
Rian kini sudah sampai parkiran perusahaan, dan teringat tentang seragam milik adiknya itu.
"Ditaruh dimana, ya?" gumamnya, mencari seragam ketat milik adiknya sampai di bawah kursi belakang mobil.
"Astaga! Kenapa aku bodoh banget sih." umpatnya kesal pada diri sendiri, pasalnya adiknya itu sudah tentu mengganti seragam ketat miliknya kembali saat berada disekolah.
"Pak direktur kenapa? Pagi pagi mukanya udah ditekuk." ledek Yuda, ketika turun dari dalam mobil miliknya.
Rian menoleh pada teman sekaligus manager perusahaannya. "Biasa si Agis, pagi pagi udah bikin mood berantakan." sahutnya bersindakap.
Yuda lantas jadi terkikik geli. "Udah sabar aja! Jangan berantem terus!" ucap Yuda menepuk bahu temannya.
Rian hanya merengut dan berdecak sebal, sembari berjalan memasuki lift langsung tertuju pada ruangan khusus miliknya bersama.
"Pagi pak." sapa Irfan, yang sudah berdiri penuh sigap didepan ruangan.
Dan seperti biasanya Rian memilih acuh, berjalan begitu saja dan langsung membanting tubuhnya diatas kursi kerjanya.
****
Untukmu, semua hati yang pernah mencintai dan dicintai. Yang pernah di khianati sampai tak ingin hidup lagi. Baca kisah ini dengan hati hati.
****
__ADS_1
Rian melemparkan majalah diatas meja kerjanya, kehadapan asistennya itu. "Jelaskan padaku! Bagaimana bisa gosip seperti ini terulang kembali ke media?" tanyanya dengan nada ringan namun penuh penekanan.
Irfan hanya bisa menundukkan kepala, tak bisa menjelaskan. "Maafkan atas keteledoran saya pak." sahutnya.
Seketika Rian jadi meledak, pikirannya langsung pecah seketika. "Aku tidak butuh maaf Irfan." ucapnya dengan geram, beranjak berdiri penuh frustasi. "Kamu itu adalah asisten terpilih, asisten pribadi seorang Rian atmadja direktur utama perusahaan raksasa. Bagaimana bisa mengurus hal sekecil ini saja kamu tidak becus, hah!"
Irfan kembali membungkuk, menundukkan pandangannya karena tak mampu untuk berterus terang pada atasannya.
Melihat Irfan tanpa pembelaan membuat Rian jadi berpikir ulang, karena tidak mungkin seorang Irfan yang sudah bertahun-tahun bekerja dengannya menjadi ceroboh begini.
Rian pun memutar otaknya kembali untuk berpikir dan menemui alasannya. "Apa ini kerjaan Tuan besar?" tebaknya.
Mendengar itu, seketika Irfan menegakkan kembali pandangannya. "Tuan besar hanya ingin memberikan yang terbaik untuk bapak." sahutnya, berterus terang.
Rian menghela nafas kesal. "Kenapa sih dengan melajang? Aku punya kekuasaan dan segalanya, aku tidak butuh wanita. Lagian melajang itu sudah jadi trendi, bukan?!"
Yuda yang sedari tadi duduk mengamati teman sekaligus atasannya itu jadi terkekeh geli.
"Aw! Sakit." pekiknya, ketika tiba-tiba Rian sudah melayangkan sebuah mejalah hingga mengenai kepalanya. "Tahan emosi bos! Kalau kepalaku jadi benjol dan bocor, terus Mega gak mau lagi menikah denganku, gimana?"
"Ya terima nasib aja! Mega lebih baik menikah dengan pria lain yang lebih baik." sahutnya enteng.
"Yah gak bisa dong! Gak ada tuh sejauh ini pria sebaik dan terbaik melebihi aku ini." ucapnya dengan bangga, dan tersenyum tengil.
__ADS_1
"Cih!" decihnya, lalu menyandarkan kepalanya dipapan kursi sembari memejamkan matanya, guna menenangkan pikirannya sejenak.
Yuda tersenyum sedih melihat temannya itu, ia kemudian beranjak berdiri dari sofa tamu lalu melangkah berdiri disamping temannya.
"Aku ingin memberitahu suatu hal baik atau buruk, tergantung padamu." tuturnya.
"Hm." sahut Rian mendesak, tak ingin berbasa-basi dan langsung pada intinya.
"Desi sudah tiba disini, pagi tadi. Dia kembali."
Mendengar itu, sontak membuat Rian membelalakkan matanya yang semula terpejam.
****
Otw Ngetik gak PHP tapi kemarin ketunda mulu :)
Author usahakan pakai kata-kata puitis yaa!
dan soal Agista, dia akan jadi dengan...
intinya bukan Dimas.
DUKUNG TERUS DG CARA VOTE POIN/KOIN, LIKE ATAU KOMEN.
__ADS_1