
Dedi segera pergi kerumah sakit, lalu saat memasuki lorong rumah sakit ia tak sengaja bertabrakan dengan seseorang karena buru-buru tak memperhatikan jalan.
"Maaf Maaf." ucap pria itu tanpa sadar.
"Kak Angga." sapa Dedi seraya memanggil.
Angga menoleh. "Ya ampun ternyata adik, maaf saya gak sengaja saking paniknya."
"Iya gak apa-apa kak." sahutnya mengulas senyum.
"Apa Rian dirawat disini?" tebak Angga.
Dedi mengangguk. "Iya kak, dia dirawat di ruang intensif. Lalu kakak ngapain kemari? Memang siapa yang sakit?"
"Mama yang sakit, biasa sudah tua jadi gampang sakit-sakitan."
"Ah, semoga lekas sembuh ya?"
"Semoga dik, Rian sendiri bagaimana keadaannya?" Angga balik bertanya.
Dedi mengusap kasar wajahnya, tapi ia mencoba untuk tenang. "Anakku belum sadar kak, Fia juga sekarang lagi mengandung, jadi musibah ini begitu berat bagi kami."
Angga menepuk bahu Dedi, memberi ketenangan untuknya. "Saya yakin kalian orangtua yang hebat. Kalian bisa melewati cobaan ini."
Dedi tersenyum pasi. "Terimakasih."
"Media sedang heboh diluar sana karena laporan dari pak Aldy." ucap Angga ragu-ragu, bertujuan untuk bertanya.
"Ya begitulah! Saya yakin anak saya tidak melakukan hal buruk tersebut, apalagi kejadiannya persis sebelum Rian mengalami kecelakaan."
"Hari sebelum Sefia ulang tahun?"
Dedi mengangguk. "Iya kak." sahutnya. "Saya juga sudah menyuruh anak buah untuk mencari semua bukti."
"Semoga segera terungkap ya dik, saya yakin bukan Rian pelakunya karena kalian pasti sudah mendidik Rian dengan begitu baik."
"Iya kak." sahutnya. "Kalau begitu saya pamit dulu untuk menemui anak saya."
"Iya dik."
Merekapun berpisah, memasuki kamar tujuan masing-masing.
"Hari sebelum ulang tahun Sefia." gumam Angga berpikir. "Hari dimana Yuda pulang malam dengan bajunya yang kotor. Astaga! Aku berpikir apa sih." Angga menepuk kepalanya yang sedang curiga tidak pada tempatnya.
****
"Nak, cepat sembuh ya! Rian harus segera sadar." ucap Dedi pada anaknya yang sedang berbaring, duduk dikursi tunggal dekat ranjang.
"Mamimu pernah cerita, kalau Rian sendiri yang bakal jaga adek Rian nanti kalau sudah lahir. Jujur, papi seneng dengernya."
__ADS_1
"Kita sangat menyayangimu, Nak! Kami juga sedang berjuang, Rian juga berjuang ya!"
Dedi beranjak dari duduknya, mengecup kening anaknya. "Papi pamit pulang, semangat ya Nak." ucapnya sebelum berlalu pergi meninggalkan rumah sakit.
Setelah memasuki area parkir dan masuk kedalam mobil, Dedi mengambil ponselnya untuk menghubungi Erfan.
"Fan, apa kamu sudah berhasil mengambil hasil rekaman CCTV pemilik toko dekat taman?"
"Sudah pak, saya akan segera mengirim hasil rekamannya."
"Baguslah, Aku tunggu! Karena istriku juga ingin melihatnya sendiri."
"Baik pak. Segera."
Dedi lalu menutup panggilan telefonnya dan kembali untuk pulang menemui istrinya.
Sesampainya dirumah, Dedi masih menemukan Sefia tengah tertidur lelap. Jelas sekali kalau ia tengah kelelahan.
Ia kemudian membersihkan diri, mengganti pakaiannya dan segera pergi kedapur untuk mengisi perutnya yang lapar.
Saat Dedi tengah menaruh mie kering kedalam air yang sudah mendidih, Sefia tiba-tiba sudah datang dan memeluk suaminya dari belakang.
Dedi tersenyum kemudian berbalik, memegangi kedua sisi pipi istrinya yang mendongak. "Mami kok udah bangun?"
