SELINGKUH

SELINGKUH
Belanja Bersama


__ADS_3

"Sayang, katanya sore mau kesini?" tanya Dedi pada istrinya.


"Rencananya sih sore, tapi aku pengen sekalian jalan-jalan bareng. Kan udah lama kita gak jalan bareng."


"Hm, oke. Hayo kita berangkat sekarang!" ajaknya pada istrinya, menyatukan jemarinya untuk berjalan bersama.


Mereka pun keluar dari ruang kerja dan langsung tertuju pada Anggi yang sedang menahan kesal dengan senyum palsunya.


"Tolong batalkan semua meeting hari ini!" ucap Dedi pada sekretarisnya.


"Baik pak." sahutnya menunduk, sebelum Anggi mengikuti atasannya berjalan dibelakangnya.


Sepanjang jalan ke mobil, ia disuguhi oleh keakraban pasangan yang didepan matanya. Membuat hatinya begitu sakit karena iri.


Belum lagi saat didalam mobil, Anggi yang memposisikan duduk didepan dengan supir. Mendengar pasangan itu dengan risih.


"Hari ini kamu cantik banget." ucap Dedi, mengelus pipi istrinya itu.


Sefia malah mendengus. "Jadi, kemarin-kemarinnya gak cantik gitu?" tanyanya sebal.


Dedi jadi tertawa. "Ya enggaklah sayang, maksudku gak gitu." mencubit kedua pipi istrinya dengan gemas, lalu mengecup bibirnya sekilas. "Maksudku, hari ini kamu lebih dari cantik dari sebelumnya."


"Masa sih?" Sefia tersenyum malu dibuatnya.


Dedi menyipitkan matanya. "Bentar, kayanya ada yang beda nih." menatap istrinya lamat-lamat.


"Beda? Apa hayo?"


"Kamu berkumis ya sekarang." candanya.


Sontak Sefia kaget, langsung mengambil cermin makeup yang ada didalam tas kecilnya. "Mana? Gak ada kok."


Dedi jadi tertawa karena Sefia percaya kata-katanya.


"Ih, kamu nih ya! Gak lucu ah, aku kan jadi malu tahu." memukul dada suaminya berulang.


"Ha ha sorry, kamu tambah gemesin deh kalo lagi ngambek. Sini cium." Dedi mengecup-ngecup pipi istrinya berulang dan memeluk istrinya dengan erat, hingga susah untuk Sefia bergerak.


"Aaaa. Aku gak bisa nafas tahu." Sefia mendengus sebal, dan meronta minta dilepaskan.


Tapi Dedi makin memeluknya erat, mengunci kedua lengannya agar tak bergerak. "Biarin, siapa suruh ngambek."


"Ih, udah ah ciumnya. Gak enak tuh sama yang didepan."


"Eh, iya." sejenak Dedi lupa bahwa ada Anggi yang masih belum terbiasa, ia melepas pelukannya tapi menarik istrinya agar lebih mendekat. "Yaudah, gak usah pake suara." bisiknya.


Lalu memagut bibir istrinya tanpa henti, hingga tanpa sengaja mengeluarkan suara desahan yang dimana membuat Anggi begitu kesal, ingin rasanya berteriak.


Pak supir yang bisa menebak ekspresi Anggi, hanya bisa menahan tawa. Lalu mengambil sebuah headset didalam sakunya. "Ini Non pake." tawarnya.

__ADS_1


Dengan terpaksa Anggipun mengambilnya, menyambungnya dengan ponsel miliknya untuk mendengarkan musik daripada harus mendengar pasangan dibelakang yang bak anak ABG yang sedang dimabuk cinta.


****


Kini mereka sudah sampai dipusat pembelanjaan, Dedi mengusap rambut istrinya yang berantakan serta Sefia memakai lipstik baru karena berantakan dan luntur akibat ulah suaminya.


"Kita akan membeli apa dulu?" tanya Dedi pada istrinya ketika mereka sudah memasuki gedung pusat pembelanjaan.


Dan tentu, mereka tidak luput dari pandangan orang-orang sekitar. Yang dimana mereka sangat mengenal Dedi sebagai pengusaha muda pemilik perusahaan raksasa.


Decak penuh kagum selalu terlontar bagi siapa yang memandangnya. Sefiapun enggan untuk menjauh dari suaminya.


"Beli gaun dulu." sahutnya, yang mendapat anggukan dari suaminya.


Dengan senang, Dedi berjalan bergandeng tangan dengan istrinya. Menikmati setiap momen kebersamaan.


Dan Sefia memilih untuk memasuki toko khusus menyediakan gaun bermerk.


"Wah, disini kan mewah dan mahal." gumam Anggi penuh takjub, berjalan dibelakang atasannya. "Bahkan, uang yang aku pinjam tadi itu bukan apa-apa."


