
Mereka kemudian menemui Angga dan Yuda yang sudah dipersilahkan duduk Di sofa tamu.
"Apa kabar, kak?" tanya Dedi, dan mereka saling berjabat tangan.
"Baik dik." sahut Angga canggung. "Maaf ya kalau kedatangan kami menggangu malam-malam."
"Ah enggak kok." sahut Dedi dan Sefia. "Kita malah senang kakak mau berkunjung kerumah kami."
Sedangkan Rian dan Yuda pamit untuk pergi bermain ke kamar Rian, disana mereka selalu bermain game bersama.
"Sefia buatkan minum dulu ya!" pamit Sefia.
"Eh! Gak usah dek, gak perlu repot-repot! Mas kesini cuma sebentar aja kok." ucap Angga, membuat Sefia kembali duduk bersama.
"Oh gitu! Emangnya mas Angga datang kesini, ada perlu apa ya mas?" tanya Sefia kemudian.
"Ah begini." Angga makin gugup, tak enak pada Dedi. "Sebenarnya kedatangan mas kemari buat ngomong sesuatu."
Dedi yang tahu itu lantas memilih untuk pergi. "Ah, aku sakit perut." ia beranjak berdiri. "Kalian berdua ngobrol aja! Aku harus ke kamar mandi." pamitnya.
"Ah, iya baiklah." sahut Sefia, kemudian Dedi meninggalkan mereka berdua.
Sefia kembali menoleh pada Angga yang berada dihadapannya. "Ngomong apa ya mas, kalo boleh tahu?"
"Gini dek, mamaku lagi sakit dan dia pengen banget buat ketemu sama kamu." sahutnya tak enak hati.
"Ya ampun, tante Lidia sakit apa mas?" tanya Sefia khawatir.
"Biasa dek, udah tua. Penyakitnya komplikasi."
"Tante Lidia dirawat Di rumah sakit mana, mas? Biar besok Sefia langsung menjenguk beliau."
"Rumah sakit dekat sini kok." sahut Angga begitu lega. "Makasih udah mau nemuin mamaku ya dek."
"Ah, iya mas. Sefia udah lupain semuanya kok. Itu sudah jadi masalalu dan kita juga sudah sama-sama jadi orangtua."
Angga jadi tersenyum. "Iya, kamu bener. Pasti mama sangat senang ketemu sama kamu."
"Sefia juga seneng kok mas." sahutnya memberi senyum.
Disisi lain, Dedi tengah mondar mandir dikamarnya merasa tidak tenang.
"Mereka lagi ngobrolin apa ya?" gumamnya bertanya-tanya. "Apa aku kembali kedepan? Eh, tapi kan kak Angga mau ngobrol sama Fia. Aduh, kalo nanti mereka saling nostalgia gimana?"
Dedi jadi bingung sendiri.
****
Sedangkan Rian dan Yuda memilih main game bersama.
__ADS_1
"Besok bakal ada festival gabungan." ucap Yuda memberitahu.
Rian mengerut kening. "Apa itu? Semacam campuran gitu kah?"
Yuda mengangguk. "Iya, gabungan dari sekolah lain juga. Lo diminta ikut bantu-bantu stand kelas kita, gue juga."
"Wah, asyik dong! Bakal rame nih besok. Tapi kok gue baru tahu sih?"
"Ya, sepertinya gitu. Kan lo gak masuk group chat sekolah." sahutnya. "Gue juga tahun lalu gak dateng, jadi gak tahu bakal seheboh apa."
"Masukin gue juga dong di group! Biar gak ketinggalan berita." pinta Rian.
Yuda jadi terkekeh. "Sebaiknya jangan deh! Kalo lo gabung, bakal rame notifikasi group. Cewek-cewek bakal langsung chat lo."
"Eh, iya juga sih. Ah, nasib orang ganteng memang gini ya."
"Sialan!" Yuda menepuk bahu Rian. "Geli gue dengernya."
Rian jadi tertawa geli. "Ha ha kenyataan."
****
Telah lama mereka berbincang, akhirnya Angga dan Yuda memutuskan untuk pulang.
"Kami pamit pulang dulu." ucap Angga.
Setelahnya Rian kembali ke kamarnya, Sefiapun sama. Ia kemudian menemukan suaminya tengah duduk diatas ranjang sembari menyandarkan tubuhnya.
