
Saat Rian pamit untuk pergi ke sekolah di hari pertamanya, Sefia juga menyuruh suaminya untuk segera berangkat ke kantor untuk bekerja.
"Papi pagi ini katanya mau ketemu sama client penting?" tanya Sefia sembari merapikan dasi suaminya. "Buruan gih berangkat!"
Dedi menggelengkan kepalanya, mengeratkan lengannya, memeluk pinggang Sefia. "Yang ini lebih penting." ucapnya berbisik, seraya menggoda.
"Papi ih, apaan sih?" memukul pelan dada suaminya, malu. "Emang apa yang penting?"
"Mami nih kebiasaan gak peka sama sekali." sahutnya merengut. "Tadi kan udah kita bahas, jadi jangan ditunda lagi! Umur kita juga udah semakin tua."
"Iya, tapi..."
CUP
Dedi langsung mengecup bibir istrinya agar ia berhenti untuk memprotes. "Kita bikin adik buat Rian, yuk!" bisiknya menggoda.
Sefiapun jadi malu, kemudian mengangguk. "Yuk!"
Dedipun menarik lengan istrinya untuk memasuki kamar, dan segera berproses untuk membuat adik untuk anak pertamanya.
****
Karena Rian baru pertama kali ini naik kendaraan umum, ia jadi tak terbiasa dengan suasa ramai dan sesak.
Ia memilih duduk dibangku pojok belakang seorang diri, sebelum kemudian seorang gadis remaja berambut panjang dikepang dua dan berkacamata tebal naik lalu duduk disebelah Rian dengan menunduk malu.
Rian hanya menatap wajah gadis cupu itu sekilas, kemudian menatap keluar jendela untuk menghapus kejenuhannya dipagi hari.
Dan kini Bus berhenti tepat dihalte depan gedung sekolah, gadis itu turun mendahului Rian dengan tergesa-gesa karena akan bisa datang terlambat.
Tapi sialnya, buku yang digenggamnya jatuh berserakan ketanah membuat gadis itu menghentikan langkahnya.
"Dasar, cewek ceroboh." gumam Rian, tertawa mencela.
Ia bahkan tidak peduli, dan meneruskan langkahnya dengan santai untuk memasuki gerbang sekolah yang akan tertutup rapat sebentar lagi.
Sedangkan gadis itu buru-buru merapikan buku-buku miliknya dan segera ia bangkit dan berlari hingga tak sengaja menabrak Rian yang sedang berjalan dan menjatuhkan tas yang ia gendong disebelah bahu.
"Sorry kak." ucap gadis itu, kemudian berlalu pergi memasuki gerbang tanpa pemisi.
__ADS_1
Rianpun hanya bisa menggelengkan kepalanya, berdecak sebal. "Astaga, cewek itu."
Ia kemudian menggapai tas miliknya yang terjatuh, mengibas tasnya agar bersih dari debu tanpa disadari bahwa gerbang benar-benar hampir tertutup rapat.
"Loh pak, tunggu!" teriak Rian, kemudian berlari tapi percuma karena gerbang sudah tertutup rapat sebelum ia masuk kedalamnya. "Sial." umpatnya kesal.
"Ah, ini gara-gara si culun itu." keluhnya.
Seketika itu juga, datang seorang pemuda yang seumuran dengan dirinya. Ia datang kemudian berbalik untuk pergi.
Rian hanya mengernyitkan dahinya, bingung, dan menoleh pada pemuda itu.
"Lo ngapain masih bengong disitu? Mau masuk gak?" tanya pemuda itu pada Rian yang hanya berdiri mematung.
"Ah iya, Gue mau masuk tapi gimana caranya?"
"Ck. gak laki banget." berdecak, mencela. "Yaudah, ikut gue!"
Rianpun mengikuti pemuda itu kebelakang sekolah, untuk masuk meloncati pagar tembok yang cukup tinggi.
"Maksud Lo, kita manjat nih pager?" tanya Rian, heran.
Dengan ragu, Rianpun menggapai tangan pemuda itu dan naik keatas pagar tembok bersama, lalu turun bersamaan.
"Makasih ya." ucap Rian pada pemuda itu, tapi pemuda itu tak meresponnya. Ia malah berbalik lalu pergi begitu saja. "Yah, malah dikacangin."
****
Saat Rian tiba dikelas, entah suatu kebetulan. Pemuda itu juga satu kelas dengan dirinya.
Ia kemudian memilih untuk duduk dibangku sebelah pemuda tersebut, lalu ia menoleh pada teman dibangku belakang pemuda itu.
"Oh, ternyata si culun sekelas juga sama gue." gumamnya kesal, lalu kembali menoleh lurus kedepan.
Melihat seorang guru telah memasuki kelas.
"Selamat pagi anak-anak." sapa guru ketika memasuki kelas, dan para muridpun membalas sapaannya. "Perkenalkan nama saya Alvin Praja, kalian bisa memanggil saya dengan sebutan pak Alvin. Saya wali kelas kalian sekaligus mengajar pelajaran matematika, dan saya ingin berkenalan dengan kalian semua."
Kemudian pak Alvin mengambil absen lalu membaca, menyebut nama murid satu persatu dan memintanya untuk berdiri dan memperkenalkan diri.
__ADS_1
"Hallo, namaku Desi. Cewek tercantik dikelas ini." ucapnya kemudian mendapat sorakan dari tebak sekelasnya.
"Hallo, namaku Loli. Cewek tercantik nomor dua setelah Desi."
"Hallo namaku Mega. Cewek tercantik nomor tiga."
Ya, mereka diatas adalah trio sejak SMP, kelompok perempuan pemuja kecantikan dan tentu pemuja pria tampan.
"Putri." ucap pak Alvin, membaca absen.
Kemudian gadis culun itu berdiri dengan wajah menunduk dan malu-malu. "Na..nama saya putri." ucapnya pelan, terbata, lalu langsung kembali duduk dan malah mendapati sorakan penuh ejek dari teman sekelasnya.
"Rian."
Seketika Rian langsung berdiri. "Hallo, namaku Rian Atmaja. Kalian bisa memanggilku Rian." ucap Rian memperkenalkan diri, yang langsung menjadi pusat perhatian ketiga gadis heboh tadi. Tentu karena parasnya yang tampan mampu membuat para gadis langsung terpesona padanya.
"Ya ampun, pangeran." gumam Desi, menggigit jemarinya. "Oh, tampannya. Ini baru tipeku banget."
Dan kemudian tibalah. "Yuda Pratama." disebut dalam absen.
Seketika pemuda beranjak berdiri dengan malas. "Nama gue Yuda, pasti kalian udah pada tahu karena gue udah satu tahun menetap di kelas ini. Sekian." ucapnya dingin, langsung duduk.
Rata-rata teman sekalasnya tahu akan gosip tentang Yuda, anak nakal pembuat onar, suka bolos saat mata pelajaran dimulai.
"Oh, jadi namanya Yuda." gumam Rian, menoleh pada pemuda yang sangat dingin itu.
****
SORRY, UPDATENYA TELAT!!
Author lagi Launching pr*duct baru diklinik.
Oh ya, Kalian bisa gabung chat dengan Author agar tahu kapan Author Update atau kita bisa saling tukar ide untuk episode-episode selanjutnya.
Dan kayaknya bakalan bagus kalo Author ngadain giveAway buat Kelean yang udah dukung dari Book 1 sampai sekarang.
JANGAN LUPA RATING 5, POIN, LIKE, KOMEN, FAVORITE.
Oke Babeeee :* Kamsamida. POIN BANYAK, CRAZY UP pastiii
__ADS_1