SELINGKUH

SELINGKUH
Angga part 4


__ADS_3

"Angga." bentak Lidia tiba-tiba saat menyambut anaknya pulang kerumahnya. "Kamu dari mana saja?"


Angga mengacak rambutnya frustasi. "Cari angin, ma." sahutnya, sengenanya.


"Kamu nih ya! Teman mama bilang kalo kamu udah bikin anak dia nangis. Apa sih yang udah kamu lakuin, Ga?" tanya Lidia keheranan.


"Aku gak ngelakuin apapun itu, Angga cuma minta dia buat tidur sama aku kalo emang minta aku berubah pikiran untuk nikahin dia." sahutnya enteng.


"Astaga Angga!" geram Lidia. "Kamu kenapa jadi begini, sih? Udah ke berapa kalinya mama coba ngebujuk kamu buat kencan dengan perempuan lain, tapi kamu malah merusak semuanya segampang ini. Maumu apa sih, Ga?"


"Mauku? Aku mau mama berhenti mencarikan aku perempuan perempuan yang bukan menjadi keinginanku sendiri. Rasanya, aku sudah mati rasa, ma."


"Tapi Nak, sampai kapan kamu akan tersiksa begini?" tanya Lidia melemah, tahu akan perasaan sakit anaknya.


"Mungkin, akan berakhir sampai Angga mati." sahutnya, melangkah cepat ke kamarnya.


"Astaga! Angga, kamu sudah gak waras." teriak Lidia pada anaknya yang sudah menyerah akan tujuan hidupnya itu.


"Ini gara-gara si anak haram itu." gumam Lidia, mengeram.


****


Kini sudah pagi hari, seperti biasa Angga menjalani hari-hari seperti biasa. Ia bersiap diri untuk pergi ke kantor untuk bekerja.


Sebelum berangkat, ia tak lupa untuk menyapa Yuda dan mengecup pipinya sebelum beranjak pergi.


"Papa berangkat kerja dulu ya, Nak." pamitnya, mencium kedua pipi anaknya itu.


Setelah nya, Angga langsung berlalu pergi ke kantornya.


Disisi lain, Anggi sudah sampai dikantor sebelum atasannya tiba. Disana Anggi sudah dapat membaur dengan karyawan yang lainnya. Tentu dia juga menanyakan rasa penasarannya.


"Pak Angga itu sudah punya anak, ya?" tanya Anggi pada salah satu rekan kerjanya.

__ADS_1


Ia mengangguk. "Iya, katanya sih anak dari pernikahan keduanya."


"Yah, kok udah nikah dan punya anak sih." keluhnya kecewa, karena ia sendiri kapok untuk jatuh cinta pada suami orang. "Pasti istrinya sangat beruntung punya suami kayak pak Angga."


"Huss, apanya sih." menyenggol lengan Anggi. "Pak Angga itu duda tahu."


"Hah, benarkah? Serius?" tanya Anggi antusias, punya pengharapan.


"Iya, serius. Denger-denger sih katanya istri kedua itu cuma menjebak pak Angga supaya tidur dengannya dan akhirnya istri kedua itu hamil, akibatnya pak Angga harus gagal pada pernikahan pertamanya karena pelakor yang menjebaknya." sahutnya, dengan penekanan. "Aku kasihan sih sama kisah pak Angga, pelakor bener-bener jahat deh. Tapi kamu mau tahu gak siapa istri pertamanya pak Angga?!"


"Siapa?" tanya Anggi penasaran.


"Nyonya Sefia, istri Presdir kita, pak Dedi."


Sontak Anggi membelalakkan matanya, begitu tak percaya pada apa yang baru saja didengarnya. "Istri pak Dedi, Sefia?! Astaga."


Seketika ia merasa bersalah, menyesal telah pernah berniat menghancurkan rumah tangga kedua wanita yang sudah menyelamatkannya. Mendengar kata "pelakor", pun membuat Anggi malu pada dirinya sendiri.


Untunglah, dia tak sejahat itu.


"Pak Angga dateng tuh." ucap rekan kerjanya itu, menyadarkan Anggi.


Segera Anggi melangkah mendekati atasannya. "Selamat pagi, pak." sapanya.


"Pagi." sahutnya. "Oh ya, tolong siapkan keperluan rapat. Kita adakan rapat dengan pimpinan divisi hari ini."


"Baik pak." sahutnya membungkuk, memberi hormat. Lalu segera melaksanakan tugasnya.


Setelah selesai melaksakan rapat, tiba-tiba seluruh kantor dihebohkan dengan berita yang tidak mengenakkan tentang Anggi. Sekretaris baru diperusahaan.


"Apa sih kok rame banget?"


"Liat deh! Foto bug*l ini mirip banget kan sama sekretaris barunya pak direktur?"

__ADS_1


"Coba lihat!" mengarahkan layar ponsel pada wajahnya. "Eh, iya bener."


Desas-desus tentang Anggipun berlangsung, begitu banyak gunjingan tertuju pada dirinya.


Dan kabar itu tentu terdengar pada telinga Angga, dan Anggi jadi murung karenanya.


"Kamu tidak makan siang?" tanya Angga pada sekretarisnya yang sedang menangis itu.


Anggi memalingkan mukanya, menghapus cepat airmatanya, lalu menoleh dan tersenyum pada atasannya. "Saya tidak lapar, pak."


"Temani saya makan siang!" pintanya yang tak dapat ditolak.


Lalu dengan malu, Anggi duduk bersebelahan dengan atasannya itu untuk menyantap makan siang bersama.


"Presdir sudah menceritakan semuanya pada saya siapa yang melakukan itu, dan beliau juga sudah menyuruh media untuk menghapus semua fotomu meskipun masih ada beberapa yang tersimpan oleh beberpa orang."


"Terimakasih pak." sahut Anggi, menghapus airmatanya yang tak tahan terus mengalir.


Angga tersenyum, memberikan lauk pada piring sekertarisnya. "Makanlah yang banyak! Saya tahu setiap orang memiliki kesalahan, yang perlu kita lakukan sekarang adalah memperbaikinya bukan?"


Anggi hanya mengangguk untuk membenarkan.


"Jangan menangis lagi! Jangan dengarkan apa yang akan oranglain katakan!"


"Tapi pak, saya ini sudah sehina ini. Saya hanya perempuan kotor." sahutnya, menahan tangis dengan bibir bergetar.


Angga mengehela nafas, menatap sekretarisnya itu. "Kamu tahu? Pembenci akan selalu membencimu, walau kamu melakukan kebaikan sebaik apapun itu. Sebaliknya jika Orang yang mencintaimu, maka dia akan selalu menyukai semua hal yang kamu lakukan dan mencintai apa adanya dirimu." menepuk lengan Anggi. "Jadi, jangan dengarkan apa kata Orang lain! Karena Tuhan menilai dari apa yang kamu lakukan, bukan dari apa yang mereka bicarakan."


Mendengar itu, Anggi mulai mengulas senyumnya kembali. Sungguh dia sangat beruntung sekali lagi dipertemukan dengan orang sebaik ini.


"Terimakasih pak, Anda begitu baiknya."


****

__ADS_1


Entahlah ya, Angga ini akan jadi dengan siapa.


Ratih ataupun Anggi sama suka, Jelaslah! Angga kan tampannya masyaAllah hehe.


__ADS_2