
" Itu Lila?" tanya Zaky pada Tia.
" Oh dia di situ? aku tadi mencarinya di dalam. Iya itu Lila."
Itu Lila dan dia biasa saja? ada apa ini? mengapa Lila di sini? Mengapa sikap Tia begini? Aneh sekali!
" Kau.. Kau tidak marah? Kenapa dia bisa di sini?"
" Marah? Kenapa harus marah? Aku malah yang mengajaknya tinggal di sini."
" Apa?? Dia tinggal di sini?!"
Tia pun bercerita singkat tentang awal pertemuannya dengan Lila hingga berakhir dengan Lila yang tinggal bersamanya.
" Yasudah, aku belum selesai packing keperluan zaky. Kau duduklah, atau mau mengobrol dengan nya? dia kan asistenmu dulu."
Tia pun meninggalkan Robi yang masih berdiri di dekat gerbang.
Jadi ibunya sudah meninggal. Mengapa kesedihan terus bergulir di hadapannya.
Robi melangkah ke tempat Lila duduk. Lila menatapnya dengan wajah datar. Sebenarnya dia sangat gugup saat melihat Robi berjalan ke arahnya. Dia sendiri tidak tahu kenapa. Ia menggenggam tangannya di dada. Merasakan ritme jantungnya yang kian cepat. Robi sudah di depan matanya.
" Lama tidak melihatmu Lila." sapa Robi sambil tersenyum.
Lila menatap lekat pria di depannya. Badan yang tinggi tegap, terbalut kemeja hitam lengan panjang yang di gulung sampai ke siku. Kulitnya putih bersih. Sepasang lesung pipi terlihat jelas saat Ia tersenyum.
Kenapa aku tidak pernah sadar kalau Robi sangat tampan.
" Hei kau melamun ya?" tanya Robi sambil mengibaskan tangan di depan wajah Lila.
" T-tidak. Apa kabar Robi?" Tanya Lila canggung.
Robi tergelak. Lalu duduk di samping Lila.
" Perutmu itu lucu sekali. Si bayi pasti sudah besar di dalam sana ya?" Robi memperhatikan perut Lila. Jantung Lila terus berdebar debar.
" Kau sangat kurus, Kau pasti tidak makan dengan benar. Tadi Tia bercerita tentang ibumu. Aku turut berduka." Robi mengusap bahu Lila.
Jarak yang begitu dekat karena duduk bersebelahan membuat Lila semakin gugup. Apalagi Robi mengusap bahunya sambil menatapnya. Lila seperti meleleh.
Bukk! Sebuah tendangan keras di dalam sana.
" Aduhh." Lila memegangi perutnya, terkejut. Robi melihat itu menjadi penasaran.
" Kenapa? Apa dia bergerak?"
" Tentu saja bergerak! dia menendang dengan kuat tadi. Aku agak terkejut."
Pasti karena kau juga merasakan suasana hati mama yang aneh ini kan, nak?
" Apa dia selalu begitu?"
" Iya, ada waktunya tidur juga. Ada waktunya dia aktif begini."
" Hahaha pasti aneh kan rasanya. Ada sesuatu yang bergerak di perutmu?"
" Awalnya aneh. Tapi sekarang sudah terbiasa. Bahkan jika aku bicara dengannya, dia sering merespon dengan gerakannya."
Robi semakin penasaran.
__ADS_1
" Apa aku boleh memegangnya?"
Hah? untuk apa? aku bisa pingsan kalau dia terus seperti ini.
Lila belum menjawab, tangan Robi sudah di perutnya. Lila mematung. Perasaan aneh yang semakin bergelora. Robi menunggu beberapa saat. Tidak ada gerakan apa apa. Dahinya mengernyit heran.
" Kok tidak bergerak?"
Lila menggenggam tangan Robi dan memindahkan tangan itu ke sisi lain perutnya.
" Di sini." kata Lila.
Buk! Buk!
" Woo Wooo.. apa itu tadi! Apa itu lututnya! Tumitnya? atau sikunya ya?" Robi meraba raba di bagian itu. Ia dapat merasakan gerakan bayi itu di telapak tangannya. Baginya itu pengalaman yang luar biasa.
"Lila! Apa kau merasakan itu tadi? Dia seperti mau bersalaman denganku. Hahahaha... Apa itu memang tangannya? Oh Tuhan."
Robi sangat antusias. Lila tersenyum menatap Robi.
Kau lucu sekali. Pasti senang jika bersamamu setiap hari.
"Lila!" panggil Robi membuat lamunan Lila buyar.
" Ya.."
" Jadi dia laki laki atau perempuan?" tangan masi di perut Lila, dalam genggaman Lila.
" Laki Laki."
"Wah, pantas saja tendanganganmu kuat sekali. Kau sudah punya nama untuknya?"
Lila mengeleng.
