
Setelah memeriksa anaknya, Dedi dan Sefia mulai sedikit tenang karena demam Rian mulai turun.
Karena anaknya masih bayi jadi sebagai orangtua tentu sangat khawatir tentang kondisi anak mereka.
"Saya sudah memberikan obat penurun demam dan demamnya akan segera turun." ucap dokter itu pada Dedi. Sedangkan Sefia menggendong anaknya yang sudah tertidur pulas didekapannya.
"Syukurlah, terimakasih banyak dok." ucapnya sebelum ia berlalu pergi untuk pulang.
Saat didalam perjalanan pulang, Dedi tiba-tiba mendapat sambungan telefon dari bawahannya yang ada diperusahaan cabang, bahwa kondisi disana tengah darurat.
"Mereka berkumpul didepan gedung, meminta agar kita tidak meneruskan proyek yang kita tangani pak." ucap bawahannya yang berada diseberang.
"Kamu urus saja dulu, bagaimana caranya agar masa berhenti sebelum aku kesana." sahutnya cemas dan gelisah.
"Baik pak."
Dedipun mengakhiri panggilan teleponnya, lalu mengacak rambutnya gusar penuh frustasi.
Sefia yang tahu itu, lantas bertanya. "Kenapa? Apa ada sesuatu yang darurat disana?"
Dedi mengangguk. "Iya, masa mendemo di depan gedung perusahaan, meminta proyek yang aku bangun dihentikan."
Sefia terdiam sejenak, lalu memegang lengan suaminya yang gelisah. "Tidak apa-apa jika kamu kesana, Rian biar aku dan Ratih yang mengurusnya."
"Tapi sayang, bagaimana bisa aku meninggalkan anakku yang sedang sakit."
Sefia tersenyum, mengelus pipi suaminya. "Jangan terlalu khawatir! Rian sudah baik-baik saja. Aku akan menjaganya."
"Terimakasih." ucap Dedi, memeluk istrinya lalu mengecup pipinya dan juga mengecup kening anaknya yang berada dipangkuan istrinya. "Ayah janji akan langsung pulang ya, sayang." bisiknya pada anaknya itu. "Cepat sembuh! Jangan bikin Papi khawatir."
"Pasti, Rian pasti sembuh." sahut Sefia seraya berbisik, membuat Dedi tersenyum karenanya.
Sesampainya dirumah, Dedi langsung bersiap diri untuk berangkat keluar kota.
"Aku berangkat dulu ya, sayang." pamitnya pada istrinya itu.
"Iya, hati-hati."
Dedipun segera kemobilnya dan berlalu pergi, sedangkan Anggi sudah bersiapdiri untuk ikut menemaninya.
****
Kini Dedi sudah berada diparkiran gedung apartemen milik sekretarisnya itu, menunggu Anggi keluar untuk ikut bersamanya.
Dedi membuka kaca mobilnya, mengernyitkan dahinya ketika melihat Anggi keluar dengan membawa koper besar bersamanya.
"Kita hanya sebentar disana dan langsung pulang jika masalahnya sudah selesai." ucap Dedi penuh heran pada sekretarisnya itu.
"Ya kan gak apa-apa pak, persiapan. Siapa tahu nanti kita akan bermalam." ucapnya penuh harap, menahan senyum.
Ketika supir membantu Anggi memasukkan kopernya dibagasi mobil, Anggi segera berlari untuk membuka pintu belakang tapi dengan sigap Dedi menahannya.
"Kamu ngapain?" tanya Dedi heran.
"Ya, mau masuklah pak." sahutnya enteng.
__ADS_1
"Siapa yang bilang kamu boleh duduk bersamaku, duduklah didepan." tegasnya, membuat Anggi menebalkan bibirnya sebal.
Anggi menghentakkan kakinya, dengan berat melangkah masuk dan duduk di kursi depan.
"Kita langsung berangkat, pak?" tanya supirnya itu pada Dedi, ketika ia sudah masuk mobil dan bersiap untuk melaju.
"Iya." sahut Dedi singkat, menidurkan kepalanya yang masih terasa berat.
Sedangkan Anggi masih kesal, ia bahkan tidak memiliki kesempatan untuk berdekatan dengan orang yang dikaguminya.
****
Sesampainya diluar kota, Dedi langsung menuju perusahaan cabang.
"Apa yang sebenarnya terjadi?" tanyanya meninggi, pada bawahannya yang ia tugaskan untuk kelancaran pembebasan lahan.
"Begini pak masalahnya, mereka menuntut kita memberikan tambahan kompensasi dari yang telah kita sepakati. Semua itu dikarenakan kota ini pengalami peningkatan pendapatan perkapita, sehingga tanah yang sudah mereka jual mengalami kenaikan harga, dan sekarang mereka tidak menerima penjualan harga tanah mereka yang telah kita sepakati dulu." jelasnya.
"Oke! Jika begitu masalahnya, berikan mereka kenaikan setengah dari harga kenaikan yang mereka minta. Jika mereka menolak, maka katakan bahwa aku akan menempuh jalur hukum."
