
Seseorang orang biasanya selalu menganggu, kini tak lagi seperti dulu, membuat Rian menjadi merindu.
Seharian tadi Desi tak lagi menganggu Rian, bahkan ketika pemuda itu pura-pura mengaduh kesakitan tetapi dengan sekuat tenanga Desi menahan untuk tidak peduli padanya.
"Aduh, punggungku." keluh Rian pura-pura saat mereka berkumpul bersama.
Desi tetap duduk diam, malah Yuda yang bertanya seakan tak peka pada kepura-puraan temannya. "Lukanya masih sakit? Yuk ke UKS gue bantu olesin salepnya." ucap Yuda, menawarkan bantuan.
Melihat reaksi Desi yang bahkan tidak menoleh, membuat Rian jadi kecewa. "Gue udah gak apa-apa kok." sahutnya lemah.
"Loh, katanya tadi lo.."
Rian langsung beranjak berdiri ketika Yuda belum menyelesaikan omongannya. "Gue ke dalem kelas dulu." pamitnya.
"Ah, yaudah. Ntar gue nyusul."
****
Kejadian waktu di sekolah, kini membuat Desi jadi gelisah dan khawatir.
Ia berjalan mondar-mandir sedari tadi, membuat kedua temannya pusing sendiri.
"Aduh, Dia gak kenapa-kenapa kan tadi? Apa lukanya makin parah, ya? Seharusnya dia istirahat dulu." ucap Desi begitu khawatirnya.
"Des, lo kalo khawatir? Telpon dia langsung gih! Tanya keadaannya sekarang." saran Loli.
"Iya nih si Desi, bikin kita ikut pusing aja! Hubungin Rian sana!" sahut Mega menambahkan.
__ADS_1
Desi mengangguk, menelaah ide kedua temannya. "Ah, iya juga ya." ucapnya.
Ia kemudian mengambil ponselnya, hendak menghubungi pemuda itu tetapi ia mulai berpikir kembali. "Gue gak bisa." rengeknya, takut semakin tenggelam dalam perasaannya.
Loli dan Mega hanya bisa menghela nafas, merasa ikut sedih melihat temannya.
Sedangkan Rian kini tengah bermain game dengan sang papi, tapi kali ini dia selalu kalah karena pikirannya sedang frustasi.
"Argh! Kacau." keluhnya, mengacak rambutnya frustasi.
Sedangkan sang papi bahagia melihat kekalahan anaknya itu. "Menang lagi! Payah, Rian payah." ledeknya.
"Besok gak akan kalah lagi." sahutnya, beranjak berdiri. "Aku ke kamar dulu, pi!" pamitnya tiba-tiba, melangkah cepat menuju kamarnya.
"Lah, dia malah pergi. Huuu dasar." ledeknya kembali, kemudian menoleh ketika Sefia memanggilnya.
"Iya, mi." sahutnya, beranjak melangkah mendekati sang istri. "Ada apa, sayang? Mau papi pijet kah?" tawarnya.
Sefia menggelengkan kepalanya. "Enggak sayang, tapi mami pengen makan sesuatu."
"Mami mau makan apa? Biar papi beliin." tanyanya sambil merangkul dan mengelus perut istrinya yang membesar.
"Mami pengen buah - buahan yanga manis dan segar." sahutnya.
"Oh, ya udah papi sendiri yang akan beli."
"Mami ikut!" pintanya.
__ADS_1
"Tapi kan mami lagi hamil, gak boleh banyak gerak." tolaknya.
"Justru karena lagi hamil, gak bagus juga kalo cuma berdiam diri." sahut Sefia memberitahu. "Jadi, boleh kan ikut? Sekalian jalan-jalan gitu."
Dedi menghela nafas. "Iya boleh."
"Makasih pi." mengecup pipi suaminya dengan senang. "Yuk berangkat sekarang!" pintanya.
****
Rian duduk ditepi ranjangnya sembari menatap ponselnya dengan bingung, antara menghubungi Desi duluan atau tidak.
Tapi ia memutuskan menunggu gadis itu untuk menghubungi dirinya duluan saja, karena biasanya Desi selalu menghubungi dirinya walau sekedar menyapanya.
Ia kemudian melemparkan dirinya diatas kasur, melihat langit-langit dinding kamarnya sembari teringat wajah Desi yang sedang tersenyum padanya.
Rian tertawa ketika mengingat kelakuan Desi yang begitu perhatian padanya, begitu manja bahkan membuat dirinya jadi kesal.
Tapi ketika mengingat bahwa Desi sudah tak lagi peduli padanya, membuat hatinya begitu sesak dan sakit.
Rian kemudian memegangi dadanya yang terasa sesak itu. "Apa aku benar-benar menyukai gadis itu?"
****
Sup, kalo kamu baca Episode ini. Fix kita jadian!! :P
Bakal Crazy Up hari ini kalo Supian jawab.
__ADS_1