
Kini Dedi sudah pulang, dan seperti biasa istrinya selalu menyambutnya datang.
"Papi udah pulang." sapanya, dan Dedi memeluk serta mengecup dahinya.
"Iya, maaf ya papi pulang malam lagi dan gak bisa nemenin mami."
"Gak apa-apa kok sayang." sahutnya, mengelus wajah lelah suaminya. "Kamu sudah bekerja keras hari ini, terimakasih banyak."
Ucapan itu membuat Dedi begitu bersyukur, istrinya selalu mendukungnya. "Kita makan bareng yuk! Papi udah laper." ajaknya sambil merangkul istrinya.
Sefia mengangguk. "Yuk!" sahutnya. "Oh ya, Rian pengen minta ijin sama papi."
"Ijin buat apa, mi?"
"Katanya dia mau bawak motor sendiri besok, dia ngomong ke mami tadi."
"Oh! Yaudah, bentar lagi papi ke kamarnya."
Setelah selesai Dedi makan malam bersama istrinya, ia kemudian membersihkan diri dan mengganti pakaiannya dengan pakaian santai lalu melangkah masuk ke kamar anaknya.
"Rian." sapa Dedi ketika masuk ke kamar anaknya, sedangkan Rian menyibukkan diri belajar untuk persiapan ujian semester yang mendekati.
Rian menoleh. "Papi." sapanya juga.
Dedi duduk ditepi ranjang, menyilangkan kakinya, dan Rian menutup bukunya kemudian melangkah duduk disamping sang papi.
"Papi pasti udah denger dari mami, ya?" tebak Rian.
Dedi mengangguk. "Iya, emangnya Rian udah sehat betul? Kalau misal Yuda sibuk gak bisa jemput, ada supir yang siap anterin Rian kok."
Rian menggeleng cepat. "Gak gitu kok pi, cuma Riannya aja yang pengen bawak motor sendiri. Rian juga bener-bener udah sehat."
Seketika Dedi diam sejenak, kemudian menepuk-nepuk pelan punggung anaknya itu. "Baiklah kalau kamu maksa, papi gak bisa berbuat apa-apa. Tapi kamu harus hati-hati ya!" pintanya.
Rian mengangguk senang. "Iya pi, Rian pasti akan lebih hati-hati. Rian tahu papi sama mami khawatir, tapi Rian beneran akan hati-hati."
Dedi tersenyum. "Baguslah kalau kamu mengerti." ucapnya. "Oh ya, tumben Yuda malam ini gak main kesini?"
"Ah, mungkin dia lagi keluar pi. Katanya sih mau kencan sama Mega."
"Loh, kok duluan Yuda sih? Kamunya kapan?" ledeknya, membuat Rian jadi mendengus.
"Yah, papi! Rian malam ini serius belajar, gak akan ganggu mami sama papi lagi. Jadi gak usah maksa Rian buat cari pacar."
"Hm." Dedi jadi berpura-pura berpikir dan tersenyum meledek. "Oke kalau gitu, selamat belajar dan jangan keluar kamar." pamitnya, beranjak kemudian keluar kamar.
"Huh!" membanting tubuhnya diatas kasur, lalu teringat pada sosok gadis yang sangat periang dan aktif itu. "Astaga! Kenapa gue jadi inget Desi sih? Arrrghh!" gumamnya, mengacak rambutnya frustasi.
****
Sementara itu Yuda tengah berjalan santai bersama dengan Mega, mereka terlihat tersenyum malu-malu sebelum kemudian Yuda menggerakkan jemarinya untuk menggapai jemari milik Mega dan menyatu.
Megapun menjadi bersemu merah, begitu senang dengan perlakuan hangat Yuda padanya.
__ADS_1
Mereka berjalan ditengah keramaian, dan sepanjang jalan juga banyak penjual pernak -pernik yang sangat lucu kemudian mereka saling mencobanya.
"Foto yuk!" ajak Mega ketika mereka saling mengenakan bando berkarakter lucu.
Yuda mengangguk, mengiyakan. Dan segera mereka mengambil foto bersama.
"Kamu ngapain?" tanya Yuda kemudian ketika melihat Mega mengetik sesuatu diponselnya.
"Ada deh." sahutnya.
Saat Mega memposting foto mereka berdua di media sosial, bahkan menjadikannya foto profil. Sontak Desi dan Loli jadi heboh sendiri.
"Anjirrr! Cepet bener nih kutu berdua." umpatnya.
"Ha ha, kalah telak lo Des!" Ledek Loli yang berada disampingnya.