"Baik pak." sahutnya menunduk.
"Dan juga, besok proyeknya harus mulai beroperasi kembali." pintanya tegas.
"Baik pak, akan segera saya lakukan."
Setelah semuanya selesai, Dedi membanting tubuhnya diatas kursi kerjanya untuk beristirahat. Itu pun tak luput dari perhatian Anggi yang mendampinginya.
"Ini pak, minuman hangat. Bagus untuk kebugaran tubuh ketika lelah." ucapnya, menyodorkan gelas berisi minuman hangat kedepan atasannya itu.
Anggi melihat Dedi sangat begitu senang ketika minuman yang disuguhkannya kali ini ia terima. "Apa bapak perlu sesuatu lagi?" tanyanya antusias.
"Tidak perlu, setelah ini kita beristirahat sejenak dihotel sebelum kembali pulang." sahutnya, memberitahu.
"Apa kita tidak bermalam saja, pak? perjalanan yang kita tempuh kan cukup jauh."
"Tidak, aku harus segera pulang. Jika kamu lelah, kamu boleh menginap. Besok tidak usah masuk kerja." sahutnya, menyandarkan kepalanya lagi, dikursi kerajaannya.
"Ah tidak pak, akan sangat tidak sopan jika saya sebagai sekretaris tidak siap untuk mendampingi bapak."
"Terimakasih." sahutnya kali ini tersenyum. "Kamu boleh kembali kemeja kerjamu." ucapnya, ketika sekretaris nya masih betah berdiri dihadapannya.
"Ah, iya pak." sahutnya gembira, menunduk memberi hormat lalu berbalik dan pergi.
Betapa senangnya Anggi karena ia mulai mengalami kemajuan, dapat melihat Dedi tersenyum padanya dan terlebih lagi, mereka akan beristirahat dihotel sebelum pulang kambali.
"Aaaa. kita akan menginap di hotel bersama." teriaknya histeris, tak nyaring. ketika membayangkan hal indah yang akan mereka lakukan bersama.
****
Disisi lain, Sefia tengah sibuk mengurus anaknya.
"Sepertinya den Rian sudah baikan Nyonya." ucapnya.
"Iya, mudah-mudahan panasnya tidak kambuh lagi." sahutnya, sembari mengecup pipi anaknya yang tengah tertidur lelap.
__ADS_1
Ia kemudian mendapatkan panggilan telepon dari temannya, Nadin.
"Hallo, Nad." jawabnya.
"Hallo, kamu sedang apa?"
"Aku lagi jaga Rian nih, dia tadi demam."
Sontak Nadin kaget. "Terus, gimana keadaan si kecil sekarang?"
"Rian udah gak apa-apa kok, demamnya udah turun."
"Ah, syukurlah." Nadin mengelus dadanya, lega. "Oh ya, Dedi jadi keluar kota?"
"Iya jadi kok, tadi dia dapat telfon gitu kalo perusahaan disana lagi didemo masa masalah pembebasan lahan."
"Ah, si Bos besar pasti langsung bisa kelarin masalah kecil seperti itu." sahutnya enteng. "Tapi, apa dia kesana sama sekretaris nya itu? Sodaranya Sherly."
"Iya, kenapa?"
Nadin menepuk jidadnya. "Ya ampun Sefia, kenapa kamu biarin sih? Kalo dia ngapa-ngapain Dedi, gimana?"
"Maksud kamu gimana? Aku gak ngerti."
"Ya Tuhan." Nadin geram. "Dia kan sudah pernah nantangin dan ngomong kasar sama kamu. Kalo nanti dia ngambil kesempatan ini buat ngegoda Dedi dan masuk perangkapnya, gimana?"
Seketika Sefia langsung terdiam, ia tidak dapat berkata apa-apa lagi.
Masalalu tentang bagaimana mantan suaminya akhirnya mengkhianatinya berputar kembali di ingatannya, seakan menceritakan masalalu kelam dan menakutkan.
"Sefia, kamu masih disana, gak?" tanya Nadin, ketika Sefia hanya terdiam memaku.
"Aku akan memastikannya." sahutnya cepat, lalu mematikan sambungan teleponnya begitu saja membuat Nadin heran.
Setelah mendapat kekhawatiran, segera Sefia mencoba menghubungi suaminya berulangkali sembari mengigit kukunya dengan gelisah.
Dan akhirnya panggilannya dijawab, tetapi membuatnya kaget.
"Hallo." jawab Anggi.
"Kenapa kamu yang mengangkat telefon suamiku, hah?" bentaknya, emosi.
"Ah, Dedi." sahutnya tersenyum malu dan manja. "Dia lagi mandi tuh."
"Brengsek." umpat Sefia kemudian, lalu menutup panggilan teleponnya.
Pikiran penuh kecemasan, bahkan ia membayangkan hal terburuk sudah terjadi diluar sana. "Aku harus menyusul mereka."
****
Mohon dukungan POINnya dong!!
Apresiasinya kecil sekali T_T
Bentar lagi aku upload yang kedua, ditunggu :*
__ADS_1