
Sefia tengah duduk santai disalon kecantikan miliknya, sembari menerima panggilan telefon dari suaminya.
"Jadi Rian gak langsung pulang, mi?" tanya Dedi diseberang.
"Gak pi, dia minta mami buka salon. Katanya mau langsung kesini." sahut Sefia dengan heran.
"Mungkin mau perawatan kali, mi."
"Ah, enggak lah! Tapi bisa juga sih, jaman sekarang cowok kan gak mau kalah kalo soal perawatan. Biar tambah ganteng."
Mendengar itu, membuat Dedi sejenak jadi terdiam.
"Pi, papi masih disana? Kok ga ada suaranya."
"Hm, papi lagi mikir nih." sahutnya kemudian.
"Mikir apa, sayang?"
"Jangan-jangan mami juga nerima pelanggan pria juga, ya?" tuduhnya. "Jangan sampek deh! Jangan! Pokonya jangan sampek!" tegasnya, membuat Sefia berdecak.
"Belum juga mami jawab." dengusnya sebal. "Disini cuma terima pelanggan perempuan doang kok, lagian yang kerja juga bukan mami."
"Ah, baguslah! Jangan sampek bikin papi cemburu aja!" ucapnya dengan nada ancaman.
"Emang kenapa kalo papi cemburu?" tantangnya, bercanda.
"Papi ratakan tuh salon, sekalian sama prianya papi kubur didalam."
"Astaga! Jahatnya, ha ha." Sefia malah tertawa.
"Ck. Gak pernah serius." decak Dedi sebal, membuat Sefia semakin tertawa dibuatnya.
"Ha ha maaf sayang, lagi ngebayangin gimana cemberutnya wajahmu. Lucu pasti." sahutnya masih tertawa.
Dedi menghela nafas, menahan kesal dengan kelakuan istrinya yang tak pernah serius.
Lalu akhirnya Rian pun datang membawa seorang teman yang sedang diboncengnya.
"Rian udah dateng, pi. Mami tutup telponnya dulu ya?"
"Oke mi, kalau ada apa-apa jangan lupa hubungi papi."
"Iya sayang, pasti." sahutnya, lalu mematikan sambungan teleponnya.
__ADS_1
Sefia kemudian beranjak dari duduknya dan segera keluar untuk menemui anaknya.
"Hai mi." sapa Rian, mengecup kedua pipi maminya.
"Hai tante." sapa Putri juga kemudian.
"Hai! Ya ampun, ternyata Rian ngajak Putri kesini." ucap Sefia tersenyum senang, lalu merangkul Putri untuk masuk kedalam. "Yuk! Masuk."
"Rian pengen ngomong sama mami." pinta Rian kemudian.
Sefia menoleh. "Mau ngomong apa, sayang?"
"Gini." mendekatkan bibirnya disisi telinga maminya. "Tolong rubah penampilan Putri! Biar cantik kayak mami." pintanya berbisik.
Sefia jadi menahan tawa. "Baiklah! Mami usahakan ya?"
Rian mengangguk cepat. "Makasih mi." mengecup pipi maminya.
"Iya sama-sama."
Sefiapun menyuruh pekerjanya untuk segera melakukan perawatan pada Putri, dari ujung kaki sampai ujung rambut, dan Putri hanya terdiam saja menuruti apa yang diperintahkan Sefia padanya.
Sedangkan Rian duduk tenang diruang tunggu.
****
Rian mengangkat alisnya, meremehkan perkataan maminya. Tapi kemudian ia melebarkan matanya ketika melihat Putri sudah tidak seperti biasanya.
Rambutnya terurai, memakai makeup natural yang cocok untuk anak seusianya. Bukan hanya itu, Sefia sengaja memesan dress untuk menunjang penampilannya.
"Taraaa! Cantik, kan? Udah cocok nih kalian kalo mau kencan." ucap Sefia bercanda, membuat Putri menunduk malu dan Rian merona merah diwajahnya.
Rian mengangguk. "Cantik." pujinya, lalu berpikir sejenak dan langsung beranjak berdiri menarik lengan Putri untuk mengikutinya.
"Mau kemana, kak?" tanya Putri, bingung.
"Udah diem! Ikut aja!" sahutnya tak bisa dibantah.
"Aduh Rian, udah gak sabaran mau kencan nih!" ledek Sefia.
Rian hanya tersenyum untuk menanggapinya, lalu mengecup kedua sisi pipi maminya sebelum pergi. "Makasih mi, Rian pergi dulu bentar."
"Iya, hati-hati ya!"
__ADS_1
Segera Rian memakaikan helm untuk Putri kenakan, lalu segera melajukan motornya ke Optik.
"Kita ngapain kesini, kak?" tanya Putri, heran.
"Lo kan udah dandan cantik gini! Jadi gak bagus kalo lo pake kacamata tebal, kita pesen kontak lensa aja." sahutnya, menggenggam jemari Putri agar berjalan masuk bersamanya.
Tanpa Rian sadari, Putri jadi kaget ketika jemari mereka saling menyatu dan Putri tak hentinya menatap pegangan itu.
Entah apa yang dirasakan, Jantung Putri jadi berdebar tak karuan. Mungkin karena ini kali pertamanya ia keluar dan bergandeng tangan dengan seorang pria, kecuali papanya sendiri.
"Tolong berikan kontak lensa yang sesuai dengan matanya!" pinta Rian pada salah satu pelayan.
"Baik mas."
Putri melakukan pengecekan pada matanya, lalu memilih kontak lensa yang sesuai. Setelahnya ia langsung mengganti, mencopot kacamata yang dipakainya itu.
"Coba sini aku lihat!" ucap Rian, memegangi kedua sisi wajah Putri dan menatap wajah gadis itu lamat-lamat. "Cantik." pujinya kemudian, membuat Putri jadi merona.
Rian kemudian mengacak rambut Putri dengan gemas. "Udah cantik gini, temen gue pasti gak bakalan nolak lo." yakinnya pada gadis didepannya.
Putri jadi tersenyum miris. "Iya kak." sahutnya lemah.
"Udah yuk! Gue langsung anterin lo pulang." ajaknya kemudian.
Dan Rian langsung mengantarkan Putri kerumahnya, dan tak lupa setelah Putri turun dari motornya. Rian membantu Putri untuk melepas tali pengaman dan membukakan helmnya.
"Makasih ya, kak." ucap Putri tersenyum penuh syukur.
"Iya, sama - sama." sahutnya membalas senyum. "Lo kan udah cantik gini, jadi besok lo harus bisa memberanikan diri buat deketin Yuda. Dia anak yang baik kok."
Putri mengangguk. "Iya kak, Putri akan berusaha agar lebih dekat dengan kak Yuda."
Rian mengacak rambut Putri, yang sudah menjadi rutinitasnya ketika berbicara dengan gadis itu. "Baguslah! Aku pergi dulu."
Putri mengangguk. "Hati-hati dijalan." ucapnya melambaikan tangan.
Senyuman lebar yang tersungging itu lama - lama menjadi pasi. "Kok perasaanku jadi gini, sih?"
****
TERIMAKASIH ATAS SEGALA DUKUNGAN KALIAN.
Tolong terus Vote yah :*
__ADS_1