SELINGKUH

SELINGKUH
AFFECTION : Luapan Beban


__ADS_3

Dedi dan Sefia kini kembali pulang. Dedi mencoba berusaha bersikap dengan tegar, sedangkan Sefia masih menunduk sedih serta matanya begitu sembab akibat menangis.


"Aku akan memasak untukmu, tunggu disini ya sayang." pinta Dedi, beranjak berdiri.


"Tapi aku tidak lapar, pi." sahutnya.


Dedi tersenyum, mengelus rambut istrinya. "Anak kita pasti sedang lapar." jawabnya telak, membuat Sefia tak bisa membantah. "Aku akan memasak sebisaku."


"Baiklah." sahut Sefia meng-iyakan.


Dedipun segera kedapur dan memasak yang ia bisa.


Selesai memasak, ia langsung membawa makanan itu kepada istrinya yang masih menunduk sedih dan segera menghapus airmatanya ketika dirinya datang melangkah mendekatinya.


"Papi hanya bisa memasak nasi goreng, tapi kali ini dicampur dengan telur dan beberapa seafood. Meskipun mami gak suka, tapi coba dimakan ya biar mami gak jatuh sakit." pintanya, sembari menyodorkan piring berisi nasi goreng kedepan istrinya.


"Mami suka kok." sahutnya, mencoba mengulas senyum dan mencoba mengunyah makanan yang sangat sulit untuk ia telan karena nafsu makannya yang berkurang. "Papi juga mau?" tawar Sefia kemudian.


Dedi mengangguk. "Iya, suapin dong!" pintanya.


Dan Sefia mulai menyuapi suaminya yang mencoba bermanja padanya.

__ADS_1


"Rian kalau malam, suka sekali nasi goreng seperti ini. Selalu meminta untuk disuapi agar bisa bermanja sama mami." ucap Sefia pilu, menangis lagi tapi kemudian tersenyum miris. "Tapi bagaimana ya? Jangankan untuk makan kesukaannya, untuk bertahan hidup saja rasanya susah."


Mendengar itu rasanya dada Dedi begitu sesak, ia memalingkan wajahnya untuk mengusap matanya yang nanar.


Lalu ia menoleh kembali untuk terlihat tegar. "Yakinlah! Anak kita pasti baik-baik saja. Dia anak yang kuat." ucapnya mencoba mengulas senyum, menyemangati.


Sefia mengangguk. "Iya, papi benar. Walau besar kemungkinan Rian akan sadar dengan cacat mental, tapi dia masih memiliki harapan untuk sembuh dengan normal meskipun itu sedikit."


"Mami benar, kemungkinan kecil itu adalah harapan kita. Kita tidak boleh pesimis."


Sefia jadi tersenyum dengan segala harapan yang tergambar. Lalu mengambil sendok kembali untuk menyuapi suaminya dan dirinya sendiri.


Ketika mereka sudah selesai makan malam karena lapar, mereka kemudian kembali membaringkan tubuh diatas kasur. Bersiap untuk mengistirahatkan diri.


Tanpa berkata apa-apa dan saling diam untuk menenangkan pikiran, Dedi hanya mampu mengelus punggung istrinya yang kini rapuh.


Sesekali ia mengecup keningnya, lalu mengeratkan pelukannya. "Mami tidurlah! Istirahat yang tenang, karena anak kita besok masih membutuhkan kita." ucapnya dengan lembut.


Sefia mengangguk. "Iya." sahutnya, lalu mencoba memejamkan matanya.


Dedi masih mengelus punggung istrinya sambil memeluknya sampai ia memastikan bahwa istrinya benar-benar tidur begitu lelapnya.

__ADS_1


Ketika ia sudah yakin istrinya terlelap tidur, dirinya dengan penuh kehati-hatian menggulingkan diri dan beranjak dari tidurnya.


Dedi mengambil sebotol air dingin yang berada dilemari pendingin dan meneguknya diruang tengah yang sudah gelap karena lampu dimatikan.


Disana dia meluapkan segala beban pikirannya, menangislah sudah dirinya. Begitu sesak pada kenyataan yang pahit dalam hidupnya yang semula bahagia.


Anak tersayangnya, istrinya dan bahkan sahabatnya sendiri. Hancur sudah berantakan semuanya.


Ia menangis tersedu-sedu, tak ingin menunjukkan kelemahan itu. Lebih lagi istrinya tengah mengandung, ia tidak ingin membuatnya semakin rumit.


Banyak sekali kasus dimana, ketika mengalami kasus dalam rumah tangga atau kasus yang menimpa anak mereka. Biasanya orangtua emosinya menjadi tak terkontrol dan malah menambah beban dirinya dengan menghancurkan hubungan harmonis dengan suami-istrinya. Dedi tentu tak mau itu terjadi.


Tapi ia juga tak memungkiri bahwa kepalanya rasanya ingin meledak tak terkendali, tetapi ia harus menguasai diri.


Ia harus memasang bahu kokoh untuk menghadapi segala kemungkinan, demi anaknya yang sedang berjuang.


Sedangkan Sefia yang pura-pura terlelap, ia mulai memikirkan nasib anaknya kembali. Ia menangis kembali, menangis bahkan nyaris tak bersuara karena tidak ingin suaminya mengetahui bahwa dirinya belum setenang itu.


"Tuhan, jika kau tidak bisa menghapus ujian ini. Aku tidak akan mengeluh. Aku hanya ingin meminta untuk mengkokohkan bahuku agar tidak merasa berat ketika memikul beban yang menimpaku, menimpa keluarga tersayangku." doanya penuh harap, dalam tangis dan bibir yang bergetar.


****

__ADS_1


Kamsamida :* Sorry Banget ya!!


__ADS_2