
Zaky mencoba menikmati sarapan paginya. Menunya pancake dengan siraman madu dan potongan raspaberry, kesukaan Zaky. Hanya saja yang membuatnya kesal adalah suara tangis bayi dalam gendongan Tia. Jika saja itu bayi mereka, tentu Zaky meninggalkan sarapannya dan segera mengambil alih menggendong bayi, membiarkan Tia beristirahat sebentar. Tya menimang bayi itu sejak fajar tadi, Ia menangis meskipun sudah diberi ASI dan popoknya di ganti, entahlah, mungkin mengantuk.
Robi tiba di ruang makan menyapa Zaky, mereka akan pergi ke tempat pembangunan resort hari ini. Robi terkejut saat melihat bayi Lila ternyata di bawa pulang oleh Tia. Semalam Ia ke rumah sakit untuk menjemput Lila dan tidak menjenguk Adam di ruang bayi. Robi hanya mengurus kepulangan Lila dan membawanya pulang ke Apartemen Robi. Robi sendiri menginap di rumah Ibunya.
Robi duduk di meja makan bersama Bosnya. Kedekatan mereka membuat Zaky menganggap Robi seperti keluarganya. Robi tidak segan duduk semeja dengan Zaky.
" Kalian memutuskan untuk merawat Adam?" tanya Robi serius.
" Dia yang memutuskan, aku tidak ikut campur. Ia bahkan tidak bertanya padaku dulu. Merawat bayi si brengsek itu, Lila saja bahkan mengabaikannya."
"Lila sedang terganggu psikisnya. itu biasa di hadapi ibu yang melahirkan bayi hasil perkosaan. Tapi memutuskan merawat bayi Benny, Aku juga tidak setuju dengan Tia."
" Aku sudah melarangnya, dia mengabaikanku. Sudahlah, Ayo kita pergi. Biarkan saja dia sibuk dengan bayinya. Rebecca ingin melihat lahan pembangunan Resort."
" Rebecca? Rebecca yang kemarin bos? Oh Tuhan!" Robi menepuk meja. Kesal sekali dia di usili kemarin di dalam lift.
Zaky cuma tergelak lalu bangkit mengambil tissu untuk membersihkan mulutnya.
Bos sedang marah pada Tia karena bayi. Dan kami akan bertemu wanita penggoda itu. Bagaimana jika ia benar benar tergoda lagi lalu berselingkuh.Tidak, Aku harus mengurus bayi itu. Jangan sampai Badai datang lagi menerpa rumah tangga ini. aku juga bisa ikut gila.
---
Zaky dan Robi berada di tempat proyek pembangunan resort bersama Rebecca dan beberapa investor lainnya. Rebecca sangat sebal, Ia pikir bisa menggoda Zaky hari ini, nyatanya ada banyak orang lain juga yang ikut meninjau proyek ini.
Hari beranjak siang, mereka memutuskan untuk makan siang terpisah. Rebecca langsung bergelayut manja di lengan Zaky minta ikut makan bersama mereka berdua. Zaky dan Robi kehabisan kata untuk menolak.
Di restoran, Rebecca sibuk memesan menu makanan yang ia tahu adalah kesukaan Zaky saat mereka berpacaran dulu. Robi dan zaky membiarkan saja wanita itu memilih menu.
" Kau lihat kan sayang, aku masih ingat menu kesukaanmu." Ia tersenyum lalu menyandarkan kepalanya di bahu Zaky. Robi hampir muntah melihatnya. Ia merasa lega saat Zaky menepis kepala Rebecca dan permisi ke kamar kecil.
" Apa kau tidak malu bersikap seperti itu? Kau seperti wanita terhormat, tapi kelakuanmu.." Omongan Robi terhenti saat Tangan Rebecca mengusap pahanya.
" Aaahh.. Kau pasti cemburu pada bosmu?"
Robi menjauhkan tangan Rebecca dari tubuhnya. Ia pindah ke kursi yang agak jauh dari Ree, mereka kini duduk berhadapan.
Bos lama sekali. Aku benar benar gerah.
Tak lama kemudian Zaky kembali bersamaan dengan datangnya makanan. Mereka mulai menyantap makanan masing masing. Rebecca dengan sikap nakalnya terus menatap Zaky, Zaky merasa sangat risih.
" Makanlah dengan benar, matamu seperti akan meloncat keluar saat menatapku." Kata Zaky.
"Jadi apa kau sudah memutuskan? Apa kita akan makan malam spesial? s.p.e.c.i.a.l" ,Ree menegaskan pada Zaky.
Zaky menghentikan makannya, membersihkan mulutnya dan minum air mineral.
__ADS_1
" Kau merusak selera makanku."
