
PLAK!!
"Akh." pekik Anggi, mengaduh kesakitan. Memegangi pipinya yang memerah karena ditampar.
"Mana uangnya, hah?" bentak pemuda itu, lalu mencekik lehernya hingga tersudut ketembok pintu.
"Tolong lepas!" Rengeknya, memegangi tangan besar pemuda itu dengan kedua tangannya yang tak berarti. "Aku gak bisa nafas."
Seketika pemuda itu melepas cengkramannya. "Ini hukuman untukmu karena sudah mengingkari janji padaku, aku butuh uang untuk membeli barang itu."
"Sungguh, aku hanya punya segitu Ted." sahut Anggi terisak, duduk terkapar di lantai rumahnya.
Tedy langsung mencengkeram kedua pipinya dengan satu tangan. "Bukankah kamu sudah bekerja dengan kakak artismu itu? Mintalah uang yang lebih padanya!"
"Kamu bajingann! Aku sudah banyak menyusahkan kakakku karenamu, seharusnya aku tidak pernah berhubungan denganmu brengsekk." umpatnya, berteriak.
Tedy tersenyum menyeringai, melepas cengkaraman itu dengan kasar. "Kenapa kamu sekarang berkata seperti ini padaku? Bukankah kamu sendiri dulu yang merayuku agar menjadi kekasihmu."
"Itu dulu, sebelum kamu rusak karena obat terlarang itu." bentaknya.
KRIEKKK!
Tedy tak segan menyobek baju Anggi, lalu melemparkan perempuan itu diatas ranjang.
"Tidak Ted! Jangan! Aku mohon." rontanya, tapi Tedy tak menghiraukannya.
"Bukankah hal ini yang kamu mau selama ini?" ucapnya sebelum pemuda itu benar-benar menyatukan tubuhnya kepada kekasihnya yang tak menginginkannya lagi.
Hanya rontaan penuh hina yang Anggi rasakan, begitu perih menusuk ulu hatinya.
Setelah puas ia mendapatkan apa yang ia mau, pemuda itu langsung menggulingkan dirinya dan beranjak dari tempat tidur. "Jangan lupa untuk memberikanku uang besok malam! Kalau tidak, ku sebarkan tubuh sexymu ini kepada publik agar nama baikmu dan kakakmu ikut hancur." ancamnya, kemudian berbalik dan berlalu pergi meninggalkan Anggi yang meraung, menangis sejadi-jadinya.
"Brengsekk, bajingann. Aaaa." teriaknya, frustasi.
****
Disisi lain, Dedi tengah selesai memasak nasi goreng untuk istrinya.
Ia kemudian membawa nampan berisi satu gelas air minum dengan satu piring berisi nasi goreng telur yang ia buat kedalam kamarnya, karena ia tahu bahwa istrinya masih tertidur lemas karena menahan lapar.
Ia kemudian manaruh nampan itu diatas nakas, lalu mengelus pipi istrinya yang tertidur pulas.
__ADS_1
"Sayang, bangun!" bisiknya ditelinga istrinya, berulang kali sembari mengelus pipi istrinya itu.
Dengan malas, Sefiapun membuka matanya. "Hemm." sahutnya serak.
"Makan dulu! Aku sudah menyiapkan nasi goreng untuk perut kosongmu." ucapnya dengan lembut, mengecup pipi istrinya.
"Aaa, aku ngantuk. Tidur aja ya!" pintanya.
Dedi seketika mendengus sebal. "Bangun!" menarik lengan istrinya dan langsung memeluknya agar tidak merosot lagi dan berakhir berbaring. "Kamu tidak boleh tidur dalam keadaan perut kosong! Itu tidak baik untuk kesehatanmu."
Sefiapun tersenyum, seakan hilang sudah rasa kantuk yang baru saja menderanya dengan hebat. "Iya sayang, bangun deh akunya." mengecup bibir suaminya dengan gemas.
Dedipun tersenyum, lalu mengambil piring yang berisi nasi goreng telur untuk ia berikan pada istrinya. "Aku hanya bisa memasak ini untukmu."
"Terimakasih banyak." Sefia mengambil dan memakannya perlahan. "Maaf ya, seharusnya aku yang melakukan ini padamu."
Dedi mengelus rambut istrinya dengan lembut. "Gak apa-apa kok, aku seneng udah bisa manjain kamu walaupun hanya begini saja."
"Ini udah lebih dari cukup." sahut Sefia cepat, dan Dedi jawa tertawa dibuatnya.
Sefiapun menghabiskan makanannya, dan Dedi dengan sigap mengambil gelas berisi air minum untuk menjadi pengobat dahaga untuk istrinya. "Minum! Habiskan!"
Ia sungguh menghabiskan minumannya, dan mengecup kembali bibir milik suaminya.
Dedi yang melihat itu, ikut mengelus perut istrinya. "Sayang." ucapnya seraya memanggil.
Sefia menoleh. "Iya, ada apa?"
"Aku kok gak pernah liat kamu seperti wanita pada umumnya, ya?" tanyanya heran.
Sefia mengerut kening, bingung. "Maksudmu?"
"Ya, seperti datang bulan misalnya. Apa jangan-jangan Rian bakal punya adik baru?" tanya Dedi girang.
"Enggak."
Seketika Dedi terdiam. "Loh kok enggak, sih?"
"Aku pakai KB yang gak datang bulan, lagian Rian kan masih kecil." sahut Sefia santai.
"Iya juga sih, tapi kalo bulan depan gak usah pakai gituan, gimana?" tawarnya.
__ADS_1
Sefia menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Enggak."
"Yaudah, dua bulan lagi."
"Enggak juga."
"Empat bulan lagi deh, biar Rian gak kesepian."
"Tetep enggak sayang, Nunggu Rian umur seenggaknya lima tahun baru aku mau hamil lagi."
"Lama banget gak, sih?"
Sefia jadi tertawa. "Emang kamu pengen punya anak berapa?"
"Banyak juga gak masalah, aku pengen anak cewek. Kayanya bakal imut kalo nempel papinya mulu."
Sefia memutar bola matanya. "Aku yang masalah, hamil sama melahirkan itu susah."
"Bagiin aku aja! Aku rela nanggung sakitnya kok." sahutnya, membuat Sefia gemas dibuatnya.
Sefia mencubit kedua pipi suaminya, gemas. "Kalo bisa, udah aku kasih kamu aja."
Dedi jadi tertawa, lalu mengecup kecil bibir istrinya sebelum melumatnya. "Istriku sayang." rayunya, membuat Sefia jadi merona.
"Udah ah." Sefia memukul dada suaminya, tersenyum malu.
Dedi malah jadi mendekatkan diri dan melumat lagi bibir manis istrinya itu dengan lembut dan membaringkan tubuhnya dibawahnya.
"Kamu gak capek?" bisik Sefia, ketika Dedi mengecap bagian lehernya.
"Masih kuat kok, habis ini tidur." sahutnya tersenyum sebelum benar-benar menyatu.
Tapi, belum juga menyatu. Tiba-tiba Rian merengek dan terbangun.
Sontak Dedi langsung menggulingkan tubuhnya, memakai lagi piyamanya dan segera mengangkat Rian didekapnya.
"Aku buat susu dulu, ya." ucap Sefia.
"Iya." sahut Dedi sembari menimang anaknya agar tenang dan tak menangis.
****
__ADS_1
TERIMAKASIH DUKUNGANNYA :*