
Zaky tengah asyik berbincang dengan James Watson ketika kemudian ponselnya berdering, Zaky meminta ijin untuk menjawab panggilan itu. Ia berdiri di pojok ruangan dan menjawab panggilannya, seketika raut wajahnya berubah gusar. Zaky mematikan panggilan itu dan segera pamit pada beberapa rekan. Ia berlari ke lift hingga ke parkiran. Dipacunya mobilnya dengan kecepatan tinggi, pikirannya melayang entah kemana. Yang ada dalam kepalanya entah bagaimana keadaan Tia sekarang, bayangan buruk berputar di kepalanya. Ia ketakutan sendiri mengingat apa yang mungkin terjadi pada istri dan bayinya.
Zaky begitu kalut dan panik, nyaris beberapa kali ia hampir bertabrakan dengan pengguna jalan lain. Ia tidak peduli, jantungnya seperti mau meledak saat ini. Ingin sekali ia berteleportasi, hingga bisa tiba di rumah sakit saat ini juga. Setelah bergulat dalam begitu banyak pertanyaan, akhirnya ia tiba di rumah sakit tepatnya diinstalasi gawat darurat. Tampak di sana Pak Pandi dan Robi, Bi Tuti bersama dokter dan seorang perawat berada di dalam ruang tindakan. Zaky menghampiri kedua pria itu.
" Dimana anak anak?"
" Di rumah bersama Lila, kami segera kesana setelah Pak Pandi menelepon."
"Dimana Tia? Bagaimana keadaannya, dan kau pak, mengapa tidak menjaga istriku!" Zaky membentak Pak Pandi.
"Bos, ini bukan saatnya untuk menyalahkan. Kita fokus pada keadaan Tia dulu." Robi menahannya dan membawanya duduk ke kursi tunggu.
Zaky beringsut dan duduk di bangku tunggu. Sesaat kemudian dokter keluar. Bi Tuti merinding saat melihat Zaky di sana. Ia takut sekali karena telah gagal menjaga Tia dengan baik.
"Yang mana suaminya?" tanya dokter pada mereka semua.
" Saya dokter." jawab Zaky.
" Bisa kita bicara sebentar. Ikuti saya." Dokter berjalan meninggalkan mereka semua.
Zaky mengikuti dokter ke ruangannya yang tidak begitu jauh dari ruang tindakan tadi. Sampai di sana mereka duduk saling berhadapan
" Baiklah pak, Langsung ke poinnya saja. Istri bapak koma karena pendarahan berat di kepala. Dan saya sangat khawatir dengan keselamatan istri anda dan bayinya. Segera mungkin jika bapak mengijinkan, kita akan melakukan operasi caesar untuk menyelamatkan bayinya, sekaligus juga melakukan operasi bedah otak untuk menghentikan pendarahan di kepala. Operasi ini kemungkinan berhasilnya 50:50 mengingat pendarahan yang terjadi cukup serius. Tidak ada pilihan lain yang bisa kita lakukan pak. Jika bapak setuju, tanda tangani surat ijin ini, maka kita akan segera melakukan tindakan operasi."
Zaky memejamkan matanya.
Ya Tuhan, apa kesalahan kami sehingga hal buruk terus terjadi.
Zaky menarik kertas yang disediakan dokter padanya. Ia menandatanganinya dengan tangan yang gemetar, dan mendorongnya kembali ke hadapan dokter.
"Baik pak. Saya akan mempersiapkan prosedur operasi. Silahkan tunggu di luar."
__ADS_1
Sementara dokter mempersiapkan operasi untuk Tia, Zaky pergi melihat keadaan istrinya di ruang tindakan IGD. Tampak wanita yang di cintainya terbujur di bangsal dengan kepala yang terluka dan masih berdarah. Kulitnya tampak pucat dan tangannya terasa begitu dingin. Rambutnya masih basah karena tenggelam dalam air kolam. Zaky duduk di tepi bangsal menggenggam tangan istrinya dan mencium lama perut Tia yang membuncit.
Sayang, aku mohon bertahanlah. Kau kuat, kau wanita yang hebat, bertahanlah untuk anak anak kita. Bertahanlah untuk bayimu. Bertahanlah untukku, aku tak bisa membayangkan jika harus hidup tanpa mu. Tia istriku, aku mohon bertahanlah.
Zaky terisak disana, namun wanita dalam dekapannya hanya terbujur kaku, bahkan napasnya hampir tak terasa menerpa. Dokter datang dan meminta ijin Zaky untuk membawa Tia ke ruang operasi. Zaky melepaskan kepergian istrinya tanpa mampu berkata kata. Ia keluar duduk bersama Pak Pandi dan juga Robi. Robi menepuk pundak Zaky untuk menguatkannya. Bi Tuti berdiri di pojok takut sekali pada Zaky. Ia sungguh merasa bersalah karena membiarkan Tia berjalan sendiri ke dalam.
Malam menjelang, operasi sudah dimulai, lampu di pintu ruang operasi sudah menyala. Zaky tidak bisa duduk tenang, Ia berdiri dan berputar putar, sesekali tampak ia memijat dahinya juga sesekali merampas rambutnya hingga tampak berantakan. Zaky melihat Bi Tuti dari sudut matanya, Ia baru terpikir untuk bertanya apa yang sebenarnya terjadi. Zaky duduk di samping Bi Tuti dan menatap wanita tua itu. Dua matanya segera basah saat melihat Zaky.