"Mami gak enak tidur kalo gak bareng papi." sahutnya.
"Papi masak apa?" tanyanya, melirik sebuah panci dibelakang suaminya. "Masak mie?"
Dedi mengangguk. "Pengen aja makan mie instan, udah lama gak makan." sahutnya.
"Mami juga mau buat ah."
"Jangan! Gak baik buat kesehatan, banyak mengandung pengawet didalamnya. Mami kan lagi hamil."
"Yah." Sefia kecewa. "Satu kali aja ya, pi? Anakmu loh yang mau." pintanya dengan berbagai alasan.
Dedi jadi tertawa. "Ya, baiklah! Satu kali aja."
Sefia jadi tersenyum senang, ikut memasak mie instan untuk dirinya. Ketika itu juga Dedi menarik pinggang istrinya tanpa permisi lalu menyatukan bibir mereka berdua.
Saat lumatan itu berlangsung, mereka saling merasakan sesak beban yang dirasakan. Terasa begitu sulit menerima semua yang secara tiba-tiba.
Dedi memeluk istrinya dengan erat ketika pagutann itu berakhir, saling menenangkan diri satu sama lain.
"Erfan sudah berhasil mengambil hasil semua rekaman CCTV di dekat taman." ucap Dedi kemudian memberitahu.
"Oh ya?" Dedi mengangguk. "Mami akan ikut memeriksanya."
Dedi mengangguk. "Baiklah! Setelah kita selesai makan mie."
__ADS_1
"Iya pi." sahutnya, penuh harap didalamnya.
****
Kini mereka berdua sedang menatap laptop, melihat dengan lamat-lamat siapa saja yg lewat dijalan dekat taman.
"Taman waktu itu sepertinya sepi pi." ucap Sefia pada suaminya yang duduk sebelahnya.
"Iya, makanya kejadian seperti ini bisa terjadi. Tapi hal ini juga mempermudah. Kita bisa menginterogasi setiap pengguna jalan yang berada didalam CCTV ini."
Mereka memandangi layar laptop bahkan seperti tak berkedip, hingga mata Sefia yang mulai sensitif kini memerah.
"Mami gak istirahat aja?" merangkul istrinya.
"Gak pi." sahutnya mencoba bertahan, kemudian ia membelalak. "Pi, bukannya ini Putri?"
Dedi menajamkan penglihtannya. "Iya bener, ini anak Aldy. Coba kita persingkat menit ke berapa dia meninggalkan taman."
Dedipun mempersingkat tetapi sampai jam tayang menunjukkan pukul tujuh malam tetapi Putri tidak kembali melewati jalan yang sama.
"Pukul tujuh malam, Papi sama Rian sudah sampai dirumah. Perjalanan antara rumah sampai taman sekitar tiga puluh menit. Berarti sekitar jam enam Putri kembali melewati jalan lain." Dedi menyimpulkan.
"Iya bener, pi." sahut Sefia. "Rian juga pakai jalan lain. Coba kita periksa disisi Putrinya dulu!"
"Iya Mi."
Segera Dedi memutar kembali hasil rekaman CCTV dijam yang sudah diperkirakan, tapi mereka belum menemukan apapun karena tidak jelas. Bahkan CCTVnya hanya mengarah pada halaman toko saja.
Sefia sudah menekan kedua matanya, merasa nyilu dan mual karena berlama-lama melihat layar laptop.
"Mami istirahat dulu! Biar papi aja yang lanjutin."
Sefia mengangguk. "Iya pi, mami udah gak kuat." pamitnya lalu beranjak dan merebahkan tubuhnya diatas kasur.
Dedi mengelus kening istrinya lalu mengecupnya. "Selamat tidur."
"Iya." sahutnya serak. bersiap tidur.
Sedangkan Dedi masih menjaga matanya untuk melihat lamat-lamat hasil rekaman CCTV. Kemudian ia menghubungi asistennya untuk memberinya tugas.
"Periksa jalur singkat sekitar lokasi menuju rumah Putri! Sepertinya Putri pulangnya menggunakan jalur lain."
"Baik pak, saya akan memeriksa apakah ada jalur lain atau gang sekitar lokasi."
"Baguslah! Aku tunggu."
****
Kamsamida :*
__ADS_1