SELINGKUH

SELINGKUH
Bertemu mantan


__ADS_3

" Lila!!"


" Eh.. i-iya, ini, jadwal lelang.."


"Oh.. i-iya. Coba aku lihat."


Lila pun melangkah ke arah Zaky. Bibirnya dilipat ke dalam menahan senyum. Ada perasaan membuncah di hatinya.


Seperti dugaanku, kau memang mencintaiku, istrimu pasti membungkammi, hingga kau harus berteriak sendiri di ruangan ini. Astaga itu manis sekali. Kalau begitu, Aku akan terus berusaha mendapatkanmu. Tenang saja. Kau memang ingin di perjuangkan rupanya.


Agaknya apa yang Lila pikirkan sungguh berbanding terbalik dengan kenyataan sebenarnya, bahwa Zaky justru mencintai istrinya.


---


Keesokan harinya.


Pagi menjelang siang. Tia sudah berada di yayasan. Ia berada di ruangan kepala yayasan berdua dengan eddy. Ia meminta bibi sania menunggu di luar, takut jika omongannya nanti menyakiti bibi sania, karena eddy adalah putranya.


" Aku sungguh kecewa padamu! Bagaimana mungkin kau tega mengambil dana donasi hanya untuk menyenangkan selingkuhanmu! "


Eddy menunduk. Dia merasa bersalah. Apalagi yang bisa dia katakan, Tia punya bukti nyata bahwa Ia menggelapkan dana. Ia juga sudah menganggap Tia kakaknya sendiri, Jadi Ia tidak berani membantah.


" Sekarang apa! Dia meninggalkanmu kan! Dia sama sekali tidak menyukaimu, Dia suka uangmu saja. Apa kau tidak memikirkan perasaan istrimu. Anakmu masih bayi, bagaimana kalau di sudah besar nanti dan tau kelakuanmu!"


Andai saja aku bisa teriak begini kepada Zaky ya. Hmm


Eddy mengangkan kepalanya.


" Apa kakak akan memecatku?"


Tia diam menapat Eddy dengan tatapan tajam. Ia berdiri berkacak pinggang.


" Enak saja!"


" Apa?" Satu satu nya hal yang di takutkan eddy atas kesalahannya adalah di pecat. Tapi mengapa Tia malah bilang enak saja? pikir Eddy.


" Apa kau akan melaporkan ke polisi kak?"


" Aku akan melaporkan mu, jika saja kau bukan anak bibi..."


" Lalu?" Eddy masih bingung sekaligus takut.


" Kau harus tetap bekerja di sini!"


" Apa?"


" Iya, kau harus mempertanggungjawabkan perbuatanmu dengan mengumpulkan donasi sebanyak banyaknya, lebih dari yang kau ambil!"


Deg! Eddy seperti ingin menangis.


" Eddy! perbuatanmu itu sungguh leterlaluan. dan aku sunguh sungguh benci kenyataan bahwa kau hanya menyenangkan selingkuhanmu itu! jadi bekerjalah dengan baik! kumpulkan sebanyak banyaknya donasi dan pergunakan dengan benar. berusahalah bagaimanapun caranya!"


Lutut Eddy lemas. Ia berlutut di hadapan Tia. Ia sangat takut, bayamgan bahwa Ia akan di pecat dan di penjara terus menghantuinya akhir akhir ini. Dan mendengar keputusan Tia membuat Ia memiliki harapan.


" Terima kasih kak..."


" Berdirilah! Minta maaflah pada istrimu dan jemput dia. Aku yakin dia pasti kembali karwna masih mencintaimu."


Deny mengangguk. Tia pun keluar dari ruangan.


Aku benar benar pandai menasehati, lalu bagaimana dengan diriku sendiri.


---


Tia pulang dari yayasan dan singgah di sebuah tempat pengisisian bahan bakar, setelah itu ia mampir sebentar di minimarket untuk membeli tissu dan pengharum mobilnya yang kebetulan saja hampir habis.


Saat di kasir, sebuah suara menyapanya.


" Tiaa..."


" Fa-rel?..."


