
Robi 😎
"Robi dimana?"
"Tidak masuk kerja pak, sakit."
"Dia jarang sakit."
"Mungkin sudah waktunya sakit."
Zaky menoleh ke arah Lila. Kemudian kembali melihat berkas yang di bawa Lila padanya. Menandatangani beberapa berkas kemudian membaca lagi. Lila berdiri di sampingnya. Lila tampil elegan hari itu, dengan turtle neck berwarna biru gelap dan blazer abu abu senada dengan rok nya. Rambutnya di kucir tinggi dengan Riasan wajah natural.
Zaky selesai dengan berkasnya. Ia menoleh ke arah lila. Lila terkesiap.
"Duduklah."
Lila kini duduk berhadapan dengan Zaky di meja kerjanya.
"Apa pemenang tender pembangunan proyek baru sudah di hubungi semua?"
"Sudah pak."
"Sudah jadwalkan pertemuan?"
"Sudah pak. Tapi pak.." Perkataan Lila terpotong saat Zaky menoleh ke arahnya.
"Tapi kenapa?" Tanya Zaky.
"Sedikit saran pak kalau boleh.."
Zaky tidak menjawab, masih memperhatikan.
"Emm begini, saya lihat rancangan pembangunannya cuma ada 2 tipe yaitu 100 dan 120, kalau boleh memberi saran apa tidak sebaiknya bapak membuat komplek perumahan tipe 80 dan 70 juga, karena menurut saya peminat properti dari kalangan menengah keatas, jadi kita punya pilihan harga pak. Untuk kelas menengah bisa memilih tipe 80 atau 70 yang lebih murah. Selain itu, Perumahan yang awalnya akan di bangun 40 unit bisa jadi lebih banyak unitnya karena sebagian di ubah menjadi tipe 80 dan 70. Kita bisa bangun 10 unit per tipenya."
Zaky masih diam, namun Ia menatap Lila tajam. Lila menarik napas, seperti menyesal memberi saran.
Zaky kemudian mengangguk angguk.
"Lalu bagaimana dengan mitra kita para kontraktor, terlebih investor? Mereka sudah sepakat dengan rencana awal, bagaimana mungkin saya mengubahnya sekarang?"
" Bukankah bapak akan mengadakan pertemuan dengan mereka? bapak bisa sampaikan di sana, saya akan buat materi presentasinya. Saya yakin mereka akan mendukung perubahan ini pak."
"Hmm boleh juga dia" Guman Zaky dlm hati.
" Baiklah atur saja!"
"Oh, Okay pak. Akan saya siapkan materinya juga. Kalau sudah selesai akan saya konfirmasikan ke bapak." Lila bangkit dari duduknya.
"Saya permisi pak."
"Mau makan siang bersama?"
---
Dan disinilah mereka. Duduk berhadapan di sebuah cafe, menunggu makanan datang. Entah apa yang ada di pikiran Zaky tapi Ia jadi merasa penasaran pada Lila. Sosok wanita yang di kenalnya secara tidak sengaja beberapa hari lalu selalu membuatnya terkesan di setiap pertemuan mereka. Lila benar benar menguasai bidang properti pikir Zaky. Dan sungguh kasihan sekali Benny kehilangan Karyawan seperti dia. Zaky menganggap ini peluang baginya. Di sisi lain dia juga terkesan dengan kepribadian Lila yang di nilainya ramah, supel tapi intelek. Dia mampu bekerja sama dengan Robi bahkan nyaris mengimbanginya.
Dan selanjutnya, Mereka terus bertemu di makan siang ke-2, ke-3 dan seterusnya. Mereka semakin dekat. Dalam pembicaraan kadang terselip candaan. Hingga pada akhirnya Zaky merasa ada yang kurang jika tidak berjumpa dengan Lila.
3 bulan berlalu semenjak Lila bekerja di ZAK company. Pembangunan sudah di mulai dan mereka tenggelam dalam kesibukan. Kadang Zaky sering lembur menerima laporan perkembangan proyek pembangunan. Tentu saja Ia di temani Robi kadang juga Lila, seperti malam ini.
" Sudah menelepon ibu pak?" Tanya Robi yang melihat Zaky sibuk dengan ponselnya.
"Mau tahu saja kamu. Bagaimana dengan pengerjaan aspal sejauh ini?"
"Lancar pak. Kemarin sempat berhenti sebentar karena eterbatasan bahan, sekarang sudah aman."
" Lalu danau yang di dekat taman bermain sudah di gali?"
" Soal danau, lusa akan mulai di kerjakan pak. Mereka tengah mengecek pengadaan alat berat."
" Lalu Furniture?"
"Itu dia pak, mereka mengundurkan diri, saya ambilkan berkas permohonannya dulu pak."
" Sudah besok saja, bukankah kamu akan pergi dengan orangtuamu? bertemu calonmu?Pergilah. "
__ADS_1
"Oh. Iya baik pak. Bapak mengerti sekali."
"Saya sudah pernah di masa itu."
Robi pun permisi dan melenggang pergi.
Zaky meraih ponselnya lagi. Ia menelepon Lila.
" Sudah di rumah?"
" Belum, masih di kantor. Pak Robi ingin referensi konveksi furniture. Jadi saya kerjakan malam ini."
" Ke ruanganku, kerjakan di sini saja, temani aku."
"Baik pak."
" Sudah berapa kali aku katakan, panggil saja namaku. Bicaramu terlalu formal."
" Hahaha. Tapi usia bapak jauh di atas saya.."
