
Ketika Desi selesai dan hendak untuk keluar, tiba-tiba pintu yang sebelumnya baik-baik saja kini tidak dapat ia buka.
"Loh, kok gak bisa dibuka." gumamnya heran, kemudian segera mengendor-mengendor pintu dengan panik. "Tolong! Tolong bukain pintu! Aku ke kunci didalam." teriaknya tak berarti karena tidak ada yang mendengarnya.
"Bagaimana ini?"
Desi mulai menjadi panik, begitu takut akan suasa toilet yang begitu sepi.
Sedangkan disisi lain, Rian dan teman-teman masih dikantin sekolah.
"Desi ngapain aja sih di toilet kok lama banget?" gumam Rian keheranan.
"Iya." sahut Mega. "Gak biasanya dia lama, bentar lagi juga bel masuk."
Karena khawatir, segera Rian beranjak berdiri. "Gue mau nyusul Desi, kalian ke kelas duluan!" ucapnya, sebelum melangkah pergi.
"Oh, oke."
Mereka semua kembali ke dalam kelas, sedangkan Rian sibuk mencari Desi yang entah kemana.
Ia menunggu di depan toilet wanita, ketika seseorang keluar Rian kemudian langsung bertanya. "Didalem ada Desi, gak?"
"Ga ada tuh." sahutnya. "Didalem kosong."
__ADS_1
Seketika Rian jadi panik, lalu mencoba menerobos masuk untuk memastikan. Tapi ternyata didalam memang kosong tak ada orang satupun.
"Apa di toilet ujung, ya." gumamnya, memutar otaknya untuk berfikir.
Ia kemudian segera berlari kearah toilet yang dimana didepan terkunci, bahkan ada peringatan bahwa toilet sedang rusak.
Melihat itu Rian jadi mengacak rambutnya dengan gusar. Ketika ia berbalik untuk pergi, tiba-tiba ia mendengar suara seseorang sedang menangis.
"Desi." tebaknya penuh yakin, lalu menggendor pintu. "Des, apa kamu didalam?"
Desi yang mendengar seketika beranjak berdiri, setelah ia meringkuk pasrah nan ketakutan. "Iya, aku didalam." sahutnya terisak. "Aku tiba-tiba terkunci disini."
"Yaudah, kamu sekarang menjauh dari pintu!" pintanya, dan Desi melakukannya.
Dengan mengambil ancang-ancang, Rian langsung mendobrak pintu berulang dan akhirnya terbuka.
"Sudah jangan nangis ya!" ucapnya sembari mengusap air mata dipipi gadis yang berasa didepannya. "Ada aku disini."
Desi mengangguk, mengiyakan. Sebelum kemudian memeluk tubuh pemuda lagi untuk mencari kenyamanan.
****
"Elo gimana bisa ke kunci didalam?" tanya Loli dan Mega heran.
__ADS_1
"Gue juga gak tau." sahutnya, lalu menoleh pada Mela yang tengah duduk dibangkunya sembari tersenyum menyeringai padanya. "Pasti si lampir itu deh yang cari perkara." tebaknya.
Dengan penuh emosi, Desi beranjak dari duduknya lalu menggebrak meja milik Mela. "Heh, elo kan yang udah ngunci gue di toilet?"
Mela menutup buku yang dipegangnya, lalu menoleh serta mendongak dengan tenang. "Gue gak ngerti apa maksud lo."
"Jangan pura-pura **** deh!" bentaknya. "Selama ini gak ada yang jailin gue kayak gini."
Mela jadi tertawa mengejek serta bersindakap. "Yakin gak ada?" tanyanya kembali membuat Desi jadi mengernyitkan dahi. "Siapa tahu orang itu punya dendam sama elo. Lagian nih ya, gue kan anak baru disini dan gue gak mau cari gara-gara."
"Elo masih gak mau ngaku ya." Desi semakin geram.
"Sudah Des." ucap Rian tiba-tiba menghentikan, karena tidak ingin ada keributan. "Siapa tahu yang dikatakan Mela itu benar."
Desi jadi menoleh. "Maksud kamu apa, Beb? Maksud kamu aku suka ngebully orang lain terus mereka dendam sama aku, gitu?" Desi berdecak keheranan. "Kamu belum mengenal aku ya."
"Des, maksudku bukan begitu."
"Terserahlah." Desi jadi kecewa, lalu kembali ke tempat duduknya semula.
Ya, Desi memang pernah berlaku kasar. Dan itupun hanya pada Putri yang sangat persis dirinya dahulu, yang mudah ditindas ketika lemah.
Ketika Rian masih menganggapnya suka berlaku jahat, ketika ia sendiri ingat sesosok gadis yang pernah melekat dihati Rian. Membuatnya jadi terguncang, seakan pemuda itu masih belum bisa melupakannya.
__ADS_1
****
Pengen cepet cepet Gede dan ketemu Putri he he