
Robi menekan bel Apartemennya yang di tempati Lila. Ia mengantuk sekali. Hari hampir pagi dan dia sibuk semalaman ini. Sudah jadi kebiasaannya menghandle segala masalah yang dihadapi zaky termasuk urusan pribadi. Zaky baginya sudah seperti kakak sendiri, karena selama ini pun Zaky tidak pernah bersikap bossy padanya.
Lila membukakan pintu, Ia melihat wajah lelah Robi lantas memeluknya dengan hangat. Mereka Lalu masuk ke dalam. Lila menyalakan pemanas air untuk membuat coklat panas.
Robi dan Lila lalu duduk di sofa. Robi berbaring merebahkan kepalanya di paha Lila. Lila mengusap usap rambut Robi.
" Kau lelah?"
" Iya, aku belum tidur."
" Apa sedang banyak pekerjaan?"
"Tidak, aku ada sedikit urusan dengan si bos, tapi sekarang sudah selesai."
"Syukurlah kalau begitu."
"Lila, apa kau sungguh tidak mau menerima Adam."
Lila menggeleng.
"Tia memutuskan untuk merawatnya, dan itu membuat perpecahan diantara mereka. Aku pikir, dengan keadaanku yang seperti ini, mungkin kita akan merawat Adam."
"Robi kumohon mengertilah. Melihatnya, membuatku terkenang akan saat saat terburuk dalam hidupku. Aku ingin hidup tenang denganmu, meski kita tidak akan punya anak sendiri. Kita bisa mengadopsi yang lainnya nanti."
Robi menggapai wajah Lila yang tunduk menatapnya. " Kau yakin?"
" Hem." Lila mengangguk.
" Jadi aku tidak salah jika memberikan adam pada orang lain kan?"
"Pada siapa?"
"Aku tidak bisa mengatakannya. Yang pasti seseorang yang akan merawatnya dengan penuh cinta."
---
Kilau cahaya bersinar sempurna dari ufuk timur. Lingkaran besar kuning keemasan terbit perlahan dan malu malu, segenap penjuru bumi menjadi terang menyambut pagi. Zaky menggeliat di atas kasurnya. Tubuhnya terasa begitu penat setelah sempit sempitan bercinta di mobil. Terlebih udara cukup dingin semalam. Ia meraba kasur di sisinya, Tia tidak ada disana. Ia mengerjap membuka perlahan matanya, mencari sosok tercintanya.
__ADS_1
Zaky duduk dengan malas. Ia melihat Tia mondar mandir didepan jendela sambil menelepon. Wajahnya terlihat khawatir, sesekali Tia mengigit jarinya.
" Kau menelepon siapa?"
"Robi."
"Robi? pagi pagi begini? untuk apa?"
"Dia membawa pergi Adam semalam dan tidak mengatakan apa apa pada Bi Tuti. Kemana dia membawanya? Kenapa dia tidak menjawab telponku!"
Zaky sebenarnya enggan beranjak dari kasur, tapi melihat istrinya gundah, terpaksa Ia bangkit. Zaky memeluk Tia dari belakang, sepertinya ini gaya pelukan favoritenya. Tia berhenti menelepon dan tenang untuk sejenak.
" Kenapa kau khawatir sekali. Bayi itu bersama Robi, kau tahu Robi menyayanginya."
Aku hanya gundah, jika dia membawanya pulang ke tempat Lila, apa Lila masih mengamuk? Jika dia membawanya ke Panti, aku harus tau dimana tempatnya."
"Sudahlah, aku akan menyuruh Robi datang nanti. Kita akan bertanya padanya. Sekarang biarkan dia istirahat. Dia juga pasti lelah semalam."
Kali ini Tia menuruti Zaky. Baginya sekarang yang terpenting adalah keluarganya. Meski menyayangi Adam, Ia tak mau lagi bersikap keras kepala seperti kemarin. Kejadian semalam cukup membuatnya belajar tentang arti sebuah komitmen. Semua hal dalam pernikahan memang harus diputuskan bersama agar tidak ada yang merasa diabaikan.
---
Hari hampir siang ketika akhirnya Robi tiba di rumah Zaky. Karena ini hari libur, mereka tidak terburu buru. Zaky dan Robi duduk di ruang kerja, Tia menyusul dengan Nami yang tidak mau bermain dengan Bi Tuti. Setelah sedikit obrolan basa basi, Tia akhirnya bertanya tentang keberadaan Adam.
" Jadi kemana kau membawanya?"
Robi melihat Zaky lalu balik melihat Tia lagi.
" Begini, kalian tahu aku memyayangi Adam kan? jadi aku harap kalian bisa percaya padaku. Aku tidak bisa mengatakan kepada kalian kemana aku membawanya, tapi yang pasti dia dirawat oleh orang yang tepat dan menyayanginya. Aku bersumpah, Jika terjadi hal buruk pada Adam maka aku yang bertanggung jawab."
"Aku hanya perlu tahu Robi, ku mohon, aku Ibu susunya."
