SELINGKUH

SELINGKUH
AFFECTION : Toko Bunga


__ADS_3

Sefia tengah menemani anaknya, Rian.


memegang jemarinya lalu ia kecup dan ia tempelkan di pipinya.


"Sayang, kamu harus kuat ya! Kamu harus segera sadar."


"Kamu tahu gak? Disini mami dan papi berusaha tetap kuat! Selalu berusaha tegar demi kamu. Jadi Rian juga yang semangat ya!"


Sefia mengecup kembali jemari anaknya, memberikan senyum pilu untuknya.


"Kalau bisa memilih, mending mami aja yang sakit, Nak! Kasih mami aja sakitnya."


Tiba-tiba Dedi memeluk istrinya dari belakang. "Kasih papi aja." sahutnya, membuat Sefia melebarkan senyumnya.


Sefia berbalik menghadap suaminya, Dedi menangkup kedua sisi pipi istrinya lalu mengecup kening dan bibirnya sebelum ia memeluknya erat.


"Mungkin ini sudah telat, tetapi.. Selamat ulang tahun ya Sayang." ucap Dedi pada Sefia.


Mendengar itu, lagi-lagi ia menenggelamkan wajahnya di dada suaminya.


Dedi mengelus punggung istrinya guna memberikan ketenangan untuknya.


Tok Tok Tok.


Terdengar suara ketukan pintu, dan Dedi segera membukanya. Sementara Sefia memalingkan wajahnya lalu menghapus air matanya dengan cepat.


"Mama." sapa Dedi, tapi Imel tak menghiraukan.


Imel langsung menerobos masuk dan menangis melihat Rian seperti itu. "Bagaimana cucuku bisa seperti ini." ucapnya sembari terisak.


"Mama." Sefia memegang kedua lengan mertuanya, merangkulnya. "Rian pasti akan sembuh kok." yakinnya.


Imel kemudian berbalik, memeluk Sefia sambil menangis. "Kamu yang tabah ya sebagai orangtua, ini adalah sebuah ujian."


Sefia mengangguk. "Iya ma." sahutnya, terasa sesak di dada.


Dedipun tak mampu berkata apa-apa melihat dua wanita yang berada di depannya.


Sebelum kemudian, ia mendapat panggilan telefon dari Asisten pribadinya, Erfan.


Dedi memilih mengangkat panggilan telefon diluar kamar. "Bagaimana?"


"Saya sudah berada dilokasi, dan CCTV di taman sudah lama rusak dan tidak diperbaiki." sahutnya diseberang.

__ADS_1


Dedi menghela nafas berat, mengusap kasar wajahnya. "Coba kamu periksa semua CCTV sekitar taman, kita harus menemukan petunjuk."


"Baik pak." sahutnya, dan Dedi mematikan sambungannya.


Dedi memilih duduk diluar kamar, untuk menenangkan kepalanya yang terasa berat.


Sementara Sefia kemudian menyusulnya keluar kamar, dan duduk disebelah suaminya. "Bagaimana pi? Tadi itu panggilan telfon dari Erfan, kan?"


Dedi mengangguk. "Erfan bilang, CCTV ditaman rusak jadi kita belum menemukan petunjuk." sahutnya.


Seketika Sefia langsung beranjak berdiri, kembali ke kamar untuk mengambil tas lalu pergi begitu saja.


Dedi mengejar istrinya, mencoba menggapai tangannya tapi Sefia menepisnya. "Mami mau kemana?"


"Aku akan cari tahu sendiri. Aku gak bisa berdiam diri terus seperti ini." sahutnya meninggi dengan tatapan nanar.


"Tapi mami lagi hamil, mami gak boleh kecapek'an."


"Enggak, pokoknya aku akan memastikan sendiri! Sekecil apapun itu, kita pasti menemukan petunjuknya." ucapnya menggebu. "Kalau bukan kita yang membela Rian, kalau bukan kita yang percaya Rian, lalu siapa lagi? Aku gak terima jika anakku disalahkan padahal bukan dia pelakunya."


Sefia berbalik lagi untuk pergi, Dedi tentu mengejarnya lagi. "Kita bersama-sama." ucapnya, menarik tangan istrinya untuk mengikutinya. Menuntun masuk kedalam mobil dan berangkat bersama.


"Arahkan mobil ini kerumah!" pinta Sefia.


"Mari kita ke taman! Kita mengikuti arah jalan Rian untuk mencari petunjuknya."


