SELINGKUH

SELINGKUH
AFFECTION : Ramalan Cuaca


__ADS_3

"Mama." sapa Desi, berlari masuk kedalam rumah dan langsung memeluk mamanya. Melepas segala kerinduan yang sudah lama ia pendam. "Desi kangen banget sama mama."


"Mama juga kangen, Nak." sahutnya sembari mengelus rambut serta punggung anaknya. "Kangen banget." tekannya.


"Papa mana, ma?" tanyanya ketika melepas pelukannya, dan mengedarkan penglihatannya.


Seketika mama Desi menunduk sedih. "Papamu lagi sakit, jadi dia gak bisa ikut kemari."


"Papa sakit apa, ma? Papa bakal baik-baik saja kan, ma?" tanyanya begitu khawatir.


Ia kemudian mengelus rambut anaknya dengan sayang sebelum menjawabnya. "Papa pasti bakal baik-baik saja, cuma kecapekan aja kok."


"Ah, syukurlah." Desi menghela nafas lega sebelum memeluk lagi mamanya dengan erat.


"Mama ada hadiah buat kamu." ucapnya, mengambil kotak hadiah yang dikemas cantik untuk anaknya. "Ini buat Desi, selamat ulang tahun dan selamat sudah juara matematika tingkat nasional."


"Jadi mama sama papa tahu kalo Desi ikut lomba?" tanya Desi dengan senang, dan sang mama menganggukkan. "Terimakasih banget ma, Desi sayang banget sama mama, papa." ucapnya dalam pelukannya berkali-kali, ketika sudah menerima kotak hadiahnya.


"Kita juga sayang banget sama Desi, cuma kitanya sibuk aja. Jadi tolong Desi ngertiin, ya?!"


Desi mengangguk. "Iya, Desi ngerti kok ma."


"Anak baik." ucapnya dengan bangga, mengelus rambut anaknya. "Mama harus kembali Nak, papamu sedang sakit dan membutuhkan mama. Desi gak keberatan kan mama tinggal lagi?"


Desi menggelengkan kepalanya. "Gak apa-apa kok, ma. Dengan mama pulang dan nemuin Desi meski sebentar, Desi udah bersyukur karena bisa ngobatin kerinduan Desi sama mama."

__ADS_1


Mendengar itu, mama Desi begitu bersyukur dan terharu. "Terimakasih sayang sudah mau mengerti kita."


"Terimakasih kembali untuk mama dan papa."


****


Semalaman Rian tidak bisa tidur dengan nyenyak, memikirkan gadis itu dengan begitu gembiranya.


Jatuh cinta memang kadang membuat bahagia meski hanya mengingat wajahnya saja.


Kini Rian bangun lebih pagi dari biasanya, membawa payung untuk persediaan akan adanya hujan.


Langit memang begitu cerah, tapi menurut ramalan cuaca yang ia baca. Sebentar lagi akan turun hujan, entah itu tepat atau tidak.


"Bebeb." sapa Desi menghampiri ketika turun dari mobil dan langsung bertemu dengan pemuda yang disukainya.


"Hai." sapanya dan Desi membalasnya. "Ke kelas bareng yuk!" ajaknya kali ini, membuat Desi jadi tersenyum.


Desi mengangguk. "Yuk."


Mereka berjalan berdampingan, antara gerbang sekolah dengan gedung memang cukup jauh ketika berjalan kaki karena terhadap halaman luas.


"Bebeb ngapain bawa payung?" tanya Desi heran, ketika melihat cuaca begitu cerah.


Ketika itu Rian hanya tersenyum tanpa menjawab, melihat jam tangannya dan mulai menghitungnya. "Satu Dua Tiga."

__ADS_1


Seketika Rian membuka payungnya dan mendorong bahu Desi untuk ia rangkul dan mendekat padanya.


Hebatnya ramalan itu benar adanya. Hujan kemudian datang begitu tiba-tiba membuat Desi tersenyum senang melihatnya.


Murid yang lain berlarian memasuki gedung, tidak untuk mereka berdua yang kini saling tatap dan juga tersenyum dibawah payung bersama.


"Kok bisa kebetulan banget gini sih." Desi keheranan, tapi ada kebahagiaan yang tidak bisa ia ungkapkan melalui kata-kata.


"Gue hebat kan?" sahutnya memuji diri sendiri.


Desi mengangguk. "Iya." sahutnya penuh dengan senyum kebahagiaan.


Tanpa diduga, Rian menggapai jemarinya dan menyatukannya, membuat Desi jadi tertegun karenanya. "Yuk, jalan lagi ke kelas."


Desi hanya mengangguk, memandangi dengan lamat wajah pemuda yang kini berjalan beriringan dengannya, lebih lagi menyatukan jemari mereka berdua.


Sungguh hanya begitu saja, membuat keduanya menjadi bahagia luar biasa.


****


Kalo udah Konflik, jangan Nge gas loh yaa!!!


Readers : kapan gedenya, Thor?


Author : beberapa episode lagi :*

__ADS_1


__ADS_2