"Tia, aku mengerti kau menyayanginya, tapi akan lebih baik jika kau tidak tahu keberadaanya. Aku tidak ingin kehadirannya menimbulkan konflik diantara kalian berdua. Karena jujur saja aku lelah mengurusi kalian. Aku serius."
" Hahaha." Zaky tertawa tergelak. " Apa yang di katakan Robi itu benar sayang. Kau cukup tenangkan saja dirimu, Adam berada di tangan yang tepat. Aku sungguh sangat percaya pada sekretarisku ini."
Tia tertegun. Sebenarnya hatinya agak berat. Tapi kali ini lagi lagi dia harus mempertimbangkan banyak hal. Apa yang di katakan Robi benar, jika ia tahu dimana adam ia tentu akan sibuk untuk bertemu atau malah ikut mengurusnya lagi. Nami mengusap pipi Tia sambil tersenyum. Tia memandanginya.
__ADS_1
Gadis kecilku ini, aku tidak punya cukup waktu untuk bermain bersamanya . Juga ketiga kakaknya. Aku malah ingin merawat bayi orang lain.
Tia lalu mengecup Nami dengan gemas. Nami tertawa panjang dengan suara tawa yang lucu khas bayi.
" Baiklah, ini mungkin yang terbaik bagiku. Aku akan fokus pada anak anakku.."
"dan aku."kata Zaky.
Membuat mereka bertiga lalu tertawa.
"Akhirnya sekarang aku punya waktu untuk mengurus urusanku sendiri. Mobilku terparkir di tepi jalan menunggu untuk di derek." kata Robi sambil melirik Tia. Tia mengatup kedua bibirnya.
"Haha.. bersabarlah." Ujar Zaky lagi.
---
Flasback >
Tadi malam setelah bertemu Tia dan meminjamkan mobilnya, Robi mengambil Adam dari Bi Tuti dan pergi membawanya beserta barang barang nya dengan taksi. Robi menelepon seseorang dan berjanji untuk segera bertemu. Menit demi menit berlalu hingga kemudian Ia berada di depan rumah mewah dengan pagar besi yang tinggi. Penjaga rumah mengijinkannya masuk dan mengantarnya ke dalam. Ia duduk di sofa menunggu pemilik rumah menghampiri mereka. Udara begitu dingin karena hujan yang cukup deras, Adam tertidur pulas dalam pelukan Robi.
Akhirnya si pemilik rumah keluar. Wanita itu tampak berkaca kaca ketika melihat Adam. Ia pun mengulurkan tangannya, dengan gemetar ia menggendong Adam untuk pertama kali. Airmatanya jatuh ke wajah bayi itu membuatnya menggeliat, namun ia masih lelap, enggan untuk terjaga. Wanita itu menghujani adam dengan kecupan. Ia merasa begitu bahagia, di pandanginya bayi itu lekat. Wanita itu, dia adalah Mira.
" Aku mengerti keadaanmu Mira, sama sepertimu, aku juga tidak akan bisa punya anak. Aku menyerahkan Adam padamu, Lila tidak menginginkannya. Tia ingin merawatnya tapi kehadiran Adam tidak baik untuk rumah tangga mereka, bagaimanapun Adam adalah anak Benny. Dan karena itu pula aku memberikannya padamu. Tataplah Ia sebagai putra Benny, pria yang kau cintai. Anggaplah dia putramu sendiri, bukan bayinya Lila."
Mira mengangguk, matanya masih basah.
" Terima kasih Robi. Kehadirannya menghapus kesedihan dalam hidupku. Aku memiliki putra yang tidak bisa ku miliki. Putra Benny, setidaknya aku akan mendapatkan cinta dari putranya. Aku bersumpah akan merawatnya dengan baik."
" Aku percaya padamu Mira. Adam alergi susu sapi, kau harus pergi ke rumah sakit untuk mencari ASI untuknya, ini mungkin agak merepotkan, tapi demi kebaikan Adam. Jika stok ASI donor sedang kosong, Dokter menyarankan pemberian susu jenis soya untuknya. Adikku seorang dokter anak, aku sudah bertanya padanya tentang hal ini."
" Baik Robi, aku mengerti. Terima kasih Robi, aku tidak akan melupakan kebaikanmu. "
Robi pulang dengan bahagia malam itu. Tadinya ia sedih karena sejak Lila mengandung, Robi berpikir akan menjadi ayah bayi itu. Tapi kenyataan tak seindah yang Ia bayangkan. Meski demikian Ia bahagia Adam bersama orang yang tepat sekarang.
Mira memandang bayi mungil yang tertidur di kasurnya. Ia seakan tidak bosan menatapnya seperti itu.
Pasti akan merepotkan setelah kehadiranmu. aku mungkin akan terjaga di tengah malam, bergelut dengan popok dan mendengar suara tangismu sepanjang hari. Tapi itu semua tidak sebanding dengan kebahagiaanku bisa memilikimu. Adam sayang, Kau anakku. Demi putra Tia yang ku biarkan pergi, aku akan merawatmu dengan segenap cintaku. Kau juga akan bertemu Tia nanti jika itu bisa membuatnya bahagia. Terimakasih Robi. Terimakasih Tia.
__ADS_1