SELINGKUH

SELINGKUH
AFFECTION : Sebuah Kebohongan


__ADS_3

Yuda langsung datang kerumah Putri, ia mengetuk-ngetuk pintu tetapi tidak ada satu orangpun yang menjawabnya.


Ia kemudian mencoba ke pagar samping rumah Putri, menatap jendela kamar Putri yang dimana jendelanya tertutup tirai.


"Dia kemana?" gumamnya kesal.


Karena ia tak menemukan siapapun dan rumahnya tampak sepi, Yuda memutuskan untuk kembali tetapi saat ia hendak berbalik badan, ia menemukan seseorang mengintip melalui jendela kamar milik Putri.


Akhirnya Yudapun kembali ke pintu utama lalu menggendor-gendor pintu.


"Buka!" teriaknya. "Buka atau aku akan mengatakan semua kebohonganmu." ucapnya masih menggendor-gendor pintu.


Mendengar ancaman itu, Putri kemudian terpaksa membuka pintu rumah untuk Yuda masuki.


Seketika Yuda langsung menarik lengan Putri dan mencengkramnya dengan kasar. "Apa maksudmu mengatakan hal itu, hah?" bentaknya.


Tapi Putri tak menjawab, ia malah memberikan tatapan nanar padanya.


Melihat kondisi Putri, seketika Yuda jadi melepas cengkramannya lalu mengusap kasar wajahnya.


"Sekarang jelaskan padaku! Kenapa kamu malah menuduh Rian yang melakukan hal kejam padamu?"


Sontak Putri tertawa frustasi, sudah gila rasanya. Setelah puas, ia pun memasang wajah seriusnya. "Memangnya kenapa? Bukankah kamu sendiri yang mengatakan padaku kalau semua itu kesalahan Rian?"


Yuda kemudian mencengkeram kedua sisi pundak Putri, sedikit mengguncangnya. "Kamu tahu betul, bukan itu maksudku."


Putri menepisnya, memundurkan langkahnya. "Ini memang semua kesalahannya! Andai saja dia datang dan tidak mempermainkan perasaanku, semua ini tidak akan terjadi. Aku tidak akan bertemu dengan pria brengsek itu." teriaknya menangis histeris. "Ini semua gara-gara dia yang tidak mau membalas perasaanku, dia mempermainkanku. Aku membencinya." ucapnya menggebu dalam tangis.


"Kamu benar-benar gila!" umpat Yuda.


Putri mengangguk. "Iya, aku benar-benar sudah gila! Aku bahkan ingin mati saja rasanya. Aku benar-benar ingin mati saja." teriaknya pada Yuda.


"Cih! Rian seharusnya sangat bersyukur karena dia waktu itu tidak datang dan menemui gadis buruk sepertimu."


"Kenapa, hah? Apa karena aku ini sudah kotor? Aku begini juga karena dia."


"Cih!" Yuda mendecih, tidak tahu harus mengumpat apalagi pada perempuan didepannya ini.


"Duniaku benar-benar sudah hancur." ucapnya, bahkan duduk terkapar dilantai sambil terisak hebat.

__ADS_1


"Aku akan memberitahu semuanya." ucap Yuda berbalik ingin pergi, tetapi Putri langsung memeluk kakinya.


"Jangan! Ku mohon." ucapnya dalam tangis. "Apa kamu tidak berbelas kasih padaku? Aku sudah hancur seperti ini, dan ketika mereka tahu aku sudah berbohong maka mereka semua akan mencaciku."


"Lalu, apa kamu tidak memikirkan Rian yang sedang mendapat komentar jahat dari orang-orang? Kamu benar-benar keterlaluan."


"Itu bukan salahku! Itu juga salahmu yang mengatakan kalau ini semua terjadi karena Rian. Apa kamu lupa kalau orangtuanya yang telah membunuh mamamu? Kamu sendiri yang mengatakannya padaku."


Seketika Yuda tak mampu berkata-kata, ia mengepalkan tangannya dengan kesal.


Ia sangat ingat betul kebencian mendalamnya, lebih lagi kondisi Putri sudah terpuruk. Dia jadi dilema.


Yuda kemudian memilih memundurkan langkahnya, lalu berbalik pergi tanpa suara.


"Tolong aku!" teriak Putri penuh harap pada Yuda yang meninggalkannya.


****


Disisi lain, Sefia dan Dedi datang menemui kedua orang tua Putri yang sudah mengatur tempat untuk berbicara membahas kasus anaknya


Mereka kemudia menundukkan kepala, memberikan salam pada Aldy dan Nadin yang berasa didepan mereka.


"Aldy, Nadin. Tolong beritahu kami apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Sefia dengan nada kelembutan.