"Liat aja besok! Gue gak akan kalah." ucapnya sangat yakin.
Setelah lama berjalan santai, Yuda mengajak Mega memasuki restoran sederhana khas jepang untuk menyantap makan malam.
"Kamu suka ga kalo aku ajak kesini?" tanya Yuda ragu.
"Suka kok." sahutnya.
"Ah, untunglah." Yuda jadi lega. "Maaf aku tidak bisa mentraktirmu direstoran eropa, atau seperti restoran kelas atas lainnya."
"Tidak apa-apa kok, aku ini suka sekali sama sushi. Sama makanan mentah seperti ini."
"Mega." sapa Yuda ragu.
"Iya, Yud? Ada apa?" tanyanya, sembari mengunyah makanan yang sudah dipesannya.
Yuda jadi begitu gugup, bahkan ia dengan susah payah menatap mata gadis yang tengah berhadapan dengannya itu.
"A..Aku sebenarnya." ucapnya gugup.
"Iya, sebenarnya kenapa?"
"Aku suka kamu." ucapnya meneruskan.
Sontak Mega jadi tersedak dan terbatuk-batuk, dan segera Yuda mengambil segelas air minum untuk ia berikan pada Mega.
"Kamu gak apa-apa?" tanya Yuda panik.
"Gak apa-apa kok." sahutnya, begitu malu. "Aduh, kenapa gue malah kesedak sih." gumamnya pada diri sendiri.
"Kamu gak usah jawab sekarang kok, aku gak butuh jawabanmu sekarang."
Mega tersenyum. "Iya."
Merekapun melanjutkan makan malam mereka, sebelum kemudian mereka pulang bersama.
Setelah selesai makan malam, mereka memutuskan untuk pulang sebelum larut malam.
__ADS_1
"Pegang yang erat ya!" pinta Yuda, dan kali ini Mega memeluk pemuda itu tanpa ragu.
Sedangkan Desi tengah merebahkan tubuhnya diatas kasur, sembari membaca novel kegemarannya.
"Des! Des!" panggil Loli berlari ketika melihat Yuda dan Mega sudah datang. "Mereka udah dateng tuh." ucapnya memberitahu.
Seketika Desi langsung beranjak berdiri, menaruh novelnya diatas kasur lalu berlari kearah jendela untuk mengintip kedua temannya itu.
"Mereka bakal mirip kayak drama-drama gak sih?" tanya Desi girang.
"Kita liat aja!" sahut Loli tak kalah antusias.
Saat sampai didepan rumah, Yuda seperti biasa membantu Mega membuka helm yang dikenakannya.
"Masuk gih, udah malem!" pintanya mengacak gemas rambut gadis itu. "Sampai ketemu besok disekolah."
"Iya, sampai ketemu besok ya." sahutnya, melebarkan senyumnya.
"Yaudah, aku pulang dulu!" pamitnya sembari naik keatas motornya. "Malam."
Saat pemuda itu ingin memakai helm yang menutupi wajahnya, segera Mega melangkah kemduian dengan berani mengecup pipinya. "Malam juga." sahutnya ketika sudah berhasil melayangkan kecupan.
Sontak Yuda jadi membelalak, masih dengan keterkejutan yang sama. Sedangkan Mega yang malu segera masuk kedalam rumah.
"Hati-hati dijalan." ucap Mega seraya berteriak, sebelum kembali menutup pintu rumah.
Yuda pun memegangi pipinya bekas Mega kecup tadi, ia kemudian tersenyum senang dan segera melajukan kendaraannya untuk pulang.
Desi dan Loli tentu saja meloncat heboh melihat adegan tadi, dan Mega sudah tahu pasti kalau kedua temannya sudah melihatnya.
"Yang lagi kasmaran, cie cie." ledeknya.
"Apaan sih." Mega malu-malu.
"Gimana tadi? Udah resmi jadian dong, ya?" tanya Desi penasaran.
"Dia bilang suka sama gue tadi." sahutnya, sontak Desi dan Loli menjerit.
"Terus! Terus!"
"Tapi gue belum jawab."
"Yah." Mereka jadi kecewa. "Kenapa gak langsung aja, sih? Lo kan juga suka sama Yuda."
"Ya, iya suka. Tapi gue gugup banget tadi." sahutnya dengan sedih. "Dia gak akan berubah pikiran secepat itu, kan?"
Desi menepuk pelan bahu temannya. "Tenang aja! Gue pastiin si Yuda gak akan pindah ke lain hati, tapi lo harus segera jawab."
Mega mengangguk. "Iya, pasti."
****
Kamsamida :*
__ADS_1