Pria itu tersenyum. Farel adalah mantan pacar Tia ketika di Australia, yang juga sahabat Robi. Sejak Tia menikah mereka Tidak pernah bertemu atau memberi kabar.


Mereka pun mengobrol singkat dan sepakat melanjutkannya di coffeshop.


" Apa kabarmu? Lama sekali aku tidak melihatmu. Aku pikir kau menetap di Australia."


" Baik, sudah 2 bulan aku di sini. Bagaimana kabarmu?"

__ADS_1


" Aku juga baik.., Apa kau sudah menikah?"


" Belum. Kau bahkan sudah punya empat orang anak ya."


" Hahaha iya, bagaimana kau tahu."


" Hahaha, stalking tentu saja. " Mereka berdua tertawa.


" Kenapa belum menikah?"


" Ya belum saja. Menurutmu kenapa?."


" Mungkin saja kau tidak bisa melupakan aku. Hahaha."


" Iya kau benar..." Raut wajah Farel berubah. Tia menutup mulutnya agar berhenti tertawa.


" Tia, Aku masih mencintaimu, kau tahu, kita putus dengan terpaksa... bukan karena tidak saling mencintai..."


"Hmm itu sudah lama sekali. Ayolah, aku sudah menikah dan hidup bahagia.. Kau juga harus begitu.."


" Apa benar kau bahagia?"


"Tentu saja, Aku punya suami yang tampan dan dia ayah yang baik."


" Jangan berbohong.. "


" Apa maksudmu? " Kedua alis Tia tertaut.


" Aku melihatmu di pesta Robi kemarin. Bukankah suamimu berselingkuh?" Memajukan tangannya di meja dan menggenggam tangan Tia."


" Farel.."


" Kembalilah padaku, dulu kita berpisah karena perbedaan agama, tapi sudah 2 tahun ini kita memiliki keyakinan yang sama..."


" Apa? Farel kau salah paham." Melepaskan genggaman farel.


" Ya, aku akui suamiku berselingkuh, tapi tidak semudah itu melepaskannya. Aku mencintainya. Dan pernikahan tidak sama dengan pacaran. Kami punya komitmen, juga anak anak."


Farel masih menatap Tia. Tia jadi gugup dengan tatapannya.


" Jadi aku mohon berhentilah mencintaiku dan jalani hidupmu , ya.."


Lama sekali farel terdiam sambil memandang Tia. Tia menjadi risih.


Farel masih diam. Tia membayar kopi lalu bangkit dan pamit. Ketika Tia melangkah, suara farel terdengar sayup.


" Apa aku boleh menghubungimu?"


" Tentu. sebagai seorang teman." Lalu Tia cepat cepat melangkahvdan berlalu.


Apa apaan si orang ini. Setelah begitu lama masih mengharapkan aku, bagaimana bisa? Rupanya dia juga hadir di pesta Robi kemarin.


---


Zaky menunggu Tia di kantor. Ia tahu hari ini Tya ke yayasan lagi untuk menyelesaikan urusannya. Zaky meminta Tia untuk singgah di kantor. Katanya Ingin membahas soal anak anak karena Ia tinggal di apartemen sekarang. Padahal Dia sebenarnya sedang merasa rindu pada istrinya, apalagi karena tidak di ijinkan pulang ke rumah.


Tok tok!


" Masuk." Zaky tersenyum.


Ternyata Lila. Senyum Zaky memudar.


" Besok ada jadwal keluar kota. Aku hanya mengabari saja."


"Ohh.."


" Dan ini, Aku membelikanmu jus juga vitamin, seperti yang kau berikan padaku waktu aku sakit, kau terlihat lelah akhir akhir ini."


Ada sepasang telinga yang mendengar dari balik pintu. Lalu sebuah suara muncul dari sana.


" Wah kalian memang manis sekali.. saling memperhatikan." Tia tersenyum miring.


Zaky kaget bukan kepalang, Lila juga.


Mengapa dia ada di sini?


"Yasudah Lanjutkan saja obrolan kalian, aku mau pulang."


Zaky segera berdiri, dan melangkah.

