
"Rian, kamu ngapain duduk bengong disini?" sapa Dedi pada anaknya yang tengah duduk seorang diri di balkon.
Rian menoleh. "Gak ada pi, cuma lagi mikir aja!"
"Duh, mikir apa sih?" mengacak rambut Putranya yang sudah menjadi kebiasaannya.
"Papi kenal gak siapa mantan suami mami?"
Dedi mengernyitkan dahi, mengangguk. "Kenal." jawabnya. "Kenapa Rian tanyain itu?"
"Apa mungkin mantan suami mami itu papanya Yuda?" Rian bertanya-tanya.
"Namanya Yuda sih mirip banget sama anak mantan suaminya mami."
"Ah, jadi bener dong." ucap Rian menyimpulkan.
"Memang kenapa, sih? Kalau dia anak dari mantan suami mamimu, kan gak masalah. Berteman itu boleh sama siapa saja, asal dalam hal baik."
"Masalahnya, Yuda jadi gak mau berteman lagi sama Rian gara-gara itu." sahut Rian, menunduk sedih.
"Astaga! Apa salahnya, toh mamimu gak ada hubungannya dengan Yuda atau mantan suaminya. Mereka bercerai juga dengan cara baik-baik."
"Gak tau ah, Rian bingung. Apa masalahnya." sahut Rian frustasi. "Mami sih, tahu papi keren gini masih ditinggal nikah sama orang lain."
Dedi menepuk punggung anaknya sembari tertawa. "Bener-bener! Papi emang paling keren." memuji dirinya sendiri. "Oh ya, hubunganmu sama anaknya temen papi itu, gimana?"
"Oh Putri, ya Rian juga lagi mikirin itu sih, pi." Rian menggaruk tengkuknya, canggung. "Dia nembak Rian dan Rian udah janji buat ngasih dia jawaban besok sore."
"Terus, nanti kamu mau jawab apa?"
"Rian bingung." mengusap kasar wajahnya. "Tapi Rian suka sih, Pi."
Sontak Dedi terkekeh geli. "Kalau suka ya coba dijalani aja! Kalau nanti putus, ya nasib."
"Dih! Papi malah ngomongnya gitu."
Dedi jadi tertawa dan Rianpun sama.
****
Seperti yang Rian janjikan, Putri tengah bersiap diri di depan cermin. Berdandan secantik mungkin untuk mendapat jawaban dari orang yang disukainya, Rian.
"Duh anak mama cantik banget, sih! Emang mau kemana?" tanya Nadin pada anaknya.
__ADS_1
Putri jadi tersenyum malu. "Putri lagi ada janji ma, mau ketemuan di taman dekat rumah."
"Oh." Nadin yang tahu jiwa anak muda hanya terkekeh geli melihat tingkah anaknya. "Anakku udah gede." ucapnya.
Akhirnya Putripun berbalik, menoleh pada mamanya. "Putri keluar dulu ya, ma." pamitnya.
"Iya, pulangnya jangan sampai malam, ya? Soalnya papamu pulang cepat hari ini."
"Oke ma, cuma bentar kok." sahutnya, mengecup pipi mamanya lalu segera berlalu pergi.
Disisi lain Yuda tengah berwajah kesal, segera keluar dari rumahnya. "Den Yuda mau kemana?" tanya salah seorang pelayan. "Gak makan dulu, den? Bibik udah masak kesukaan Den Yuda."
"Gak deh, Bik! Yuda masih kenyang." sahutnya sembari membetulkan ikat sepatu. "Makan bareng papa aja deh nanti kalo udah datang, Yuda mau keluar dulu cari angin."
"Oh yaudah, pulangnya jangan malem-malem karena Bapak katanya bakal pulang lebih awal hari ini."
"Oke bik, siap." sahut Yuda, kemudian berlalu pergi.
****
Kini Putri tengah menunggu Rian ditaman, sembari tersenyum malu berkhayal apa yang akan terjadi.
