
Dedi duduk di Meja makan, menunggu untuk sarapan.
"Rian mana mi, kok belum keluar kamar?" tanya Dedi pada istrinya yang tengah menata piring berisi menu sarapan mereka.
"Ya biasa, lagi mandi pi. Dibangunin dari tadi susah bener." sahut Sefia.
Tak lama kemudian, Rianpun segera turun dan tengah selesai mengenakan seragam lengkapnya.
"Sorry, udah buat papi nunggu he he." ucap Rian, sembari duduk disebelah papinya.
Dedi mendengus. "Jangan kebiasaan bangun dalan waktu yang mepet! Belajarlah dispilin, jangan kayak mamimu."
"Loh kok mami, sih?" sahut Sefia, ikut duduk bersama.
"Kan iya, mirip mami banget waktu sekolah dulu. Sukanya dateng telat sampek rebutan gerbang sekolahan dengan satpam."
Sontak Rian tertawa tapi segera ia tahan ketika melihat sang mami sudah melotot. "Papi fitnah aja! Gak pernah, aku gak pernah telat."
"Dih, ngeles! Emang bener kok." Dedi menoleh pada anaknya. "Jadi, kamu gak boleh ikut kebiasaan buruk mamimu. Gak baik untuk masadepanmu."
Rian hanya mengangguk, tak ingin menyahut karena ia tahu bahwa kedua orangtuanya akan melakukan keributan kecil layaknya anak-anak diusianya yang matang.
"Sekarang aja, papi yang selalu bangun duluan buat bangunin mami dipagi hari." ucap Dedi meneruskan.
"Lah, gimana mami mau bangun pagi kalo malamnya dibikin capek." sahutnya asal, lalu langsung menutup mulutnya.
Seketika perhatian Dedi dan Sefia tertuju pada Rian yang hanya melongo dan menatap bingung.
"Maksud mami, papimu kalo malem suka nyuruh mami bersih-bersih kamar sebelum tidur, makanya capek." ucap Sefia cepat, gelagapan. "Iya kan, pi?"
"Iya mamimu benar." sahut Dedi tertawa canggung.
"Ooh." sahut Rian, mencoba menelaah. "Yaudah deh, Rian mau berangkat sekolah dulu. Takut telat." pahitnya kemudian.
__ADS_1
"Oke Nak. hati-hati bawak motornya! Jangan ngebut-ngebutan dijalan."
"Oke siap bos." sahut Rian, melambaikan tangan dan segera mengendarai motornya untuk berlaju ke sekolah.
Saat Rian dipastikan sudah berlalu pergi, seketika Sefia memukul dada bidang milik suaminya. "Gara-gara papi, ih! Hampir aja menodai kepolosan anak kita."
"Loh kok gara-gara papi sih?! Yang ngomong gak dikontrol kan mami."
"Itu juga gara-gara papi tahu! Udah deh, kita absen dulu kalo gitu." sahut Sefia kesal, bersindakap.
Tapi Dedi segera menariknya, masuk lagi kedalam. "Gak boleh lah! Harus usaha terus biar cepet jadi, yuk!" ajaknya kemudian seraya menggoda.
"Ih, papi."
****
Disisi lain, Putri buru-buru bersiap diri. Berlari ke halte dekat rumahnya untuk ikut bus terakhirnya tapi sayangnya ia telat dan kebingungan.
kondisi jalan juga masih sepi, tak banyak taxi beroperasi. Hingga kemudian Putri tak sengaja melihat seseorang mengenakan seragam yang sama dengan sekolahannya dari jarak jauh.
Seketika Rian langsung menghentikan motornya tepat di depan Putri, Rian melepas helmya. "Woy! Lo mau mati, hah? Jangan disini! Sana loncat dijembatan, Astaga banget nih orang." umpatnya kesal.
Putri mengangkat dagunya, hanya mengulas senyum tak tahu malu pada pemuda itu lalu datang mendekatinya. "Boleh numpang gak, kak?" tanyanya tersenyum hingga membentuk bulan sabit dimatanya.
Rian kaget. "Elo? Si cupu yang udah nabrak gue itu, kan?" Putripun mengangguk. "Aneh-aneh aja sih! Udah, minggir sana! Gue gak mau ngasih tumpangan sama lo." sahutnya ketus, memasang helmnya kembali.
Tanpa permisi, Putri langsung saja bergerak naik ke motor Rian dan langsung memeluknya erat.
"Woy! Lo ngapain? Turun gak?!" bentaknya, mencoba melepaskan tangan Putri yang melingkar di pinggangnya.
Putri menggelengkan kepalanya. "Gak mau, ntar kita bisa telat loh! Buruan berangkat!" pintanya, tak paduli.
Rian memutar bola matanya jengah, tak ada pilihan lain, ia pun dengan berat hati harus memberikan tumpangan pada teman sekelasnya itu.
__ADS_1
"Munduran dikit!" pintanya.
Seketika Putri langsung gugup, dan merasa malu seketika. "He he iya kak."
****
Kini mereka sudah sampai disekolah, dan Putri langsung turun dari sepeda Rian. "Makasih kak." ucapnya kemudian berlari pergi sebelum Rian mengomel padanya.
"Wah dasar tuh cewek! Penampilannya aja cupu tapi ternyata gila." umpat Rian, menggelengkankan kepalanya sembari berdecak.
Putri berlari buru-buru bukan untuk masuk kelas, tetapi ia langsung pergi kearah kantin dan membeli sebotol minuman dingin dengan tergesa-gesa.
Setelah selesai membeli minuman itu, Putri langsung mengeluarkan secarik kertas, menuliskan pesan dan menempelkannya pada minuman tersebut.
Putri tahu bahwa Yuda selalu datang diwaktu bel masuk, jadi ia hari ini mengusahakan untuk datang lebih awal darinya dan meletakkan minuman yang baru saja ia beli sebagai hadiah dari pengagum rahasia.
Putripun duduk dengan malu, merasa jantungnya akan copot ketika Yuda datang dan mengetahui bahwa ada yang memberinya hadiah.
BRAK!!
Rian datang langsung menggebrak meja Putri dan mengagetkannya. "Heh, jam istirahat traktir gue sebagai tanda terimakasih. Gak boleh nolak." ucapnya tegas, lalu berbalik ke bangkunya sendiri.
Putri hanya terdiam kaget, dan mengernyitkan dahinya bingung. "Teraktir?" gumamnya, tak mengerti.
Tak lama kemudian, Yudapun datang dan Putri beralih tegang.
Saat Yuda ingin duduk dibangkunya, ia melihat minuman dingin berada diatas mejanya, lalu ia menggapainya. "Minumlah, semoga harimu menyenangkan." Yuda membaca pesan, yang berada diminuman tersebut.
Ia hanya tersenyum dan meletakkan minuman tersebut dikolong meja karena tiba-tiba guru sudah memasuki kelas untuk mengajar.
Tapi meski hanya sebuah senyuman, Putri sudah merasa begitu senang.
****
__ADS_1
Gak kalah menarik, kan? Kalian masih di Zona aman wkakwk
Kasih dukungan Kalian dengan cara VOTE POIN, LIKE, KOMEN. oke Baby :*