
Sabrina berjalan menghampiri Robi dan juga Lila. Lila menatap wanita itu dengan marah, sedangkan Robi biasa saja, namun cenderung kasihan.
" Robi, kau dan dia.."
" Iya, dia istriku, kami telah menikah dan Lila sedang hamil. Aku sangat mencintainya, dia menerimaku saat aku menganggap diriku tidak akan punya bayi. Tapi sekarang dia hamil, dan aku jadi tahu apa yang sebenarnya terjadi. Aku turut bersedih untukmu, semoga kau baik baik saja."
Airmata Sabrina bercucuran, Lila menggenggam kuat tangan Robi, entah kenapa dia merasa cemburu.
" Aku minta maaf..."
" Tidak perlu, Apa yang kau lakukan padaku telah membuatku sadar, siapa yang pantas aku cintai..." kata Robi dengan mantap.
"Nyonya Khalila!" panggil perawat. Lila menarik tangan Robi untuk masuk. Robi pun berat hati meninggalkan wanita yang menangisinya. Wanita yang menyesal dan putus asa untuk saat ini.
Pemeriksaan selesai dilakukan, Lila benar benar hamil dan tidak ada masalah. Dokter hanya menyarankan makan makanan yang bergizi dan memberikan beberapa suplemen dan vitamin ibu hamil. Mereka pun pulang. Sepanjang perjalanan Lila dan Robi terlibat cekcok. Robi semata mata hanya kasihan pada Sabrina namun Lila merasa cemburu, merasa Robi mungkin masih mencintai mantannya. Lila berdebat panjang lebar membuat Robi kewalahan menjawab hingga Ia menggertak Lila. Lila yang begitu sensitif semenjak hamil tentu saja lalu menangis segugukan. Robi frustasi, Ia tak mau membujuk lagi, Ia merasa kesal juga kenapa Lila jadi tidak percaya padanya. Persetan ini hormon kehamilan atau tidak, Robi tidak mau minta maaf lagi.
Dan itulah yang membuatnya stress hingga pagi ini, Robi dan Lila saling diam. Bahkan saat Robi pamit akan pergi dengan Zaky pun, Lila tidak menjawab. Robi menunduk dan meremas rambutnya kasar. Kenapa rumit sekali dengan Lila sekarang?
Saphira membawakan kopi untuk Robi. Ia merasa berdebar juga berada di dekat Robi. Harum parfum Robi yang maskulin memeluk hingga menelusup hingga ke hatinya. Dengan gugup Ia menghantarkan cangkir kopi itu ke meja makan. Robi mengangkat kepalanya tiba tiba membuat Saphira terkejut, hingga menumpahkan sedikit kopi panas di tangannya sendiri." Owhhhh..." Ia cepat cepat meletakkan cangkir kopi di meja dan meniup tangannya.
Robi yang melihat itu segera menarik sapu tangan dari saku jasnya dan mengusap tangan Saphira. " Kau tidak apa apa?" tanya Robi, Saphira tidak menjawab karena terpana pada Robi yang begitu dekat dengannya, memegang dan meniup jemarinya. Robi menarik perlahan lengan Saphira menuju wastafel, mencuci bekas kopi dan mengeringkan lagi tangan Saphira. " Tunggu disini, akan aku ambilkan salep luka bakar di rak obat." kata Robi. Saphira hanya mengangguk.
Siapakah Tuan itu, Apa dia bekerja bersama Tuan Zaky? Dia sangat gentleman . Jantungku, ya Tuhan. Aku sampai tidak bisa berjalan.
Robi kembali dan mengoleskan salep ke jemari Saphira, Saphira menatap lekat wajah Robi tanpa berkedip. Harum tubuh Robi membuatnya merasa begitu nyaman di dekat pria tampan ini. Robi selesai mengoles salep, Ia mengangkat wajahnya dan melihat Saphira. Pandangan mereka bertemu.
Mata coklat yang indah. Astaga, ada apa denganku?
Robi menoleh membuang wajahnya, Ia merasa tersihir untuk sesaat. " Sudah, tangannya tidak boleh terluka, nanti kau tidak bisa mengurus Ben kecil." Saphira mengangguk. " Habiskan makananmu , aku akan menunggu Zaky di depan." Robi mengangkat cangkir kopinya dan meninggalkan Saphira yang terpaku menatap punggungnya. Saphira tersenyum sendiri.