"Apa aku datangnya terlalu awal, ya?" gumamnya, melihat jam yang melingkar ditangannya.
"Hai." sapa pemuda itu, dengan senyum menyeringai, membuat Putri membelalak dan bergidik ketakutan.
"Kamu mau apa?" tanyanya gugup, tahu ada maksud tertentu. Ia kemudian beranjak dari tempat duduk dengan gemetar lalu berniat untuk kabur.
Tapi pemuda itu dengan sigap membekap mulut Putri lalu menyeretnya ke gang sempit yang begitu sepi.
Sementara Rian masih mampir ke sebuah toko bunga, membelikan Putri setangkai bunga mawar merah darah untuk ia berikan sebagai hadiah.
Rian melirik jam yang melingkar ditangannya. "Telat dikit gak apa-apa kan, dia pasti gak akan marah." gumamnya tersenyum, sembari mencium bunga yang dia beli.
Setelahnya Rian langsung menuju ketempat dimana ia mengajak bertemu dengan Putri menggunakan motornya.
Tetapi sesampainya di taman, Rian tidak menemukan siapapun disana. "Putri kemana, ya?" gumamnya.
Ia pun duduk dibangku taman, sembari mencium bunga mawar dan menunggu kedatangan Putri dengan sabar.
Rian menunggu Putri lama, hingga hari memasuki petang. "Aduh, kemana sih anak itu?" gumamnya heran, ia kemudian akhirnya beranjak dari duduknya. "Aku ke rumahnya aja deh."
Segera Rian kembali melajukan motornya menuju kerumah Putri.
__ADS_1
****
Saat Nadin membuka pintu, ia langsung dikagetkan dengan kondisi anaknya yang berantakan. "Putri."
Tanpa menjawab sapaan mamanya, Putri langsung berlari menuju kamarnya. Meringkuk diatas kasur sambil terisak dengan bibir bergetar.
Segera Nadin menyusul anaknya, mengamati lamat-lamat kondisi anaknya yang mengejutkan. Rambutnya acak-acakan serta baju sobek berantakan, ada luka lebam dipahanya terlihat jelas serta sudut bibirnya pecah akibat tamparan.
Seketika Nadin lemas dan terduduk ke lantai, tapi ia mencoba menenangkan diri dan bangkit.
Nadin melangkah duduk ditepi ranjang, mencoba mengelus rambut anaknya tapi seketika Putri menghindar bahkan menjerit ketakutan.
"Nak, siapa yang melakukan ini padamu?" tanyanya dengan mata nanar dan bibir bergetar.
Mendengar pertanyaan itu, Putri malah menjerit frustasi dan menangis menjadi-jadi.
Tok Tok Tok. "Permisi."
Sebuah suara ketukan dan suara pemuda yang tak asing mengalihkan pandangan Nadin, segera Nadin menghapus air matanya yang menetes.
Lalu Putri memegang lengan mamanya ketika ia ingin beranjak berdiri. "Tolong katakan kalo Putri gak ada." ucapnya dalam tangis.
Nadin bingung, tapi ia harus menuruti kemaunan anaknya. "Baiklah, sayang." sahutnya pilu.
Segera ia membukakan pintu untuk Rian.
"Tante, apa Putrinya ada?" tanya Rian sembari memberi senyuman.
"Putri gak mau diganggu! Sebaiknya kamu gak usah ganggu Putri lagi!" tegasnya.
Rian kaget. "Tapi tante.."
Belum Rian menjawab, Nadin segera menutup pintu untuk pemuda itu.
Rian jadi bingung sekaligus sedih, menatap bunga mawar yang ia beli tadi. Kemudian ia memutuskan untuk menaruhnya didepan pintu lalu kembali untuk pulang.
"Apa aku melakukan salah, ya?" gumamnya bingung.
****
Persahabatan, Keluarga, Kasih Sayang jadi satu pada konflik ini.
Ditunggu Season menegangkan ya :*
__ADS_1