__ADS_1


" Jangan, Lila baru akan keluar. Ia hanya perhatian sebagai sekretaris saja. Itu juga karena robi belum masuk."


Apa apan itu, apa dia takut sekali pada istrinya? huh! Mengganggu saja.


Zaky berdiri di hadapan Tia.


" Duduklah, Lila juga sudah akan keluar, dia hanya memberitahu scedule saja."


Tia menatap Lila dengan tangan mendekap di atas perutnya. Mau tidak mau akhirnya Lila keluar juga. Dia kesal sekali.


Tya meletakkan tas, ponsel dan kunci mobil di atas meja sofa lalu permisi ke toilet sebentar. Zaky duduk menghela nafas panjang. Ia pusing sekali harus mengimbangi mood istrinya beberapa hari ini. Tapi tak apa baginya, demi pernikahannya.


Ddrrrttt!


Lamunannya terhenti ketika terdengar suara getaran di atas meja. Ponsel Tia menyala, ada sebuah pesan masuk. Iseng, Zaky mengambilnya lalu membacanya.Ponsel Tia memang tidak pernah di kunci.


Farel? apa farel yang itu? mantannya? Apa ini!


Zaky membaca isi pesannya.


" Tia, selama hampir 9 tahun aku berusaha melupakanmu, aku juga mencoba berkencan dengan banyak wanita dapi demi Tuhan, aku tidak bisa melupakanmu. saat robi bilang kau sudah punya empat orang putri aku jadi ingat impian kita dulu, bahwa kau ingin punya banyak anak bersamaku. aku frustasi. harusnya aku mengatakannya saat di coffeshop tadi, tapi aku tidak bisa. melihatmu di pesta robi aku jadi punya sedikit harapan. apa boleh aku menunggumu?"


Huek!


Zaky merasa mual membacanya. Ia tiba tiba menjadi kesal sekali.


Kau bertemu dengannya rupanya.


Hati Zaky menjadi panas. Ia melempar sembarang ponselbitu ke sofa.


Sedetik lemudiam Tia masuk.


" Heh! kau melempar ponselku!"


Zaky diam saja. duduk dengan bibir runcing. melipat kakinya di atas lutut dan kedua tangannya di sandaran sofa. Ia tetap diam meski Tia berdiri menunggu jawabannya.


Lelah menunggu, Tia duduk.


" Kenapa kau ini!"


" Kau bertemu dengannya." Dengan tatapan dingin dan nada datar.


Siapa? hah? farel? bagaiman dia tahu?


"Cih! Mau punya banyak anak, itu impianmu dengannya?"


Apaan si?


"Mau berharap apa? Berharap kita berpisah? katakan pada mantanmu, Jangan mimpi!"


"Kau ini kenapa hah?"


"Baca saja pesan di ponsel mu itu!"


Tia pun membacanya dengan tersenyum. Membuat Zaky naik darah tinggi.


" Cih. Kau tersenyum"


" Kau ini kenapa hah? Cemburu? Kau saja mesra mesraan di kantor dengan sekretarismu, jika aku tidak datang entah apalagi yang akan kalian lakukan di sini."


"Hey jaga bicaramu, mana mungkin aku melakukannya di kantor."


"Jadi dimana kau mau melakukannya? Hem?"


"Apa? Aku tidak.."


"Halahh... akui saja. Lila itu, Dia benar benar berusaha keras. Yasudah aku mau pulang saja."


"Tapi aku mau membahas anak anak."


"Tidak perlu. Kalau kau rindu pulanglah. Setelah anak tidur lalu pergilah."


"Ap-Apa?"


"Bye."


Tia cepat cepat bangkit lalu meninggalkan Zaky yang tertegun.


Dia mau kemana? Apa bertemu mantannya lagi. Hey! *Harusnya kan aku yang marah? mengapa dia malah pergi? Apa dia membalas pesan itu? Apa ia akan menyuruhnya menunggu? Ahhh aku frustasi!

__ADS_1


Zaki mengusap usap kepalanya* berulang kali.


---


__ADS_2