
"Dek." sapa Angga seraya memanggil pada Sefia yang tengah berjalan ingin pergi dari gedung sekolah.
Sefia menoleh. "Mas Angga, iya mas. Ada apa?"
Angga hanya tersenyum memandangi wajah yang sudah lama dirindukannya. "Ada yang ingin mas bicarakan berdua sama kamu." sahutnya setelah sejenak terdiam.
"Hm, boleh." Sefia mengangguk.
Lalu mereka berdua berjalan dan duduk dibangku taman yang sepi.
"Mas ingin membicarakan apa? Apa ini soal Yuda?" tebaknya.
Angga mengangguk. "Iya dek, sebenarnya Yuda ada salah paham sama kamu. Dia mengira adeklah yang membuat mamanya pisah dari mas."
"Sefi ngerti mas, keadaannya akan sesulit ini. Yuda tidak salah apa-apa tapi masalalu saja yang masih menghukum kita." Sefia tersenyum miris. "Jadi Yuda tahu kalau mamanya masih ada?"
Angga menggelengkan kepala. "Aku gak memberitahunya, cukup mas saja yang berbohong padanya selama ini. Apalagi kamu tahu sendiri kan watak mamaku seperti apa?" Sefia mengangguk. "Dia itu selalu membenci Yuda dari dia lahir sampai sekarang, mengatakan bahwa Yuda itu anak.. Ah aku gak bisa jelasin."
Sefia memegang jemari Angga, menenangkannya yang tampak frustasi. "Sefi sangat tahu kalau mas itu adalah orangtua yang baik. Gak apa-apa jika Yuda salah paham sama Sefi, nanti dia akan mengerti sendiri seiring berjalannya waktu. Jika Sefi ada di posisi mas, pasti Sefi akan melakukan hal yang sama dan tentu itu demi kebahagiaan anak-anak kita."
Angga menatap Sefia nanar, menunduk sembari menepuk-nepuk jemari mantan istrinya itu. "Makasih ya dek, kamu udah ngertiin mas. Mas merasa bersalah dan malu padamu."
"Jangan bilang seperti itu mas! Sefi yakin Yuda dan Rian suatu saat pasti akan berteman lagi."
"Iya, kamu benar. Semoga saja." Angga menoleh pada Sefia. "Dek, aku boleh peluk gak?"
Sefia tertawa. "Ya boleh, sebagai teman."
Anggapun memeluk Sefia tak lama, lalu melepasnya. "Kamu masih cantik seperti dulu." pujinya, dan lagi-lagi Sefia tertawa.
"Mas juga sama tampannya seperti dulu." Sefia balik memuji. "Mas gak nikah lagi?"
"Enggak dek, akan sulit bagi Yuda nerima oranglain jadi mas memilih untuk sendiri saja." sahutnya, menunduk sedih.
Sefia tersenyum penuh kagum pada mantan suaminya, ia sungguh telah banyak berubah, bahkan lebih baik dari sebelumnya.
__ADS_1
Angga kemudian beranjak berdiri. "Kita pulang yuk, dek!" ajaknya. "Kamu kesini dianterin supir?"
Sefia mengangguk. "Iya mas."
"Oh." menelaah.
Angga tersenyum, berjalan disamping Sefia dan mengantarkan mantan istrinya itu sampai kedepan mobil miliknya, lalu membukakan pintu mobil untuk Sefia masuk kedalamnya.
"Hati-hati dijalan ya, Pak!" ucap Angga pada supir, lalu menoleh pada Sefia. "Terimakasih untuk waktunya dek, sampai jumpa." melambaikan tangan.
"Iya mas, sampai jumpa. Mas juga hati-hati ya."
Angga mengangguk, tersenyum. "Iya." sahutnya melambaikan tangan pada Sefia yang sudah berlaju pergi.
Angga kemudian menghela nafas, mengusap dadanya. "Jantungku masih seperti anak remaja." ucapnya sambil menggelengkan kepala dan tertawa.
****
Putri mengejar Rian yang hendak keluar gedung sekolah.
Rian menoleh. "Ada apa?"
Putri hanya tersenyum malu. "Kapan kakak akan memberikan Putri jawaban?"
Rian membungkuk, mendekatkan wajahnya. "Besok sore, di taman dekat rumahmu. Kita bertemu disana." sahutnya memberitahu.
"Ah, oke kak." Putri begitu antusias.
Sedangkan Yuda yang berjalan dibelakang mereka jadi merasa sedikit jengkel, pun juga mendengar percakapan antar keduanya.
Seakan tak peduli, Yuda berjalan melewati mereka berdua bahkan membentur Putri yang tengah berjalan hingga Rian dengan sigap menyanggahnya.
"Kamu gak apa-apa?" tanya Rian pada gadis itu.
Putri mengangguk. "Gak apa-apa kok kak, cuma kak Yuda kenapa jadi kasar gini ya sekarang." ucapnya bertanya-tanya.
__ADS_1
"Aku duluan ya!" pamit Rian, kemudian mengejar Yuda yang tengah berjalan.
Rian menepuk bahu pemuda itu dan dengan malas Yuda menghentikan langkahnya, lalu menoleh. "Apa?" sahutnya menantang.
"Lo gak berubah ya! Sampai kapan lo akan bersikap kayak gini?" tanya Rian heran. "Entah apapun masalah antara kedua orangtua kita, seharusnya lo gak usah ikut-ikutan."
Yuda tertawa sarkas, begitu miris. "Sampai kapanpun, orang macam lo gak akan pernah ngerti. Gak akan pernah tahu rasanya jadi gue, jadi berhentilah bersikap konyol karena gue gak akan mungkin berteman sama lo lagi." ucapnya telak, mendorong bahu Rian lalu melewatinya.
Rian hanya bisa menunduk pasrah, musnah sudah pertemanan antara mereka.
****
Seperti biasa, kali ini Yuda sampai dirumah langsung disambut sinis oleh neneknya yang menjengkelkan.
"Ow, anak haram udah pulang." sambutnya, khas dengan suara mengejek.
Yuda menoleh. "Bisa tutup gak itu mulut! Udah tua juga." sahutnya, membuat Lidia kaget.
"Ya ampun, bahkan sekarang kamu berani berbicara tidak sopan seperti itu? Apa karena kamu sudah berteman dengan anak Sefia yang kaya raya itu? Atau karena kamu menerima Sefia dan menganggapnya sebagai ibumu?" ejeknya sambil tertawa sarkas.
"Nenek!" bentak Yuda, berteriak. "Sampai kapan nenek akan membenciku, hah? Sampai kapan nenek akan memakiku? Aku salah apa? Bukankah aku ini anak kandung papa, tapi kenapa nenek selalu menyebutku anak haram, hah?"
"Kamu saja yang bodoh! Sejak kapan kamu itu jadi cucuku? Kamu itu hanya anak dari ibumu yang tak bermoral itu."
Yuda membelalak kaget mendengar kata jahat itu, lalu mendorong sebuah guci untuk ia pecahkan. Bahkan barang - barang lain yang menjadi pajangan, sembari berteriak frustasi.
"Aargh, aku membencimu." teriaknya, terisak. Lalu melangkah pergi keluar begitu saja.
"Cih! Dasar anak sinnting." umpatnya kesal, lalu menyayangkan pajangannya yang mahal sudah rusak begitu saja.
****
TOLONG CEK SINOPSIS YA :* Episode kemarin membangun karakter, jadi jangan kaget kalau mulai episode setelah ini konflik akan mulai.
Makasih pengertiannya :*
__ADS_1