Ya, Sefia memilih gaun terbaik untuk menunjang penampilannya karena ia bertemu dengan teman suaminya dan tak mau membuat suaminya malu nantinya.


Untuk harga selangit, Sefia tak peduli karena suaminya mampu untuk membelikannya.


Ia kemudian mengambil gaun yang pas dengan dirinya. Warna pink muda bercampur dengan mutiara putih dimotif kelopak bunga, serta punggung yang sedikit terbuka dan menonjolkan lekukan tubuhnya.


Dedi tersenyum. "Selalu cantik kok dan cocok."


"Oke, Ya udah aku ambil ini."


Sefiapun kembali ke kamar ganti, dan segera ke kasir untuk membayar gaun yang ia coba tadi.


"Sekarang, kita kemana?" tanya Dedi lagi, ketika istrinya selesai melakukan pembayaran.


"Beli sepatunya dong, kayanya bagus kalo warna pink muda dengan sepatu emas atau warna putih susu."


Dedi mengelus rambut istrinya. "Wah, kamu tahu banget ya tentang fashion."


"He he, aku cari di internet. Kan aku ingin memberikan yang terbaik untuk siamiku."


"Aku juga ingin memberikan yang terbaik buat istriku."


Mereka lagi-lagi berjalan bergandeng tangan, memasuki toko disebelahnya.


Dedi juga ikut mencari sepatu untuk istrinya. "Coba duduk!" pintanya.


Sefiapun duduk, dan Dedi langsung memasangkan sepatu yang diambilnya tadi pada kaki milik istrinya.


"Cocok gak?" tanyanya.

__ADS_1


"Wah, cocok banget kok. Kamu emang pinter ya kalo milih sepatu." puji Sefia menekan kedua pipi suaminya yang duduk bersimpuh dibawahnya.


Dedi hanya tersenyum menanggapinya, lalu menoleh pada sekretarisnya yang menatapnya daritadi. "Sepatu ini cocok, gak?"


"Cocok kok pak." sahut Anggi dengan gugup dan kesal.


"Yaudah, kita langsung ambil ini aja." ucap Dedi pada salah satu pelayan.


Segera pelayan itu membungkus sepatu yang diinginkan tadi, dan Dedi mengurus pembayarannya kali ini.


Sementara itu, Sefia menunggu dengan Anggi dengan tatapan yang tak seperti biasanya.


"Aku lihat-lihat, sikapmu agak gak mengenakan ya?" ucap Sefia pada sekretaris suaminya itu.


Dengan berani, Anggipun mendongak. "Kalo iya, kenapa? Ada masalah."


"Ah, ternyata bener. Kamu jangan mencoba merayu suamiku!" tegasnya.


Membuat Anggi tertawa sarkas dan bersindakap dengan lancang. "Yah gimana ya, suamimu sih buat orang yang melihatnya selalu tergoda untuk merayunya. Gimana dong?"


"Sungguh, kamu gak tahu malu ya! Aku akan membuatmu dipecat dan menjauh dari suamiku. Kamu pikir dengan mudah suamiku akan tergoda dengan perempuan sepertimu."


"Kalo kamu tahu suamimu gak bakal tergoda, kenapa kamu jadi takut begini? Atau jangan-jangan kamu gak percaya diri ya?" ledeknya.


Seketika Sefia ingin melayangkan tamparan pada perempuan didepannya itu, tapi ia tahan karena orang-orang melihatnya dan tidak ingin orang jadi salah paham padanya.


"Aku percaya suamiku tidak akan mudah termakan perempuan sepertimu, sepertinya kamu harus lebih memperhatikan dirimu agar terlihat lebih manarik." sahut Sefia, kemudian berjalan menabrak bahu perempuan itu menuju suaminya yang sudah keluar dari toko.


"Kita makan dulu, yuk!" ajak Sefia kemudian.


Dedi mengangguk. "Yuk!"


"Tapi berdua ya! Sekretarismu suruh balik kantor aja."


"Oke." Dedipun menoleh pada Anggi. "Kamu balik ke kantor aja sekarang!" pintanya.


Mau tak mau, Anggipun mengangguk. "Baik pak."


Ia berbalik badan, dan berlalu pergi dengan kesal. "Sial, sial. Aku tidak akan pernah bisa masuk diantara mereka."


****


TOLONG VOTE POIN, LIKE DAN KOMEN.


Yang belum tahu caranya vote bisa klik VOTE disebelah nama Author, lalu Klik jumlah poin yang ingin kamu berikan 10,100,1000.


Janji nanti sore bakal Crazy Up :*


Ditunggu ya!!

__ADS_1


__ADS_2