__ADS_1
Agaknya Saphira menyukai kedua pria itu, baik Zaky maupun Robi. Tak ada yang mampu menahan pesona baik Zaky ataupun Robi. Meski satunya bos dan satunya sekretaris, keduanya punya kharisma yang membuat wanita manapun menjadi berdebar saat di dekatnya.
---
Zaky selesai mencuci rambut Tia, Ia mengeringkannya dengan hairdryer yang di bawanya dari rumah. Ia menyisir rambut Tia yang panjang dengan perlahan lahan meskipun Luka di dahi Tia sudah pulih. Ia tersenyum sendiri.
" Sayang, lihatlah, kau punya penata rambut pribadi, ternyata aku pandai sekali melakukannya. Hemm , rambutnya sekarang bersih dan lembut, juga harum sekali." Zaky mencium harum rambut istrinya.
"Aku akan membawa anak anak lagi besok, kali ini aku telah mengingatkan mereka untuk bisa menguasai diri. Kemarin terlalu dramatis di ruang ini kan? Bangunlah sayang, Apa kau tidak mau bermain busa di kolam bersama mereka? Aku.. Aku tidak tahu cara bermain dokter dokteran, Naya bilang aku dokter yang kejam. Hahaha. Kau harus mengajariku nanti."
Zaky bicara sendiri. Memang selalu begitu sejak Tia koma. Kadang Ia mengantuk, kadang Ia sampai menangis juga mengingat wajah Tia yang tersenyum sepanjang hari saat belum koma.
"Sayang, besok hari minggu, aku minta ijin latihan off road ya, aku butuh pelepasan, kau tahu? Lihat ini, aku memasang wajahmu yang besar di wallpaperku, agar aku merasa selalu ditemani olehmu."
Zaky tersenyum seraya mengusap dahi Tia. Ia lalu menutup matanya.
Kenapa harus kau yang selalu merasakan penderitaan. Kenapa bukan aku saja yg jatuh dari gedung atau ditabrak truk, Aku tidak sanggup melihatmu begini. Kau .. Kau bahkan masih cantik saat begini.
Aku bersumpah tidak akan pernah meninggalkanmu , mengkhianatimu, apapun yang terjadi. Seluruh hidupmu engkau korbankan untuk kebahagiaan kita dan anak anak. Sayang bangunlah, Ben kecil menunggu untuk di gendong pertama kali oleh mamanya.
Zaky naik ke ranjang dan memeluk Tia. Wajahnya tenggelam di bahu Tia. Tangannya meraih kalung Tia dengan inisial namanya.
Kau sangat mencintaiku kan?
---
Prang!!! Sebuah gelas melayang di dapur hampir mengenai kaki Robi. Robi menatap Lila dengan marah.
" Apa? Kau marah? pukul saja aku! pukul aku dan anakmu ini."
__ADS_1
"Sayang kau ini kenapa?"
" Aku tidak mau kau keluar selangkahpun dari rumah ini! Kenapa tidak mau mendengar!"
" Sayang, aku bekerja, aku juga harus menemui mamaku, aku selalu pulang lebih awal dari biasanya kan?"
"Tapi aku sedang mual dan muntah karena mengandung anakmu! Kau malah bersenang senang di luar!" Lila berteriak sambil menangis.
" Bersenang senang apanya!"
"Aku ingin di perhatikan! Aku ingin di suapi makan! Aku ingin dipijat !"
" Aku selalu melakukannya saat aku sudah di rumah!"
" Tapi aku mau kau selalu di sisiku sekarang!"
" Kau.. Kau sudah gila!"
" Gila! Baik aku gila, lalu kau mau apa?!"
Robi mengambil kunci mobil dan bersiap pergi. Ia tidak tahan mendengar Lila yang bersikap tidak masuk akal menurutnya. Berdiri di sini hanya akan memperpanjang perdebatan ini, Ia tidak mau sampai tidak bisa menahan diri nantinya.
" Kau mau pergi. Ok! Baik! Jangan pulang lagi!"
Robi melihat Lila sekilas lalu berbalik dan pergi, Ia harus tetap waras, dan meladeni Lila bisa membuatnya ikut gila. Dan Lila, yang dirasakannya adalah suaminya tidak peduli padanya yang sedang susah payah mengandung anak mereka. Ia tidak bisa realistis, Robi berusaha menuruti Lila tapi Lila selalu ingin lebih. Perhatian lebih, kasih sayang lebih, dan perlakuan lebih. Lila bersimpuh di lantai dan larut dalam tangis.
---
Like and comment nya kaka..
__ADS_1
🥰🥰🥰🥰