SELINGKUH

SELINGKUH
AFFECTION : Khawatir


__ADS_3

"Aa..Apa? Ciuman?" tanya Rian, terbata.


Putri mengangguk. "Iya kak, bisa gak?"


Rian sendiri tak dapat membayangkan jika Putri akan berpikiran sejauh itu, tetapi memang kebanyakan pasangan akan melakukan sebuah ciuman jika mereka telah resmi berkencan.


Rian menelan ludah ketika Putri meminta dirinya jadi orang pertama yang menciumnya, dirinya sendiri belum pernah berciuman dengan siapapun itu tetapi naluri lelaki tentu akan tahu karena setan pasti akan menuntunnya.


"Baiklah." sahut Rian, setuju.


Bukankah ini adalah kesempatan baginya untuk mendapati seseorang yang ia suka, dan saling menjadi ciuman pertama.


"Tutup matamu!" pinta Rian kemudian ketika sudah memantapkan hatinya.


Putri menuruti perintah Rian, ia dengan suka rela memejamkan matanya. Tersenyum senang ketika Rian menyetujui ide gilanya walau ia sendiri harus menelan rasa malu yang menderanya.


Masa bodoh dengan rasa malu, yang terpenting jika kak Rian benar-benar menciumku itu berarti dia benar-benar menyukaiku.


Putri memejamkan mata, menanti Rian mendekat.


Dan kini, kedua jemari Rian bergerak memegangi kedua sisi wajah Putri agar lebih mendongak padanya. Secara perlahan Rian membungkuk lalu mendekatkan diri hingga Putri pun mampu merasakan hembusan nafasnya yang mulai menerpa wajahnya.


Ketika bibir mereka akan saling bertemu dan hampir menyatu satu sama lain, kurang dari dua centi. Tiba-tiba saja Sefia datang memanggil dirinya.


"Rian." teriak Sefia, memanggil.


Seketika Rian terhenyak kaget sampai dirinya jatuh dari ketinggian bangku taman karena terlalu menghindar dan luput meletakkan pantatnya dibangku.


"Aduh!" keluh Rian, mengaduh kesakitan.


"Kakak gak apa-apa?" tanya Putri cemas.


"Gue gak apa-apa." sahutnya, lalu tertawa dengan kerasnya. Bagaimana dirinya sekonyol itu.


"Rian, kamu ngapain duduk ditanah? Kan bajumu jadi kotor?" tanya Sefia, melangkah mendekati.


Seketika Rian beranjak berdiri, lalu menepuk celananya yang bernoda. "He he, iya mi." sahut Rian, tak tahu lagi apa yang akan ia jelaskan. "Ada apa?"


"Kita pulang, yuk! Mami udah selesai ngobrolnya." ucap Sefia, membuat Putri kecewa.


Putri pun ikut beranjak berdiri lalu menunduk, memberi salam pada teman mamanya itu.

__ADS_1


"Gak bisa nanti aja dulu ya, mi?" tanya Rian, penuh harap.


Sefia melirik Rian dan Putri bergantian, tahu akan masa remaja itu seperti apa.


"Kalo Rian masih mau disini ya gak apa-apa, mami pulang duluan soalnya mami mulai pusing lagi." ucapnya.


"Ah, gak deh mi! Rian ikut mami pulang." Rian menoleh pada Putri. "Gue pulang dulu ya! Sampai ketemu disekolah." pemitnya.


"Oh iya kak, sempai ketemu disekolah." sahut Putri, tersenyum pasi.


"Kita pulang dulu ya, Put." pamit Sefia menyusul.


"Iya tante, hati-hati dijalan."


Rian dan Sefia akhirnya memilih pulang, dan tentu Putri kecewa karena ia sendiri tak menemukan jawaban.


"Yah, gagal deh."


****


Sepanjang jalan, Rian memberikan pundaknya dan memeluk maminya erat.


Sefia mengangguk lemah, menyandarkan kepalanya didada anaknya yang ototnya belum terbentuk sempurna. "Iya." sahutnya.


Rian mengeratkan pelukannya, mengelus rambut kepala maminya penuh sayang.


"Apa mami dulu seperti ini waktu hamil Rian?"


"Gak kok, gak separah ini. Mami cuma mual dipagi hari dan itupun jarang." sahut Sefia, menjelaskan. "Ini mungkin karena mami udah berumur makanya rewel."


Rian jadi menggesekkan pipinya dikepala maminya, mengeratkan lagi pelukannya. "Mami jangan sakit-sakitan ya! Nanti persalinannya harus lancar, Rian bakalan selalu ada buat mami. Rian juga yang bakal jagain adek Rian nanti biar mami gak kesusahan." ucapnya, membuat Sefia jadi mengembangkan senyumnya.


"Sayang, hal ini bukan masalah besar kok, jadi Rian gak perlu terlalu khawatir sama mami."


"Gak, Rian itu gak mau kehilangan mami. Rian juga udah baca-baca artikel di internet kalo orang melahirkan itu taruhannya nyawa, apalagi hamil diusia mami yang sekarang. Mungkin karena itu juga mami jadi lemah seperti ini, aku bener-bener khawatir mi."


Mendengar itu Sefia jadi terharu, sekaligus gemas pada anak tampannya ini. "Doakan saja mami nanti lancar persalinannya nanti, ya!"


Rian mengangguk. "Iya mi."


"Dasar anak mami!" Sefia mencubit kedua pipi anaknya, gemas.

__ADS_1


Sebagai seorang ibu ia begitu bangga terhadap kasih sayang dari anaknya ini, bahkan ia berharap anaknya tumbuh seperti ini saja.


Memikirkan hal konyol itu, membuat Sefia tak hentinya tertawa didalam hatinya.


****


Sesampainya dirumah, Rian memapah maminya sampai memasuki kamar utama orangtuanya.


Dedi yang tahu itu tentu sangat khawatir melihat kondisi istrinya yang lemah. "Mami kenapa?" tanya Dedi, duduk disebelah Sefia.


Dan ketika itu pula, Rian memilih pamit keluar dari kamar orangtuanya.


"Mami cuma pusing aja kok, pi." sahutnya. "Ini mungkin gara-gara mami makan sedikit doang tadi."


"Vitaminnya udah mami minum?"


Sefia jadi melebarkan senyum. "Belum."


"Astaga mami, ya udah mami tunggu disini! Papi bakal buatkan mami bubur terus minum obat." ucapnya lalu beranjak berdiri.


"Gak usah pi! Mami gak pengen bubur." cegahnya.


Dedi duduk lagi. "Terus, mami mau makan apa? Biar papi pesankan."


"Mami cuma pengen roti panggang aja kok campur selai strawberry."


"Oh, ya udah papi buatin aja! Mami tiduran aja dulu, ya!"


Sefia mengangguk. "Iya sayang." membaringkan tubuhnya diatas ranjang.


****


Terimakasih atas dukungan dan antusias dari kalian.


Terimakasih yang sudah sempatin memberikan like, komen, rating bintang 5, poin dan juga subscribe alun Author.


Kalian Luar Biasa :*



Rian : aku ganteng.

__ADS_1


__ADS_2