" Tidak usah, simpan saja untuk anakmu nanti."
Deg!
Mendengar itu suasana hati Robi berubah. Ia melepaskan tangannya dari perut Lila.
" Kenapa?" tanya Lila melihat raut wajah Robi berubah.
Robi menggeleng.
" Kau baik baik saja? Kalian masih bersama kan? Apa dia sudah hamil?" Lila ingat terakhir kali bertemu sabrina sedang di restoran bersama pria lain.
Robi diam saja. Ia tidak mau menjawab pertanyaan Lila. Ia tidak ingin memberitahu bahwa sebenarnya Ia dan sabrina sudah bercerai beberapa saat setelah kepergian Lila. Dan dua bulan yang lalu ia sudah menikah dengan pria lain. Pria yang mungkin bisa memberinya keturunan.
Robi lalu tersenyum. Wajah itu semakin membuat Lila bertanya tanya.
" Lila, ayo masuk. Kau pasti lelah duduk terlalu lama." Robi berdiri kemudian meraih tangan Lila, membantunya berdiri.
" Kau akan bertemu Zaky?" Lila berdiri perlahan. Mereka berjalan menuju rumah.
Robi menganggukkan kepala. " Aku akan menemani Zaky pergi ke maldives, Kami akan bertemu teman lama nya yang punya resort mewah di sana. Zaky akan membangun resort kali ini."
" Maldives? tempat bulan madu yang terkenal itu kan? aku ingin sekali kesana."
"Makanya, menikahlah, ajak suamimu bulan madu kesana." Roby kemudian tersenyum sambil terus berjalan, beriringan dengan Lila.
__ADS_1
Lila meruncingkan bibirnya. " Sarkasme! kau menyindirku? karena tidak punya suami?"
"Tidak tidak.. tadi katamu ingin ke maldives. kan itu tempat bulan madu?"
"Kau sendiri, bulan madu di sana bersama sabrina?"
"Tidak, kami ke jepang. Ia ingin sekali ke jepang."
Lila berhenti.
Pasti itu bulan madu yang romantis. Sabrina pasti menyesali kencannya dengan pria itu kan? Mana mungkin dia meninggalkan pria sepertimu.
Robi juga berhenti saat menyadari Lila berhenti. Mereka sudah di dalam rumah. Robi mengangkat tangannya menyentuh pipi Lila. Lila senang merasakan telapak tangan Robi yang hangat.
Aku mohon jangan begini. Aku tidak ingin jatuh cinta lagi pada suami orang.
" Kau baik baiklah di sini. Tia orang baik, dia pasti tulus membantumu. Kalian berdua saling menjaga selama kami pergi ya? jaga dirimu dan juga bayi ini. Sekarang pergilah beristirahat."
Lila mengangguk. Robi tersenyum dan di balas Lila. Robi tidak tahan untuk mengusap kepala Lila. Pipi Lila merona.
Dari lantai dua, Tia memperhatikan mereka sambil tersenyum.
Kau suka padanya kan Robi? aku bisa melihat itu dari wajahmu. Hihi.. mereka cocok sekali. Bukankah kata Zaky, Robi bercerai karena tidak bisa punya bayi? dan Lila sudah punya bayi! dia pasti butuh ayah untuk bayinya kan? Oh andai saja. Semoga mereka berjodoh.
---
"Ini bos nomor kontaknya."
" Hmm.. dari mana kau mendapatkannya?"
" Dari salah satu pengurus yayasan miliknya. Aku mengikutinya, dia sering kesana. Aku juga dengar dari mereka bahwa suaminya akan keluar negeri untuk beberapa hari."
" Hahahaha... Info yang bagus sekali. Sebuah ide brilian tergambar jelas di kepalaku. Aku akan menghancurkannya dalam sekali sentakan!"
Benny mengambil sebuah amplop coklat dan melemparnya ke Anak Buahnya. Pria itu pun pergi. Seringai jahat muncul. Benny tertawa sendiri.
---
Tia mengantar Zaky dan Robi sendiri. Membawa anak anak pasti merepotkan. Lila juga pasti tidak sanggup berjalan jauh.
Pesawat akhirnya lepas landas. Tia berdoa semoga mereka tiba dan kembali pulang dengan selamat. Tia juga kemudian pulang. Ia memutuskan untuk singgah di apotik, Ia membeli tespack, untuk memastikan saja. Ia juga singgah di mini market membeli 2 kotak eskrim berukuran besar untuk anak anak dan Lila. Ia ingat dokter pernah menyarankannya untuk makan eskrim guna meningkatkan berat badan bayi. Ia pun segera pulang setelah itu.
---
Semoga suka ya 😊
Show your love ya pembaca yang baik.
❤❤❤
☺Like
☺Commet
☺Share
☺Rate
☺Vote
__ADS_1
☺Favorite
Makasi buat kalian yang selalu dukung aku.