SELINGKUH

SELINGKUH
AFFECTION : Sebenarnya


__ADS_3

Setelah menemui Lia, akhirnya Angga dan Yuda kembali ke kota.


"Kita akan kemana, Yud?" tanya Angga pada anaknya yang sedang menunduk, menyesali perbuatannya.


"Kita langsung ke kantor polisi, pa." sahutnya.


Seketika Angga langsung mengerem mendadak kendali mobilnya, ia kaget. "Maksudmu apa, Nak? Untuk apa kita ke kantor polisi?"


Yuda menoleh, menatap papanya penuh dengan rasa penyesalan. "Masalah yang menimpa Putri dan menuduh Rian. Sebenarnya Yuda tahu semua, Yuda berada dalam kejadian."


Angga mencengkram dua pundak Yuda, sedikit mengguncangnya. "Apa kamu sadar dengan kata-katamu?"


Yuda mengangguk. "Iya pa." sahutnya tanpa ragu.


"Caritakan semuanya pada papa terlebih dahulu! Agar papa bisa tenang." pintanya, tidak ingin anaknya terlibat dalam lingkar masalah yang rumit.


"Baiklah."


Angga kemudian memarkirkan kendaraannya untuk bisa mendengar lebih cerita anaknya.


"Sekarang ceritakan semuanya pada papa!"


Yuda mengehela nafas, mengingat kejadian yang masih memutar jelas di ingatannya. "Waktu itu Yuda pergi jalan-jalan di sore hari, Yuda juga kepikiran perkataan Rian yang akan menemui Putri. Ya, sedikit ada rasa cemburu waktu itu dan Yuda ingin tahu. Tapi di perjalanan Yuda tak sengaja melihat preman yang pernah menggangu Putri sebelumnya, Yuda merasa curiga lalu mengejar pemuda itu tapi Yuda kehilangan jejaknya."


"Jadi Yuda memutuskan untuk melihat Putri dan Rian saja. Saat Yuda pergi ke sebuah taman, dimana seharusnya Putri berada disana dengan Rian. Tapi malah terlihat sepi, kemudian Yuda mendengar suara jeritan seorang wanita dan Yuda buru-buru menghampirinya. Tapi..." Yuda tersekat, menunduk sedih.

__ADS_1


"Tapi kenapa?" desaknya.


"Semua sudah terlambat pa, Yuda sudah menemukan Putri dilecehkan." sahutnya dengan sesak. "Yuda sempat terlibat perkelahian dengan pemuda itu, tapi dia malah kabur dan ingin Yuda mengejar pemuda brengsekk itu tapi Yuda harus menolong Putri yang sedang dalam keadaan butuh pertolongan."


"Lalu kenapa kamu tidak mengatakan semuanya?"


"Yuda ingin mengatakan semuanya, tetapi Putri melarangnya. Dia mengatakan bahwa dia malu jika orang-orang tahu kalau dirinya sudah ternoda tapi Yuda juga tidak menduga bahwa Putri malah menuduh Rian sebagai pelakunya." Yuda memegangi tangan papanya. "Maafkan aku, pa! Maafkan aku yang gak bisa ngomong jujur karena rasa benciku yang gak beralasan. Yuda sungguh menyesal telah menyudutkan Rian, membuat Tante Sefia jadi banyak menanggung beban."


"Dasar anak bodoh." menepuk-nepuk kepala Yuda, sembari terisak.


Angga kemudian memeluk anaknya. "Ini juga kesalahan papa yang tidak berbicara jujur padamu."


"Enggak pa, semua salahku. Aku lah yang memberi beban dan menyulitkan."


Angga mengelus rambut anaknya. "Tidak Nak, kamu hanyalah korban. Tapi jadikan semua ini pelajaran berharga bagimu, ya?"


Angga jadi tersenyum lega. "Mari kita ke kantor polisi untuk memberikan saksi dan kita langsung menemui orangtua Rian untuk meminta maaf padanya.


"Iya pa." sahutnya. "Tapi, apa Tante dan Om akan memaafkan Yuda?"


"Tenanglah! Sekalipun mereka marah padamu, itulah resiko yang harus kamu terima. Mengerti?"


Yuda mengangguk dan tersenyum. "Yuda mengerti."


****

__ADS_1


Sefia segera pergi menuju rumah temannya, sesampainya disana Sefia langsung disambut dengan tidak senang.


"Untuk apa kamu datang kemari?" tanya Nadin tak suka.


"Aku ingin berbicara dengan Putri." sahut Sefia dengan lembut, sembari memohon. "Aku akan berbicara dengan baik-baik padanya."


"Kamu ini ngeyel banget ya! Apa kamu ingin memaksa anakku agar memaafkan anakmu yang bejatt itu, hah? Aku tidak akan membiarkannya." tegas Nadin.


Ingin segera menutup pintu tetapi dengan sigap Sefia memberikan tangannya sendiri untuk jadi penghalang agar pintu tidak bisa tertutup.


Ia menahan sakit. "Ku mohon dengan sangat padamu, aku juga bisa mengerti perasaan Putri. Aku juga seorang ibu."


Nadin membuka pintunya kembali. "Mengerti, hah? Suamimu sendiri mengatakan akan menuntut balik kami." tertawa sarkas dan bersindakap. "Telan kembali kata-katamu itu."


"Nad, aku hanya ingin mengatakan bahwa Putri telah salah paham pada Rian. Aku ingin berbicara dengan baik-baik padanya."


"Tetap tidak bisa, aku tidak mengijinkannya." bentaknya. "Pergilah!"


Hendak Nadin ingin berbalik kembali tapi tertahan, ia pias seketika.


"Aku sudah melihat hasil rekaman CCTV." ucap Sefia, membuat Nadin membelalak.


****


Sorry cuma bisa satu Episode karena Author lagi gak enak badan, Tolong dukung terus dengan cara VOTE POIN ya :*

__ADS_1


Biar semangat lagi!!


__ADS_2