
Sefia berjalan dengan susah payah keluar dari gedung sekolah, kepalanya pening dan masih terasa sesak didadanya.
Ia kemudian memilih duduk di anak tangga yang sepi, memegang kepalanya yang terasa berat serta memukul dadanya yang bergejolak tak bisa berhenti.
Umpatan kasar pada anaknya yang ia dengar sendiri, dari Aldy maupun dari Yuda masih memutar diotaknya tak mau berhenti. Mengingat hal itu membuatnya terisak kembali.
"Kenapa mereka dengan mudah mengatakan hal kasar seperti itu?" ucapnya terisak. "Anakku tidak pantas mendapat umpatan kasar seperti itu." memegang dadanya yang sesak.
"Anakku yang malang." ucapnya lemah dalam tangis, mengingat anaknya yang terbaring lemah dirumah sakit.
"Nyonya, Anda baik-baik saja?" tanya Supirnya menghampiri dengan panik.
"Aku baik-baik saja pak." sahutnya mencoba tenang. "Mungkin karena aku belum sarapan jadi aku sedikit merasa pusing."
Sefia kemudian mencoba beranjak berdiri dalam kondisi tubuhnya yang lemah dan terhuyung. "Biar saya bantu Nyonya." tawar Supir itu, memegang lengan Sefia untuk membantunya berjalan tegap.
"Terimakasih." ucap Sefia, memberi senyum pasi.
Ia kemudian segera memasuki mobil, dan meminta Supirnya untuk kerumahnya terlebih dahulu untuk mengisi perutnya yang kosong dan meminum vitamin agar dia bisa sehat kembali.
****
Disisi lain, Dedi tampak kelelahan. Ia duduk di kursi tunggal sebelah anaknya. Menundukkan kepalanya untuk memejamkan matanya sejenak karena ia nanti juga harus kembali ke kantornya untuk mengurus beberapa pekerjaan yang masih terbengkalai.
Tapi seperti sebuah keajaiban, tubuh Rian yang semula kaku tak dapat digerakkan.
Kini jemarinya mulai bergerak meski itu sedikit, dan tanpa sengaja menyentuh permukaan wajah papinya yang sedang terlelap.
Merasa ada sesuatu yang bergerak, lantas Dedi langsung membuka kedua bola matanya dan tentu ia langsung dikejutkan oleh jemari anaknya yang bergerak.
Dedi membelalak dan senang bukan main. "Rian." ucapnya dengan senang.
Ia kemudian segera beranjak berdiri dan memanggil petugas yang dimana sambungan telefon langsung terhubung pada mereka.
__ADS_1
"Dokter, anak saya tangannya barusan bergerak." ucap Dedi memberitahu ketika dokter memasuki ruang perawatan.
Segera dokter itu dengan para asisten dan perawat lainnya mengecek keadaan Rian. Sedangkan Dedi memilih untuk menunggu diluar kamar guna memberi kebebasan bagi mereka untuk mengecek kondisi anaknya dengan baik.
Sambil lalu ia mencoba untuk mengabari istrinya, memberikan kabar baik untuknya.
Sedangkan Sefia yang sudah sampai dirumahnya langsung menyantap makanan berkuah yang mampu untuk ditelannya, meski itu dengan susah payah.
Ia makan sembari sesegukan karena tadi tak berhenti untuk menangis karena kemarahan, kecewa bercampur menjadi satu. "Aku harus sehat." ucapnya ditekankan pada dirinya, meski sesekali ia harus menyeka air matanya yang mengalir tak mau berhenti.
Kemudian ponsel yang berada disaku mantelnya berdering, ia mengambilnya.
Tahu bahwa suaminya telah menghubunginya, segera Sefia menghapus air matanya dan mengambil nafas dalam-dalam lalu ia hembuskan perlahan.
Mencoba menetralkan emosinya agar suaminya tidak tahu dan tak khawatir padanya.
"Hallo." sahutnya, setenang mungkin.
"Gak pi, mami udah di rumah kok. Ini lagi makan dulu sebelum nyusul papi kerumah sakit."
"Kalau sudah makannya, cepetan kerumah sakit sekarang ya, mi." pinta Dedi dengan antusias.
"Ada apa, pi?" tanya Sefia penasaran, karena nada suara suaminya terlihat sedang senang.
"Rian mi, tangan Rian barusan mulai bergerak." sahutnya, sontak Sefia langsung beranjak berdiri.
"Aku akan ke rumah sakit sekarang pi." ucapnya langsung mematikan sambungan telefon.
Melupakan untuk menghabiskan makanannya, dan langsung meminta Supirnya untuk mengantarnya kembali kerumah sakit segera.
Sepanjang jalan Sefia begitu tidak sabar ingin cepat sampai dirumah sakit, ia begitu senang dan berkali-kali berdoa dan bersyukur.
"Ya Tuhan terimakasih. Terimakasih." ucapnya dalam doa. "Semoga dengan perkembangan ini Rian segera sadar."
__ADS_1
Sesampainya dirumah sakit, Sefia langsung melangkah masuk dan berjalan cepat karena sudah tak sabar ingin mendengar dan melihat sendiri perkembangan anaknya.
Dedi tentu menunggu istrinya itu di depan ruangan, Membentangkan tangannya ketika Sefia sudah terlihat melangkah mendekatinya lalu memeluk istrinya dengan begitu eratnya.
Rasa syukur, dan tatapan penuh haru serta kelegaan mereka kini rasakan. Setelah puas memeluk istrinya dengan hangat. Dedi langsung mengecup kedua pipi dan kening istrinya.
"Apa benar yang papi katakan barusan itu?" tanya Sefia mendongak.
Dedi mengangguk, mengiyakan. Kebahagiaannya tak mampu ia ungkapkan melalui kata-kata.
Sefia kemudian langsung berbalik dan masuk untuk melihat anaknya yang masih berbaring diatas ranjang.
"Kata dokter, Rian akan segera sadar. Perkembangannya berkembang pesat diluar dugaan mereka." ucap Dedi mengelus lengan istrinya. "Ini berkat doa mami selama ini."
Sefia menoleh. "Berkat doa kita berdua sayang."
Dedi mengangguk, lalu memeluk istrinya kembali penuh haru.
"Kita hanya perlu bersabar, sebentar lagi kita akan melihat senyum anak kita kembali."
****
Jangan Kendor POINNYA :*
Dengan Kalian menyumbangkan POIN KALIAN, Maka Kalian sudah mendukung Author dengan Penuh.
Author sangat bersyukur dan berterimakasih untuk itu.
Yang Belum tahu caranya, Tinggal ke BERANDA dan Klik PUSAT MISI.
Bagi Noveltoon, Langsung Klik POINKU diberanda.
10,100,1000 terserah yang penting Ikhlas Lahir Batin.
__ADS_1