SELINGKUH

SELINGKUH
Meminjam Uang


__ADS_3

Kini sudah pagi hari dan Sefia membantu suaminya merapikan jas dan dasinya sebelum berangkat ke kantor.


"Oh ya sayang, aku lupa ngasih tau. Aku dapat undangan pesta nanti malam dari temenku, mau ikut gak?"


"Gak deh, Rian gak ada temennya." sahut Sefia sembari merapikan dasi milik suaminya.


"Kan bisa dijaga Ratih sementara waktu, atau aku juga nyuruh para pelayan buat gak pulang."


"Duh gimana ya? Aku gak biasa datang ke pesta kayak gitu, takutnya aku nanti malah malu-maluin kamu."


Dedi menarik pinggang istrinya agar menempel padanya. "Jangan ngomong seperti itu! Klo kamu gak ikut, aku juga gak akan datang."


"Loh, kenapa? Dateng aja!" Sefia heran, sembari mengalungkan kedua lengannya dileher milik suaminya.


"Ini pesta temen-temen lamaku loh, semacam reuni. Aku takut kegoda kalo ga ada yang jaga." ucapnya bercanda, justru mendapat pukulan didada dari istrinya.


"Janganlah!"


"Jadi, gimana?" tanyanya lagi, membuat Sefia berpikir dan tak ada pilihan lain.


Sefiapun mengangguk. "Ikut deh! Daripada suamiku yang tampan ini diambil orang." mencubit pipi suaminya dengan gemas.


Dedi jadi tertawa lalu melumat bibir istrinya dengan lembut. "Aku gak begitu sibuk hari ini, karena besok aku keluar kota buat liat perusahaan cabang." ucapnya ketika melepas pagutannya.


"Jadi, besok malam gak pulang?" tanya Sefia menebalkan bibirnya.


Membuat Dedi gemas, menarik pucuk hidungnya. "Kalo memungkinkan, aku langsung pulang kok."


"Baiklah, kalo gitu nanti sore ikut aku cari gaun pesta."


"Oke." Dedi menangkup kedua sisi pipi istrinya, lalu mengecup semua sisi wajahnya sekilas membuat Sefia geli dibuatnya.


"Udah ah." memukul dada suaminya agar berhenti menciuminya. "Udah siang! Berangkat gih!"


"He he, oke. Aku berangkat kerja dulu ya sayang." pamitnya.


"Iya, hati-hati."


Dedipun segera menaiki mobil dan langsung menuju perusahaan.


****


Disisi lain, Anggi tengah memijat badannya yang terasa nyilu akibat semalam diperlakukan kasar oleh kekasihnya.


"Selamat pagi, pak." sapa Anggi ketika Dedi memasuki kantornya.


Seperti biasa, Dedi tidak menjawab bahkan tanpa menoleh sedikitpun pada bawahannya tersebut.


Ia terus berjalan memasuki ruangan, dan Anggi mengikuti jalan dibelakangnya. Sampai ketika Dedi duduk di kursi kerjanya, Anggi masih terus mengikutinya dengan posisi tegap.


"Ada apa?" tanya Dedi kemudian.


Dengan ragu, Anggipun menjawab. "Apa saya bisa berbicara sesuatu?"


"Ya, duduklah!" Anggipun duduk dengan ragu. "Kamu ingin berbicara mengenai hal apa denganku?"

__ADS_1


Anggi memejamkan matanya dan berbicara dengan lantang. "Saya ingin pinjam uang, pak"


"Uang?" Dedi bertanya, mengulang kata.


Anggipun mengangguk dengan cepat. "Iya pak, maaf." ucapnya menunduk sedih. "Saya sangat butuh pak."


"Kamu baru bekerja disini, bagaimana bisa kamu berani meminjam uang padaku?"


"Saya benar-benar butuh dan mendesak, bapak boleh memotong dari gaji saya." Anggi memegangi tangan Dedi tapi ia menepisnya. "Saya mohon pak."


"Jangan menyentuh saya sembarangan!" dengusnya kesal. "Baiklah, berapa jumlah yang kamu inginkan?"


"Se..seratus juta pak." sahutnya gelagapan.


Tanpa banyak tanya, Dedi langsung memberikan Anggi cek senilai yang dia inginkan. "Keluarlah! Jangan menggangguku!" ucapnya ketika memberikan cek.


Anggi menerima cek tersebut, kemudian beranjak dari duduknya. "Terimakasih banyak pak."


Iapun langsung berbalik dan segera keluar.


"Ya Tuhan, kenapa masih ada orang sebaik dia. Aku benar-benar menginginkan pria sepertinya." gumamnya sedih, sekaligus lega.


****


"Ga, Angga." teriak mama Lidia pada anaknya.


"Ada apa sih, ma? Sampek teriak-teriak gitu?" sahut Angga keluar dari kamarnya.


"Ini loh anakmu rewel banget." ucapnya kesal.


"Mama suruh dia ke supermarket sebentar."


"Emangnya pembantu kita kemana? Mama kan bisa nyuruh dia."