" Pokoknya aku tidak mau mendengar lagi kata bapak dan saya dalam obrolan kita."
" Baik pak.. Ehh.. Jadi saya Ehh aku harus memanggil apa?"
" Zaky saja! umurku baru 37 tahun ini."
"Baiklahh Emm Zaky, Aku sedang menuju ke ruangan mu."
"Iya." Zaky mematikan ponselnya.
Cekrek!
Pintu terbuka. Lila masuk ke ruangan sambil tersenyum.
"Mengapa tersenyum?"
" Karena Aku harus memanggil namamu. Padahal kamu kan bosku."
"Di luar jam kantor Aku bukan bos mu."
"Lantas?"
"Terserah?"
"Iya terserah. " Zaky kembali ke laptopnya.
"Hmm.. Apa kita teman?
Zaky diam saja.
"Apa kita sahabat?"
Zaky tetap diam. Lila menarik kursi dan duduk di hadapan Zaky.
"Ayolah. Apa kita pacaran?"
Deg!
Zaky terhenyak. Dia duduk bersandar dan menatap Lila tajam.
" Aku sudah menikah."
"Aku tahu. Jadi?"
"Jadi apa?"
"Jadi kenapa kamu baik sekali padaku?"
Zaky tidak menjawab, tetap menata Lila yang sedang cemberut.
"Kamu memberikan aku pekerjaan, Membayar sewa apatement, Membelikan hadiah, bahkan membiarkan aku memegang kartu kreditmu."
Zaky menarik napas dan mengangangkan tangannya di atas kepala.
"Kita makan siang, makan malam, kamu minta di temani, Lalu hubungan kita ini apa? mana mungkin ada bos sebaik itu?"
Zaky tersenyum.
__ADS_1
" Ada. Itu Aku. Aku bahkan ingin membelikanmu mobil supaya kamu tidak naik taksi saat tidak pergi bersamaku."
"Lantas Aku siapa bagimu?." Lila frustasi.
" Kau ini tidak tahu malu sekali. Merayu pria yang sudah menikah. Aku bahkan punya 4 orang anak." Zaky tersenyum melihat foto putrinya di walpaper laptopnya.
" 4 Orang?" tanya Lila takjub.
"Iya. Lihatlah mereka." Zaky memutar Laptopnya dan menunjukkan pada Lila. Lila memandangi foto itu. 3 Orang balita duduk selonjoran memangku bayi. Mereka semua memakai baju babydoll berwarna putih dan memakai pita berwarna merah muda di rambut. Sungguh mengemaskan. Kulit mereka putih bersih. Kakak yang tertua berambut ikal. Yang kedua punya mata yang bulat berbinar dan yang ketiga bola matanya berwarna terang, entah hijau atau biru. Sedangkan si bayi tertidur pulas. Kepalanya masih berambut halus.
"Mereka cantik kan?" Tanya Zaky bangga.
" Tentu saja." Lila mulai membayang bayangkan bagaimana rupa ibu mereka.
" Jadi sudah putuskan dimana posisimu? "
Tanya Zaky kemudian. Lila cemberut.
" Ya sudah. Kita berteman saja."
"Hahaha." Tawa Zaky memenuhi ruangan.
"Yakin? cepat sekali menyerah?"
Lila hanya diam. Wajahnya masih cemberut.
" Kalau begitu sahabat saja." Kata Lila kemudian.
" Ayolah. Kau lebih dari itu."
"Pacar?" Lila berharap. Zaky tersenyum memandangi wajah di depannya. Wajah frustasi.
"Nanti saja aku putuskan." Sahut Zaky sambil menutup Laptopnya dan berdiri.
"Hah?"
"Iya, Nanti akan aku putuskan. Apa kau pacarku atau simpananku. Hahaha. Bisa Jadi kamu justru menjadi istriku." Zaky hendak keluar.
"Istri??"
Zaky tersenyum.
" Mau pulang tidak?"
Lila pun bangkit dan mengikuti langkah Zaky. Lila menghabiskan sepanjang malam dengan penuh tanya.
---
Pukul 4.23 pagi ponsel Lila berdering. Terdengar suara pria menyapa di seberang.
"Bagaimana? Apa kamu sudah mendapatkan hatinya?"
" Entahlah."
" Aku beberapa kali melihatmu makan bersamanya."
" Iya. Dia baik padaku."
" Sepertinya dia jatuh hati padamu. Dia bahkan mengijinkanmu tinggal di salah satu Apartement miliknya.
" Dia bahkan Akan membelikan aku mobil."
" Benarkah?"
" Iya, Dia lebih baik darimu dalam banyak hal. Dia sungguh menghargai Aku."
"Ayolah sayang. Aku mencintaimu. Setelah kita mendapatkan banyak dari dia, kita akan menikah. Aku Akan meninggalkan Istriku yang jelek dan tua."
" Terserahlah."
" Ingat Lila. Orang orangku akan selalu mengikutimu. Awas jika kamu berpaling dari rencana kita."
" Yasudah. Aku mau tidur. Aku pulang terlambat malam tadi."
" Baiklah. Selamat tidur sayangku." Panggilan terputus.
Lila membanting ponselnya di kasur. Kesal. Ia memejamkan mata dan merebahkan kembali tubuhnya. Ia ingin tidur lagi dan berimpi tentang Zaky. Zaky yang keren dan tampan. Perhatian dan punya segalanya. Ah! Andai saja dia bisa memilikinya.
__ADS_1
---