
Zaky sedang mengisi laptopnya ke dalam tas. Ia bersiap akan pergi bertemu Arya hari ini membicarakan lahan lokasi pembangunan Resort yang di perebutkan dua perusahaan properti ternama. Karena berada di dalam wilayah pemerintahannya, maka sebagai walikota, Arya berinisiatif menjadi mediator keduanya dan menghindari konflik di tengah warga para pemilik lahan tersebut.
Sebuah panggilan dari Robi, Zaky segera menjawab panggilan itu.
"Bos aku minta maaf tidak bisa ikut bersamamu hari ini, ibuku mengalami hipoglikemia, Ia terlalu was was pada makanan manis karena takut terkena diabetes, aku sekarang berada di rumah sakit."
"Ok baiklah, bagaimana keadaannya?"
" Sudah lebih baik dari semalam. Kadar gulanya kembali normal tapi masih di observasi. Mungkin baru akan pulang besok hari."
" Iya baiklah. Aku akan pergi menemui Arya hari ini. Ini tentang yang aku ceritakan semalam."
"Aku tahu, soal lahan. Bos, bawalah Lila bersamamu, aku sudah menghubunginya tadi. Mungkin dia punya sesuatu untuk menghentikan Benny. Dia sudah mempelajari data perusahaan Benny."
" Entahlah. Dia juga sedang hamil. Aku agak khawatir."
" Terserah kau saja."
Zaky menutup telponnya. Ia bergegas turun ke bawah. Pertemuan sepenting ini, ia tidak boleh terlambat. Arya seorang walikota yang jadwalnya sangat sibuk, turun langsung menangani urusan seperti ini, itu karena Zaky adalah sahabatnya. Jadi Zaky harus memburu waktu agar tidak mengecewakan Arya.
Di ujung anak tangga, Zaky bertemu dengan Lila. Sejak Lila mengatakan dengan sungguh sungguh niat tulusnya hari itu, Zaky berpikir mungkin saatnya dia percaya dan tidak waspada pada Lila lagi. Ia pun menyapa Lila dan menanyakan apa Lila mau ikut untuk bertemu dengan Arya dan Benny. Lila mengangguk, Lila sudah mendapat telepon telepon Robi yang meminta ia menemani Zaky. Kata Robi, meskipun Lila tidak dapat membalas kejahatan Benny dengan serta merta, Ia punya kesempatan untuk mengahancurkannya perlahan lahan.
Tanpa Sarapan lagi, mereka berdua menuju mobil. Dari balkon atas, Tia menatap heran pada Zaky dan Lila yang masuk ke mobil dan berlalu. Terselip sedikit kecemburuan di hatinya yang entah mengapa.
Kenapa mengajak Lila jika Ia ke tempat Arya. Harusnya kan mengajakku. Lagi pula Lila tengah hamil tua begitu. Dan kenapa sikap Zaky berubah pada Lila sekarang? Apa karena aku selingkuh? Oh Tuhan, apa yang aku pikirkan?
---
Zaky dan Lila turun dari mobil. Mereka tiba di gedung walikota. Benny memperhatikan mereka dari jauh.
Hmm.. mereka datang bersama. Lila, kau pintar sekali, menyeret Zaky ke ranjang dan mendapatkannya dengan mudah. Bahkan kau hamil anaknya. Huh!
Kaki Lila tersandung dengan tangga pintu masuk hingga ia hampir terjatuh. Zaky dengan cepat menangkapnya. Dan Benny mengambil ponsel asistennya lalu memotret mereka, mengirimkannya ke Tia.
" Kau tidak apa apa?"
" Hem." kata Lila mengangguk lalu buru buru melepaskan diri dari Zaky. Zaky hanya khawatir karena Lila sedang hamil.
Pertemuan pun dimulai dan perbincangan kedua presdir itu dengan walikota berjalan alot. Benny yang di dampingi asistennya bersikukuh bahwa para warga di sana sudah menyetujui untuk menjual lahan mereka pada Benny, dan harganya dua kali lipat dari harga yang Zaky tawarkan. Sementara Zaky merasa sudah jauh hari mencapai kesepakatan dengan perwakilan warga, tinggal menunggu pembayaran saja. Arya yang berada di tengah mereka sampai merasa frustasi.
__ADS_1
" Hei!" kata Arya menepuk meja. " Kapan kalian mau berhenti, hah? Sekarang begini, aku akan membawa perwakilan warga kesini. Kalian silahkan melobinya dengan cara kalian masing masing. Biar dia putuskan di depan kita semua."
