itu jadi bersorak dan tertawa, membuat Rian menunduk dan menyembunyikan wajahnya karena begitu malu.


"Astaga! Cewek itu." Rian jadi malu sendiri.


Mega dan Loli juga tak kalah hebohnya. "Ha ha dasar ya si Desi, bukannya ucapin terimakasih sama bapak ibu guru. Eh, malah mikirin Rian."


"Ha ha, dasar cewek bar - bar."


****


"Rian. Tunggu! Tunggu!" pinta Desi, berlari sembari terengah-engah.


Rian membuka kaca helmnya, mengerut kening bingung dengan kelakuan gadis itu. "Lo kok balik kesini? Udah jam pulang juga." tanyanya heran.


Desi mencoba melebarkan senyumnya walau ia masih terengah-engah. "Aku gak bisa kalo gak liat kamu sehari aja." sahutnya, membuat Rian geleng kepala.


Pasalnya Desi mengikuti lomba diluar kota, jadi dia dapat kompensasi untuk tidak masuk sekolah, tapi ia malah berlari datang ke sekolah lagi walau sudah waktunya pulang hanya untuk bertemu dengan Rian.


Kemudian dengan tiba-tiba Desi langsung naik keatas motor Rian, lalu memeluk erat pinggang pemuda itu.


"Des, lo ngapain?"


"Gak usah banyak tanya! Jalan aja, antrin calon pacar dan calon istri idaman ini pulang!" pintanya tak dapat ditolak.


"Yaelah, lo kan gak pake helm."


"Udah, tenang aja! Gak akan ada polisi." sahutnya enteng.


Dengan berat, Rian pun melajukan kendaraannya untuk mengantar Desi pulang, tetapi sampai ditengah perjalanan dugaan Rian benar.


Polisi lalu lintas tengah menghadangnya, Kemudian Rian meminggirkan kendaraannya dan mereka berdua pun segera turun.

__ADS_1


"Maaf, surat-suratnya bisa diperlihatkan? Anda kami tilang karena teman Anda menyalahi aturan."


Seketika Rian jadi bingung, dan Desi yang menyuruh Rian tadi tenang hanya memasang senyum bersalahnya.


"Maaf pak, saya lupa bawa surat-surat kendaraan." sahut Rian, bingung.


Dan polisi terpaksa menyita motornya, hingga mereka berdua akhirnya memilih pulang menggunakan Bus way.


"Rian, maaf ya? Aku gak tau kalo bakal jadi gini." ucap Desi sembari mengguncang lengan pemuda itu, pasalnya Rian duduk memejamkan matanya menahan kesal. "Kalo kamu diemin aku gini, aku bisa nangis loh." ancamnya dengan enteng.


Mendengar itu, membuat Rian tak bisa untuk tidak tertawa. "Lo aneh banget sih Des, kalo mau nangis ya nangis aja! Kenapa harus bilang-bilang kayak anak kecil aja."


"He he, sorry ya? Gara-gara aku."


"Udah, gak apa-apa kok. Nanti gue ngomong ke papi soal ini." sahutnya tenang.


Seketika Desi memeluk lengan Rian. "Aduh, makacih cayang. Baik deh!"


Rian hanya diam, duduk bersindakap merespon kelakuan gadis itu yang sudah menjadi kebiasaan.


"Kamu gak mau ngasih aku ucapan selamat? Aku menang lomba tingkat nasional loh. Cocok deh buat didik anak-anak kita nanti biar pinter."


"Jangan kebanyakan ngayal Des!" sahutnya, menjitak dahi gadis itu hingga ia mengaduh.


Desi menepuk bahu Rian kesal. "Ih, sakit tahu. Kamu tuh gak tau aja tadi itu aku tegang banget."


"Ya, terus? Kayaknya lo jawabnya lancar-lancar dan bahkan sempat bikin aku malu di akhir acara deh."


"He he." Desi tersenyum malu, dengan wajah tengilnya itu. "Tadi itu aku sempat buntu kepala, tapi tiba-tiba aku ingat wajah kamu jadi karena itu aku bisa jawab semua pertanyaan itu dengan mudah."


Seketika Rian jadi terkejut, masa gadis itu menyukainya sampai begitunya. Lebih lagi dirinya bisa menjadi penyemangatnya. "Gak, kamu bohong!"


"Gak kok, beneran. Sumpah! Serius." sahut Desi seraya meyakinkan.


Membuat Rian jadi merona dan tersenyum malu.


"Tapi bohong." ucap Desi meneruskan. "Ha ha ha."


Sontak Rian jadi memasang wajah kesal, mencoba memalingkan muka keluar jendela.


"Duh, tadi kamu GR ya? Kamu senyum-senyum, ya?" mencoba melihat wajah pemuda itu agar kembali bersitatap tapi Rian menghindarinya karena malu. "Ha ha, jadi kamu ngarepin aku inget kamu terus nih?" godanya.


"Enggak." sahutnya, masih menghindar.


"Ha ha, ngaku aja deh." Desi jadi terkikik geli, dan Rian jadi gemas sendiri.


"Dasar ya!" Rian kemudian langsung mencubit kedua pipi Desi dengan gemas. "Awas nanti lo ya!"


Desi jadi melebarkan senyumnya, kemudian memeluk lengan pemuda itu lagi.


****

__ADS_1


Kamsamida :*


__ADS_2