"Udah pulang?" tanya Dedi pada Sefia.
Sefia menangguk. "Udah kok." sahutnya.
Kemudian Sefia duduk ditepi ranjang, dan Dedi kemudian memeluknya dari belakang. Menenggelamkan wajahnya dilekukan leher dan bahu istrinya.
"Kalian tadi ngobrolin apa kok lama?" tanya Dedi kemudian.
Sefia jadi tersenyum. "Gak ada kok pi, cuma tadi mas Angga minta aku buat jenguk mamanya yang lagi sakit."
"Beneran? Gak ada yang lain?" tanyanya menuduh.
Sefia melepas pelukan suaminya, berbalik menatap suaminya yang menekuk wajahnya. "Mami gak ngomong hal yang macam-macam kok pi." mengelus wajah suaminya. "Apa papi cemburu?" tebaknya.
"Enggak kok, siapa yang cemburu." sahutnya cepat, membuat Sefia semakin yakin dengan tebakannya dan terkekeh geli.
"Ha ha, bilang aja kali kalo papi lagi cemburu." Dedi jadi malu sendiri. "Mami udah jadi orangtua, cukup ada papi dan anak kesayangan kita. Mami sangat bersyukur atas hal itu, jadi papi gak boleh lagi nih cemburu-cemburuan begini."
Dedi mengangguk. "Maafin papi ya." mengelus rambut istrinya. "Papi terlalu cinta sama mami, jadi takut banget kehilangan."
Sefia jadi tertawa. "Ah, papi gombal aja deh! Kita udah tua loh."
__ADS_1
"Tapi papi masih keren." sahutnya, berbisik ditelinga istrinya.
Sefia mengangguk, membenarkan. di umur ke 45 tahun suaminya bahkan tambah terlihat maskulin. Dia jadi lebih tampan, bahkan garis kerut masih enggan menempel di wajahnya yang halus.
"Mi." sapa Dedi, menggoda.
Sefia menoleh, mendapati suaminya sudah mendekat dan mendaratkan bibirnya ke bibir miliknya. Mereka saling berpagutt dan Sefia berakhir berbaring dibawah suaminya.
Tapi tiba-tiba suara ketukan pintu, menghentikan kegiatan mereka berdua.
"Argh! Ganggu aja." dengus Dedi kesal, ia tahu siapa yang tengah mengganggunya dan berani mengetuk pintu kamarnya malam-malam.
Ia kemudian menggulingkan diri, segera beranjak dan kemudian membuka pintu.
"Ada apa?" tanya Dedi malas, bersindakap pada anaknya itu.
Rian menyodorkan botol minuman kehadapan papinya. "Bukain dong!" pintanya.
Dedi jadi mendengus, mengambil kasar botol itu lalu membukanya. "Ini!" memberikan botol minuman. "Diputer gitu doang gak bisa! Lemah." ledeknya.
"Ya kan tangan Rian masih belum kuat pi gara-gara kecelakaan waktu itu." sahutnya melebarkan senyum.
"Hallah! Bilang aja mau ganggu." sahutnya ketus.
"Gangguin apaan, sih pi? Kan cuma minta bukain tutup botol doang udah marah."
"Ya ganggu lah! Ah, kamu ini polos banget sih, anak laki juga." cetusnya. "Pokoknya kalo malem jangan ketuk pintu lagi!" pintanya kemudian.
"Oke oke! Tapi mami mana? Aku mau ngobrol sama mami bentar."
"Gak ada! Mami mu tidur. Kamu kembali ke kamar sana!" sahutnya ketus, menutup pintu kamarnya.
"Yah." Rian kecewa. "Gitu doang marah, kayak anak cewek yang lagi pms." ucapnya, hendak berbalik.
Tapi Dedi membuka pintunya kembali, masih mendengar ucapan anaknya. "Emang kamu tahu apa itu pms?"
Rian tersenyum, menggelengkan kepalanya. "Gak tahu, temen-temen aja pada bilang gitu."
"Astaga! Cari di internet sana!" ucapnya memberitahu, kemudian langsung menutup pintu kamarnya kembali.
Rian berpikir, menggaruk tengkuknya. "Aku coba cari di internet deh."
****
Terimakasih :*
Maaf jarang Update?!
Klik favorites untuk dapatkan notifikasi ya! Jangan lupa like juga.
__ADS_1