
Dedi sedang berada di perjalanan untuk menyusul istrinya karena ia takut istrinya akan diperlakukan dengan tidak baik oleh orangtua Putri.
Tetapi saat di perjalanan , ia mendapat panggilan telefon dari asistennya.
"Hallo, bapak ada dimana?" Tanya Erfan diseberang.
"Aku lagi di perjalanan, ada apa?"
"Ada seorang saksi membela kita di kantor polisi karena ia juga berada ditempat kejadian." sahutnya memberitahu.
Seketika Dedi langsung terkejut. "Baiklah, aku akan ke kantor polisi sekarang."
Dedi langsung mematikan sambungan teleponnya dan langsung meminta Supirnya untuk putar arah.
Sesampainya di kantor polisi, Dedi buru-buru turun dari mobil dengan tergesa-gesa dan disana dia langsung menemukan Yuda dan Angga telah menoleh padanya.
Dedi menghentikan langkahnya didepan pintu untuk menetralkan nafasnya serta bersyukur didalam hati.
"Maafkan saya, om." ucap Yuda menunduk dengan segala penyesalannya, tapi siapa sangka Dedi malah melangkah padanya lalu memeluk Yuda penuh syukur, dan begitu eratnya.
"Terimakasih, Nak." ucapnya dalam pelukan, matanya begitu nanar.
Dedi menghembuskan nafasnya lega, begitu bersyukur bahwa anaknya tidak akan lagi mendapat kata umpatan serta tuduhan karena segalanya sudah berakhir, bukan?
Ketikan Dedi melepas pelukan itu, Angga juga menyambut Dedi dengan pelukan dan menepuk punggungnya yang kokoh.
"Aku sangat bersyukur kalian bersedia bersaksi untuk anakku, aku merasa begitu sangat lega sampai tidak tahu harus berkata apa." Mengelus dadanya, sembari tersenyum.
"Bukanlah masalah dik, seharusnya kitalah yang berterimakasih karena adik sudi memaafkan kami berdua. Terutama Yuda yang sempat salah paham pada Sefia dan enggan menceritakan ini semua." ucap Angga.
__ADS_1
Dedi menoleh pada Yuda yang masih menunduk, lalu mengacak rambutnya gemas. "Bagaimana bisa aku marah pada anak yang disayangi Rian ini." sahutnya. "Mereka berdua adalah sahabat."
Dan Yuda malah menangis mendengar kalimat itu. "Aku sudah banyak salah pada Rian, aku jahat padanya." ucapnya menunduk.
Dedi menepuk bahu Yuda. "Rian pasti mengerti kok."
Yuda jadi mendongak dan mengangguk, menghapus Air matanya dan mengulas senyum kembali.
****
Sementara itu, disisi lain. Nadin tetap tidak mengijinkan Sefia untuk masuk.
"Kamu yakin dengan jelas kalau itu bukanlah anakmu, hah?" bentaknya.
"Wajahnya memang belum jelas karena tertutupi, tetapi aku yakin dia bukanlah anakku." sahutnya penuh yakin.
Membuat Sefia jadi menunduk tak bisa berbuat apa-apa, ia kemudian berbalik ingin pergi.
Namun ia mencoba berjalan disamping rumah temannya itu, dan disana ia menemukan Putri tengah memberi makan se ekor kucing jalanan.
"Makan yang banyak ya, pus!" ucap Putri sembari mengelus kucing itu.
"Put." sapa Sefia seraya memanggil, sudah berdiri didepannya.
Putri mendongak, membelalak. Ia segera beranjak diri ingin berlari pergi tetapi Sefia memegang lengannya begitu erat.
"Tente ingin berbicara denganmu!" pinta Sefia, memohon.
Putri menggelengkan kepalanya sembari terisak. "Tidak Tante! Ku mohon lepaskan aku!"
__ADS_1
"Tante hanya ingin meluruskan kesalah pahaman mu pada Rian."
"Apa yang mau Tante luruskan? Membela anak Tante yang menyebabkan aku begini? Seandainya dia waktu itu datang dan tidak mempermainkanku, semuanya tidak akan seperti ini Tante." seketika Putri menangis pilu, dan Sefia langsung memeluknya.
"Tante mengerti perasaanmu Nak, bagaimana terlukanya kamu." mengelus punggung Putri sebelum melepas pelukannya dan memegang kedua sisi pundaknya. "Tapi kamu hanya salah paham, sayang. Rian waktu itu datang menemuimu tetapi dia terlambat hanya untuk sekedar membeli setangkai bunga untuk dia berikan padamu."
Mendengar itu seketika Putri terduduk dan menangis penuh penyesalan. "Bagaimana ini? Aku sudah berdosa telah memfitnah kak Rian. Aku telah sangat bersalah padanya. Aku bodoh! bodoh! bodoh!" menjambakk kasar rambutnya sendiri penuh frustasi.
Sefia lalu memegangi kedua lengan Putri, menuntunnya untuk berdiri lalu mengusap air matanya. "Tidak apa, sayang! Tante mengerti penderitaan yang kamu alami jauh lebih berat. Kamu juga harus yang kuat dan cobalah jujur pada kedua orangtuamu, ya!"
Putri mengangguk. "Iya Tante." memeluk Sefia. "Terimakasih sudah mau memaafkan Putri."
"Tante juga menyayangi Putri seperti anak Tante sendiri, bagaimana mungkin Tante bisa membencimu." mengecup pipi Putri. "Sekarang kamu masuklah ke dalam! Lalu bicarakan semuanya pada orangtuamu" pintanya kemudian.
Putri mengangguk. "Iya."
Sefia pun bisa bernafas lega, ia bisa kembali ke rumahnya dengan perasaan begitu leganya.
Beban yang terasa berat dipikul sebelumnya kini tak lagi sama, begitu ringannya. Walau banyak hal yang sudah ia dan suaminya lewati tetapi ia berhasil juga untuk menempuhnya.
"Terimakasih Tuhan."
****
Bentar lagi UPLOAD LAGI! Pelan-pelan ngetiknya.
Maaf baru muncul! Author kemarin kena tipus tinggi jadi harus bersemedi he he
Kamsamida :* Makasih yang setia nunggu.
__ADS_1