Dedipun dengan pelan melajukan mobilnya, dan Sefia mengedarkan penglihatannya untuk mencari petunjuk apapun itu.


"Anakku pasti datang menemui Putri, tetapi semua terjadi kalau Rian datangnya sedikit terlambat. Ya, Rian pasti datangnya terlambat." tebak Sefia dengan yakin.


Lalu laju kendaraan berhenti dilampu merah, Sefiapun tak sengaja melirik sebuah toko bunga dan tentu ia memikirkan itu.


"Kepinggir, pi!" pintanya.


"Hah, apa mi?" Dedi kurang jelas karena Sefia mendadak.


"Kepinggirkan mobil kita, kita coba tanya di toko bunga."


Dedipun memarkirkan kendaraannya dan segera masuk kedalam toko bunga.


"Permisi." sapa Sefia dan Dedi memasuki toko bunga, mengedarkan penglihatannya mencari CCTV yang terletak di toko bunga ini.


Sefia tersenyum ketika menemukannya.

__ADS_1


"Iya Nyonya, Tuan. Ada yang bisa saya bantu?" tanya pemilik toko bunga itu.


"Mohon maaf sebelumnya kalau kedatangan kami kemari bukan untuk membeli bunga, tetapi kami kemari untuk mencari tahu sesuatu mengenai anak kami." sahut Sefia menjelaskan.


"Maaf kalau kedatangan kami menggangu aktifitas Tuan." sambung Dedi.


Pemilik toko itu bingung, masih belum mengerti. "Tidak masalah Nyonya, Tuan tetapi saya belum mengerti maksud kalian."


"Kedatangan kami kemari untuk mencari tahu, apakah anak kami datang kemari untuk membeli bunga untuk kekasihnya. Ada kejadian buruk yang menimpa anak kami, maka dari itu kami ingin mencari tahu sesuatu mengenainya."


Pemilik toko itupun menatap lamat-lamat wajah Dedi dan Sefia yang tampak tak asing. "Apa anak Tuan dan Nyonya seorang pemuda tinggi, berkulit putih dan mempunyai senyum menawan?" tebaknya.


Sefia langsung mengangguk cepat. "Anda mengenalnya? Apakah dia datang kemari?"


Pemilik toko itu mengangguk. "Saya ingat betul pada hari rabu kemarin." Sefia dan Dedi saling tatap penuh harapan. "Pemuda itu membeli setangkai bunga mawar merah darah, dia tidak mengatakan kepada saya bunga itu untuk siapa tetapi tatapannya yang berbinar dengan seulas senyuman penuh harapan, mengingatkan saya pada masa muda dahulu. Maka dari itu saya masih mengingatnya."


"Kalau begitu, apakah kami boleh melihat CCTV Tuan untuk lebih memastikannya?"


Pemilik toko itupun mengangguk. "Tentu boleh." sahutnya.


Merekapun segera melihat hasil CCTV bersama dan tentu itu benar-benar Rian, meskipun ini bukanlah bukti yang mampu mengungkap kebenarannya tetapi setidaknya Dedi dan Sefia menemukan titik terangnya.


"Anakku." lagi-lagi Sefia menatap nanar ketika melihat senyuman anaknya dengan jelas seperti itu.


****


Sementara itu Yuda tengah berdiri di anak tangga, memutar bola matanya jengah.


"Yud, papa ada urusan penting mendadak. Kamu bisa gak anterin nenekmu kerumah sakit? Dia lagi sakit. Papa minta tolong ya!" pinta Angga.


"Tapi pa..."


"Minta tolong, Yud!" ucap Angga sekali lagi, kemudian ia benar-benar pergi tanpa mendapat jawaban dari anaknya.


"Hah! Bikin males aja." gumamnya berbalik untuk menemui wanita tua yang dibencinya tersebut.


****


Kamsamida :* Maaf ya, Kalo emosi kalian akan naik turun, asal gak darah tinggi kan, ya?he he.


Novel ini pasti yang dimainkan perasaan dan pasti ada jawaban untuk setiap permasalahan :)


Boleh kalian kesel sama pemeran, bisa juga kesel sama Author he he Maapin yak :* kapan lagi kan baca Novel yang gak nge-Bucin mulu?wkwk.

__ADS_1


Tolongin LIKE dan Komen, kalau bisa POIN yak :* Biar bisa Crazy UP.


__ADS_2