Sefia kaget, menutup mulutnya yang menganga. "Jadi itu benar, tapi bagaimana bisa kalian menuduh anak kami yang melakukannya?"


"Lalu siapa lagi?" tanya Nadin dengan matanya melotot. "Putri sendiri yang memberitahu kami."


Sefiapun tertegun dan tangannya gemetar. Ini lebih buruk dari mimpi buruk, pikirnya.


"Tapi Nad, kamu tahu sendiri kalau anakku tidak mungkin melakukan hal rendah seperti itu." Sefia mencoba meyakinkan. "Rian tidak mungkin melakukannya."


"Jadi kamu menuduh anakku lah yang berbohong?" tanyanya, meninggi.


Segera Sefia menggelengkan kepala. "Nad, tolong dengarkan kami." ingin mencoba memegang tangan Nadin tapi ia menepisnya.


"Al, kapan hal buruk itu terjadi?" tanya Dedi pada sahabatnya itu.


"Itu terjadi pada hari rabu sore, waktu itu Rian mengajak Putri untuk bertemu ditaman."

__ADS_1


Seketika Dedi jadi teringat. "Tapi Al, ketika Rian pulang dia mengatakan bahwa dia tidak bertemu dengan anakmu."


"Apa kamu juga sudah menuduh anakku berbohong?" tanya Aldy dengan nada kecewa.


"Bukan seperti itu, tetapi kita harus mengungkap kebenarannya. Kita harus mencari siapa pelaku sebenarnya."


"Aku sudah yakin ketika Putri mengatakan kalau semua itu perbuatan Rian."


Mendengar itu, Sefia langsung duduk tersipu. Merendahkan dirinya untuk memohon. "Tolong ijinkan kami menanyakannya langsung pada Putri! Aku yakin ini hanyalah ke salah pahaman." ucapnya terisak.


"Kamu gila! Anakku bahkan mengalami kecemasan yang berlebihan, kamu hanya akan membuatnya semakin sulit." sahut Nadin dengan sarkasnya.


"Sayang." Dedi memegangi kedua sisi lengan istrinya, menuntunnya untuk berdiri tetapi Sefia menolaknya.


"Aku mohon pada kalian, ijinkan aku bertemu dengan anakmu."


"Tidak!" sahut Nadin membentak. "Anakku terpuruk, dia terpuruk Sefia." ucapnya mengeram.


"Kamu pikir anakku juga tidak terpuruk?" Dedi menyahut. "Rian bahkan sekarang berada diambang kematian, ia hanya memiliki kecil kemungkinan untuk sadar dan kembali normal. Ini adalah ujian bertubi bagi kami, kami harus meluruskannya."


Aldy malah mencengkram krah baju Dedi. "Apa kamu pikir kami tidak sedang dihadapi dengan ujian sulit, hah?" teriaknya. "Anakmu yang brengsek itu pantas mati." umpatnya.


Dedi jadi meneteskan air matanya ketika mendapat umpatan jahat dari sahabatnya sendiri. "Al, kamu itu keterlaluan." ucapnya lemah, kecewa begitu dalam padanya.


Aldy jadi mengusap kasar wajahnya penuh frustasi, tak tahu harus bagaimana.


"Jika Rian tidak bertemu dengan Putri, dia pasti akan datang kerumahmu untuk mencarinya." ucap Sefia teringat. "Anakku pasti kerumahmu kan, Nad?"


Seketika Nadin jadi membelalak dan tertegun, ia ingat betul bahwa Rian waktu itu datang kerumahnya untuk mencari anaknya, Putri. "Aku tidak pernah bertemu dengannya waktu itu, aku hanya melihat anakku pulang dengan kondisi yang tidak bisa aku jelaskan lagi."


Sefia menggelengkan kepalanya sambil terisak. "Gak! Gak mungkin Nad. Kamu mungkin salah, mungkin waktu itu Rian kesana tapi tidak bertemu denganmu." Sefia mencoba meyakinkan dan ingin memegang jemari Nadin tapi lagi-lagi ia menepisnya.


Nadin menoleh pada Aldy. "Mari kita pulang!" pintanya.


Dan merekapun berbalik melangkah pergi meninggalkan Sefia yang masih duduk tersipu, bahkan Dedi yang masih tertegun dengan lontaran kasar itu.


"Apa mama yakin kalau Rian tidak datang kerumah waktu itu?" tanya Aldy pada istrinya.


"Aku tidak membutuhkan penjelasan apapun, aku hanya mempercayai apa kata anak kita." sahutnya tegas, mengusap air mata yang mengalir dipipinya.

__ADS_1


****


Kamsamida :* Selamat Liburan.


__ADS_2