" Aku cuma bertanya, aku kan tidak sabar ingin tidur denganmu." Ree cekikikan.
Uhhukk! Robi tersedak. Zaky menatap Ree dengan sinis.
" Bicaramu frontal sekali, bahkan di tempat umum. Kau keturunan bangsawan tapi bersikap seperti wanita ******."
" ******? itu nama tengahku hahaha. Sebut sekali lagi, aku senang kau menyebutku b.i.t.c.h. Hahaha."
Kedua pria itu menghela nafas panjang. Mereka tidak menyangka akan berurusan dengan wanita seperti ini. Zaky sendiri kecewa dengan dirinya, seleraku buruk sekali dulu, ujarnya dalam hati.
---
Tia duduk bersama anak anaknya yang sedang bermain. Bayi Adam akhirnya tertidur pulas, Tia bisa beristirahat. Perasaannya tidak enak, melihat perubahan sikap Zaky ia berpikir bahwa ia sudah kelewatan.
Lalu sekarang aku harus bagaimana? Kemana aku harus menyerahkan Adam. Bagaimana jika ia di rawat oleh orang yang tidak baik. Tapi mau sampai kapan Aku dan Zaky dingin begini. Aku tidak ingin kehilangan suamiku juga karena bayi. Oh Tuhan, aku bingung sekali.
---
Sore hari Zaky kembali bersama Roby. Sepanjang jalan pikirannya hanya satu, istrinya. Meskipun kesal, Zaky tidak ingin menyalahkan Tia, Ia sepenuhnya tahu bahwa Tia sungguh wanita berhati mulia. Hanya saja bayi itu putranya Benny. Ia terus berpikir bagaimana caranya agar Tia mengerti bahwa Ia tidak bisa menerima bayi itu. Dia benci harus marah dan menjaga jarak dengan istri yang begitu ia cintai.
Aku akan mengajaknya makan malam. Kami harus bicara dengan kepala dingin, berdua, dari hati ke hati. Aku sangat merindukannya seharian ini.
---
Zaky memghampiri Tia di kamar. Ia terlihat sedang berada di depan laptop, mungkin sedang mengecek laporan keuangan yayasan.
" Sayang.." sapa Zaky.
" Ehh, iyaa.. Sayang aku minta maaf." Tia langsung menghentikan pekerjaanya.
" Tidak apa. Sayang, maukah kau keluar denganku? Kita akan makan malam, berdua saja. Kau dan aku, kita perlu bicara..."
Tia diam sejenak seperti sedang berpikir.
" Sayang, aku tidak bisa.."
"Kenapa?"
"Aku tidak bisa meninggalkan Bi tuti sendirian dengan 4 anak kita dan juga bayi.."
"Bayi lagi.." raut wajah Zaky berubah.
"Sayang.."
__ADS_1
"Selalu saja bayi! Kau menolak makan malam denganku dan mementingkan bayi itu? hah?" nada Zaky meninggi.
Pintu terbuka sedikit, Zoya mengintip suara papanya.
"Sekarang katakan! Kau pilih aku atau bayi itu!"
"Sayang, itu pilihan yang tidak adil, dia.. dia cuma.."
"Baiklahh, aku sudah tahu pilihanmu! Bayi itu lebih penting dari aku! Tidak perlu makan malam, aku akan pergi dengan klienku!"
Zaky menarik selembar kemeja di lemari. Tia tidak bisa berkata2 selain mencoba menahan Zaky untuk mendengar penjelasannya.
" Papa.. mama..."
Suara lembut itu mengejutkan Zaky juga Tia.
"Jangan bertengkar pa, ma." kata Zoya takut melihat orangtuanya.
Tia menghapmpiri Zoya dan berlutut memeluk putrinya. " Papa sama mama tidak bertengkar, kami hanya bicara hal penting."
" Sekarang anak kita bahkan terlibat, Kau senang sekarang? " Zaky mencium Zoya lalu pergi berlalu. Meninggalkan Tia yang kehabisan kata menjelaskan pada Zoya tentang apa yang baru saja terjadi di hadapannya.
---
Zaky menyetir dengan kecepatan tinggi. Pikirannya kacau. Rencananya ingin bicara berdua dengan Tia akhirnya batal karena Tia mengkhawatirkan bayi itu.
Ia meremas rambutnya sementara tangan yang satunya masih di setir. Sebuah panggilan masuk di ponselnya, Rebecca.
---
Semoga suka ya 😊
Show your love ya pembaca yang baik.
❤❤❤
☺Like
☺Commet
☺Share
☺Rate
☺Vote
__ADS_1
☺Favorite
Makasi buat kalian yang selalu dukung aku.