Arya lalu memberi kode kepada ajudannya untuk menyuruh masuk beberapa perwakilan warga pemilik lahan tersebut, yang sebelumnya memang di minta Arya untuk hadir hari ini. 3 orang pria itu pun masuk. Zaky mengenali salah satunya yang sempat membuat kesepakatan dengannya. Ia segera meminta penjelasan.
" Katamu semua warga sudah sepakat dengan kompensasi yang kami berikan. Lalu mengapa jadi begini?"
" Maaf Tuan, Presdir Benny berjanji memberikan kompensasi yang lebih besar. Warga tergiur dan malah ingin menjual ke S&C Company."
Benny tersenyum licik. Melihat itu, Lila yang sedari tadi bersandar menonton perbincangan mereka, kini ambil bagian.
" Maaf sebelumnya jika aku menyela. Presdir Benny menjanjikan kompensasi yang lebih besar padamu? Sekarang perhatikan ini." kata Lila membuka tabnya.
Lila memperlihatkan laporan keuangan perusahaan Benny pada ketiga perwakilan warga itu. Laporan yang berhasil dia unduh tempo hari. Ketiga orang itu memperhatikan dengan seksama.
" Kalian lihat angka angka ini? S&C tengah mengalami defisit. Perusahaan ini masih bertahan karena pinjaman, Ia menggelontorkan dana habis habisan untuk proyek yang stagnan dan sekarang terlalu berambisi ingin membangun resort. Jangankan untuk membayar kalian, jumlah ini bahkan tidak cukup untuk operasional perusahaan dalam beberapa bulan ke depan. Presdir Benny menjalankan prroyeknya seperti dalam mimpi. Apa kalian ingin ikut sepertinya, karena tergiur berharap lebih?
Deg!
Benny merinding. Matanya terbelalak mendengar argument Lila yang sepenuhnya benar.
Bagaimana ia bisa tahu? Lila.. kau..
Sementara itu Zaky terperangah mendengar itu. Lalu tersenyum tipis.
" Kau mencuri datakuku!" Benny berdiri menunjuk Lila.
"Tidak, kau memberikan aksesnya padaku, ingat? Aku hanya tidak ingin kau membodohi warga cuma untuk menghentikan Zaky." jawab Lila tenang.
Warga itu saling berpandangan, Arya dan Zaky saling mengangguk memberi kode.
Dia sudah tamat.
" Kalau begitu kami memutuskan akan menjual lahan kami pada presdir Zaky, kami akan memberitahukan tentang ini pada yang lainnya."
Arya mengangguk dan meminta notulen mencatat hasil pertemuan ini. Benny menggeretakkan giginya sambil menatap Lila penuh amarah. Dihancurkan oleh selingkuhan yang berselingkuh, mimpi buruk yang tidak pernah terpikirkan olehnya.
Mereka semua pamit ijin. Lila permisi sebentar ke kamar kecil sementa Arya dan Zaky mengobrol berdua. Hamil tua begini, Ia sulit menahan hasrat ingin buang air kecil.
Di belakangnya, Benny mengikuti Lila ke toilet dengan rasa marah yang membuncah. Setelah agak lama, Benny masuk ke dalam toilet wanita tidak peduli apapun dan menguncinya dari dalam. Lila keluar dari toilet menuju wastafel, Benny datang dari balik dinding dan mencegatnya. Benny menekan Lila kedinding dan mencekiknya. Lila mencengkram tangan Benny karena kesulitan bernapas.
__ADS_1
" Aku akan membunuhmu! Aku bersumpah!"
" Enghhh... " Wajah Lila merah sempurna. Ia menepuk nepuk tangan Benny di lehernya.
" Kau merasa hebat! Nyawamu tidak berarti bagiku. Kau akan mati bersama bayi si brengsek itu!"
" A- anakmu... Engh." guman Lila lirih.
Benny mengernyitkan dahinya. Apa iya salah mendengar? Ia melonggarkan sedikit cengkramannya.
" Ak-aku akan..matihh bersama anakmuhhh..." Lila menyelesaikan kalimatnya.
Glek! Benny terpekik dan melepas cekikannya. Lila terbatuk dan segera menarik napas putus putus. Benny mencengkram kedua Bahu Lila.
" Apa katamu? Hah?"
" Bunuh saja aku.. dan anakmu...."
Anakku?
Mendadak Benny merasa lemas.
---
Semoga suka ya 😊
Show your love ya pembaca yang baik.
❤❤❤
☺Like
☺Commet
☺Share
☺Rate
☺Vote
__ADS_1
☺Favorite
Makasi buat kalian yang selalu dukung aku.