"Dia kan lagi bikin kue buat mama." sahutnya enteng. "Kamu gendong anakmu dulu, mama capek mau tiduran."


"Ya ampun ma, cuma jagain Yuda bentar kok gak mau sih."


"Mama gak peduli sama anak haram itu, sampai kapanpun mama gak akan sudi." sahutnya ketus, lalu langsung berbalik untuk kekamarnya.


Anggi bisa menggelengkan kepala atas sikap mamanya yang tak berubah. "Mama, mama." ucap Angga berdecak.


Lalu tak lama kemudian Ina pun datang membawa barang yang dipesan Lidia.


"Ya ampun, maaf pak saya tinggal bentar." ucap Ina khawatir dan mengambil Yuda kedalam pelukannya.


"Gak apa-apa kok, In." sahut Angga. "Yaudah aku berangkat kerja dulu ya! Kalo mama nyuruh kamu lagi, jangan pernah mau! Bilang aja ini perintahku."


"Baik pak." sahut ini mengangguk.


Angga kemudian mengelus kepala anaknya dengan lembut, lalu menciumnya. "Papa berangkat dulu ya, sayang." ucapnya kemudian berlalu pergi.


Sungguh Ina merasa sangat tersentuh. "Beruntungnya anak ini bertemu sesosok orangtua sepertinya." gumam Ina penuh kagum.


****

__ADS_1


Kini Sefia sudah bersiap diri untuk pergi keluar menemui suaminya di kantor.


"Rat, aku pergi dulu ya! Titip Rian, kalo ada apa-apa segera hubungi." ucap Sefia pada babysitter anaknya itu.


"Baik Nyonya." sahutnya, sembari menggendong Rian.


"Mama pergi dulu, sayang." ucap Sefia mengecup pipi anaknya lalu segera berlalu pergi menemui suaminya.


Disisi lain, Dedi tengah keluar dari ruang rapat yang baru saja ia hadiri. Kemudian ia berjalan memasuki ruangan kerjanya dengan diikuti sekretaris pribadi dibelakangnya.


Dedi berbalik, menatap sekretarisnya. "Oh ya, nesok kita kan ada perjalanan keluar kota, tolong bawakan aku beberapa laporan mengenai perusahaaan cabang yang akan kita kunjungi besok!"


"Baik, pak."


Anggipun segera keluar dan mengambil beberapa berkas yang dibutuhkan untuk ia berikan pada atasannya itu, dan ketika ia keluar dari ruangan khusus menyimpan dokumen penting.


Ia melihat Sefia dari kejauhan berjalan menuju ruangan atasannya. "Oh, dia yang namanya Sefia istrinya pak Dedi." tebaknya.


Lalu Anggi dengan sigap masuk ke ruang kerja atasannya dengan buru-buru.


Sesampainya disana, Anggi pura-pura menjatuhkan beberapa berkas ditangannya.


"Aduh!" keluhnya, membuat Dedi menoleh.


Dedi berdecak, lalu beranjak dari duduknya untuk membantu sekertarisnya membereskan berkas yang berserakan.


"Maaf pak." ucap Anggi, menahan senyum.


Saat berkas itu terkumpul rapi, dan Anggi beranjak berdiri. Seketika itu pula ia pura-pura terjatuh dan refleks Dedi langsung menangkapnya. "Kamu gak apa-apa?" tanya Dedi pada Nadin yang ada dipelukannya.


Saat itu pula, Dedi tak menyadari bahwa Sefia melihatnya sekilas telah memeluk perempuan lain di depan matanya.


Seketika Sefia mengepalkan tangannya penuh emosi, dan dia malah berbalik keluar dari ruang kerja suaminya sembari menghapus air mata yang menetes karena emosi bergejolak.


Sefia menahan nafas sejenak, mengatur nafasnya agar teratur kembali. "Jangan cemburu! Jangan cemburu! Tenang." ucapnya pada dirinya sendiri. "Aku yakin ini adalah kesalah pahaman, hufffft." menepuk dadanya agar kuat.


Ia kemudian berbalik kembali dan memasuki ruangan suaminya. "Sayang." sapa Sefia.


Dedipun berbalik. "Hai." balas Dedi menyapa dan langsung mengecup pipi istrinya didepan sekretarisnya itu.


Anggi yang melihat itu, langsung mengepalkan tangan seketika. "Saya permisi dulu pak." ucap Anggi menunduk dan pergi.


Tapi Sefia sangat tahu, ketika Anggi berlalu melewatinya. Sekilas tatapan tajam darinya mengartikan bahwa dirinya adalah musuh bagi perempuan yang baru saja dipeluk suaminya itu.


Aku harus berhati-hati.


****


TOLONG VOTE POIN, LIKE DAN KOMEN.


Yang belum tahu caranya vote bisa klik VOTE disebelah nama Author, lalu Klik jumlah poin yang ingin kamu berikan 10,100,1000.


Janji nanti sore bakal Crazy Up :*


Ditunggu ya!!

__ADS_1


__ADS_2