"Bi, aku tidak akan memarahimu, katakan padaku apa yang terjadi, kenapa dia bisa ada di pinggir kolam?"
Sambil menangis bisa titip menjelaskan. " Anak anak bermain di kolam sore tadi. Tia merasa bosan dan ingin turun untuk melihat anak anak, saya sudah melarangnya, namun saat saya ke dapur untuk mengambil jus dan cemilan untuk anak anak sebelum mereka mulai mandi, dia malah sudah ada di sana. Saya memintanya masuk dan hendak mengantarnya ke dalam, tapi ia tidak mengijinkan saya meninggalkan anak anak di kolam tanpa pengawasan. Saat saya berbalik, Ia sudah jatuh terbentur dengan pembatas kolam dan tercebur. Saya dan Pak Pandi mengangkatnya naik dari kolam. Ia sudah tidak sadarkan diri."
Zaky menyandarkan kepalanya ke dinding. Dalam hati Ia menyesalkan kenapa Tia turun dari kamar. Sejak mereka tahu tentang kehamilan Tia, dan apalagi setelah tahu bayinya laki laki, Zaky sangat overprotective, Ia bahkan terkesan seperti mengurung istrinya itu di kamar, Tia baru keluar dan jalan jalan hanya jika bersama Zaky.
Setengah jam kemudian pintu ruang operasi terbuka. Tampak dua orang perawat keluar membawa bayi dalam inkubator. Semua yang berada di ruang tunggu seketika berdiri menyambut bayi itu. Hati Zaky bergetar.
"Selamat pak. Bayi anda lahir selamat, dia laki laki.."
"Kami akan membawanya ke ruang bayi, istri bapak sedang menjalani operasi bedah otak. Mohon doa untuk ibu sang bayi."
Bi Tuti tidak mampu menahan tangisnya lagi. Melihat bayi mungil yang berwajah suci seperti ibunya itu membuatnya begitu bersedih. Bayi itu meninggalkan mereka. Robi merangkul Zaky yang terlihat tak berdaya setelah melihat si bayi tadi.
---
Di rumah, Lila terus menenangkan anak anak. Naya dan Nami sudah tertidur sementara Zoya dan Ifa masih terus bertanya tentang keadaan mamanya dan calon adiknya. Lila mengatakan pada Zoya dan Ifa untuk tidak khawatir, berdoa untuk mama dan bayi adalah yang terpenting sekarang.
Lila mendapat panggilan dari robi, Ia segera menjawabnya.
" Kau baik baik saja bersama anak anak?" tanya Robi dari seberang.
" Iya, bagaimana keadaan kakak?"
__ADS_1
" Bayinya telah lahir dengan selamat melalui operasi caesar. Tia sedang menjalani operasi bedah otak. Berdoalah untuknya."
Lila menangis mengingat Tia yang telah di dianggapnya seperti kakak sendiri.
" Kau istirahatlah bersama anak anak. Kau juga sedang hamil. Ini hari yang berat untuk kita semua. Aku akan mengabari lagi nanti."
" Baik sayang."
Lila menutup panggilan dan air matanya berlinang. Zoya dan Ifa memeluknya. Lila memberitahu bahwa adik bayi telah lahir, tapi mama belum selesai operasi. Mereka bertiga berdoa bersama.
---
Jam menunjukkan pukul 12 malam. Lampu di pintu Ruang operasi berubah hijau. Tak berapa lama pintu itu terbuka. Dokter keluar dari sana dengan wajah yang gusar, beberapa asisten dan perawat juga keluar dari sana. Semua yang menunggu segera berdiri, Zaky bertanya bagaimana keadaan isterinya, dan dokter memintanya untuk bicara di ruangan.
Tiba di ruangan, Zaky yang gundah segera memaksa dokter menjawab.
" Ada apa dok? katakan!"
" Begini pak, Operasi telah selesai dan kami sudah melakukan semua yang kami mampu untuk menyelamatkan istri bapak. Masa kritis sudah di lewati dan pendarahan di otak sudah tertangani. Namun sayangnya isteri bapak mungkin tidak akan segera sadar dalam waktu dekat. Ia masih dalam keadaan koma. Semua ini kini tergantung pada kuasa Tuhan dan kekuatan istri bapak. Semoga akan ada keajaiban."
Zaky terkulai lemas bersandar di kursi. Kenapa harus koma jika operasinya berjalan lancar.
Sayang aku mohon bangunlah.. Anak kita sudah lahir. Ben kecil, Kau ingin mengamatinya Ben kan?
" Berapa lama ia akan sadar dok? "
"Saya tidak bisa memastikan. Selama koma, kami akan memasang life-sustaining therapy atau alat penopang kehidupan padanya. Itu cara agar Ia dapat bertahan. Berdoalah yang terbaik untuk istri anda pak."
Dan langit bagaikan runtuh bagi Zaky mendengar bahwa istri yang begitu di cintanya hidup dan bertahan dengan sebuah alat. Entah apa yang akan terjadi esok.
---
__ADS_1
💕💕💕