SELINGKUH

SELINGKUH
AFFECTION : Memohon


__ADS_3

Sefia menangis histeris menyaksikan video yang menyesakkan hatinya, bagaimana tidak? Anak yang telah disayangnya. Dicintai dan dibesarkan dengan sepenuh hati malah dipermainkan oleh temannya sendiri.


Dedi berlari menghampiri istrinya, lalu memegang kedua pundak istrinya itu. "Mami kenapa?" tanyanya dengan ketir.


Sefia mendongak sembari terisak. "Anak kita pi... Rian." sahutnya sesegukan, membuat Dedi tambah bingung.


Ia kemudian menoleh pada benda yang masih menayangkan video anaknya, dimana disana Rian telah dikeroyok. Ditendang serta dipukuli oleh-oleh temannya sendiri.


Sontak Dedi menjadi tertegun, begitu kaget melihat kenyataan yang menyakitkan itu.


Ia ingat betul bagaimana dirinya dengan gembira ketika mendengar kehamilan istrinya, menjaga istrinya dengan suka rela hingga menjelang kelahirannya di dunia.


Ia pun juga rela menjaga anaknya sepenuh hati, pulang malam akibat pekerjaan menumpuk namun harus bersabar mengurus anaknya karena istrinya harus istirahat dan bergantian menjaga buah hatinya.


Dedi menggendong Rian yang sedang rewel, minta ditimang sampai ia pun harus menahan lelahnya. Hingga pula ia tertidur saat Rian masih dalam gendongannya.


Anak yang disayang itu, malah disiksa dengan seenaknya.


Orangtuanya sendiri saja tak akan mampu melihat tangisan anaknya, tapi mereka malah seenaknya melayangkan pukulan keras dengan seenaknya demi kesenangannya. Hati orang tua mana yang tak sakit?


Ia juga teringat ketika ia memberikan waktunya, hanya untuk mengantar anaknya yang disayang membelikan baju sekolah. Bahkan menyekolahkan anaknya dengan bangga. "Keren! Anak Papi udah gede." ucapnya penuh bangga kala itu.


Dirinya menyekolahkan anaknya untuk melihatnya menjadi anak kebanggaan dan berguna, bukan malah disakiti dengan tanpa perijinannya.


"Aku bodoh! Aku bodoh!" ucap Sefia terisak, memukul dadanya yang sesak. "Seharusnya waktu itu aku sudah sadar kalau Rian berbohong, dia pasti sangat kesakitan. Kenapa aku bisa tidak menyadarinya." ucapnya menyalahkan diri sendiri.


Dedi memeluk istrinya yang histeris, guna memberi ketenangan untuknya meskipun dia sendiri begitu sakit menyiksa.


Amarah tak tertahan, ingin berteriak saja rasanya tapi ia harus mengontrol dirinya. Ada istri yang tengah hamil perlu ketenangan lebih darinya.


"Sudah, jangan menyalahkan dirimu sendiri mi!" ucap Dedi menenangkan. "Mami yang tenang."


Seketika Sefia mendorong tubuh suaminya itu dengan emosi yang memuncak. "Bagaimana aku bisa tenang, pi?" teriaknya frustasi. "Anak kita sedang di Bully disekolahnya, anak kita tersiksa disana. Bagaimana aku bisa tenang, hah? Aku bukan kamu."


Dedi memilih menghela nafas, mencoba mengontrol emosinya karena ia tahu bahwa dengan dia juga ikut emosi, maka akan semakin runyam nantinya.


Ia lebih memilih diam, duduk bersedih mencurahkan semua isi hati dan mencoba bersikap setenang mungkin.


Setelah lama Sefia terisak dan sedikit tenang karena kelelahan, Dedi mencoba lagi memeluk istrinya. Menjadikan pundaknya untuk tempat ia bersandar.


"Aku menyayangi kalian berdua." ucapnya pilu, memeluk istrinya begitu erat.


Sedangkan Sefia juga semakin mempererat pelukannya, masih terisak di dada bidang milik suaminya.

__ADS_1


"Besok kita ke sekolah Rian untuk membicarakan hal ini."


Sefia mengangguk cepat. "Iya." sahutnya, mengusap airmata.


****


Kini pagi pun tiba, Sefia segera bersiap diri dan mencoba untuk tetap tegar.


"Mami sendiri yang akan datang ke sekolah Rian, papi tolong jaga Rian aja dirumah sakit! Mami cuma sebentar." pintanya dibalut dengan nada kemarahan yang tertahan.


"Mami yakin?" tanya Dedi ragu, melihat istrinya yang tak dapat mengontrol emosinya itu.


Sefia mengangguk dengan yakin. "Ya." sahutnya singkat lalu beranjak berdiri meninggalkan suaminya di meja makan. "Aku pergi dulu." pamitnya kemudian berlalu pergi.


Dedi hanya bisa menghela nafas berat dan mengalah. Ia tidak bisa menahan istrinya untuk tidak pergi dan ia memutuskan untuk menghentikan sarapannya dan segera datang kerumah sakit saja.


Sedangkan Sefia segera memasuki mobil dan melaju segera kesekolah.


Dimana disana para murid yang terlibat serta orangtua sudah berkumpul disana menunggu kedatangan Sefia.


Dan lagi-lagi Sefia harus bertemu dengan mantan suaminya karena Yuda juga turut ada didalam kejadian meskipun hanya sebagai saksi saja.


Nafas Sefia tersenggal, menggebu-gebu ketika melihat para siswa yang memukuli anaknya berada didepan matanya.


Ketika Sefia memasuki ruangan, para wali siswa langsung berlutut memohon ampun atas perbuatan anak mereka.


"Tolong Nyonya, maafkan kelakuan kekurang ajaran anak saya! Saya sebagai orangtua merasa sudah gagal mendidik anak saya. Saya yang akan menghukumnya sendiri." ucapnya terisak.


Melihat dan mendengar itu, Sefia semakin melonjak jiwanya. "Lihat! Apa yang sudah kalian lakukan? Orang tua kalian sampai seperti ini itu gara-gara kelakuan kalian." bentak Sefia.


"Maafkan saya." ucap mereka, menunduk merasa bersalah.


Sefia menatap mereka nanar. "Salah anakku apa? Salah Rian apa pada kalian sampai kalian tega menyiksa anakku yang malang itu?" tanyanya menekan.


Tentu Angga yang melihat Sefia yang bersedih jadi tak tega, ia melangkah merangkul dan mengelus lengan mantan istrinya itu. "Sabar dek." ucapnya memberi ketenangan.


"Salah Rian apa, hah?" tanya Sefia lagi membentak.


Seketika mereka juga berlutut. "Maafkan kami, kami janji tidak akan melakukan hal seperti itu lagi! Kami mohon, maafkanlah kami." pinta mereka juga gemetar ketakutan.


Sefia jadi langsung lemas dan duduk sambil menyeka air matanya yang tak mau berhenti. Rasa marah, kecewa dan semuanya menjadi satu. Tapi ia juga tidak bisa menghakimi anak yang masih dibawah umur itu.


Sedangkan Yuda yang melihat perhatian papanya pada Sefia menjadi begitu sangat kesal. "Dia pantas kok dapat itu." ucapnya tak terduga, membuat papanya dan Sefia menoleh padanya.

__ADS_1


"Yuda, apa maksudmu?" tanya Angga heran.


"Rian pantas mendapatkannya! Bukannya dia juga pelaku pelecehan dan sama buruknya?"


PLAKK!!


Seketika Angga melayangkan tamparan keras pada anaknya. "Bagaimana bisa kamu berkata seperti ini?" tanya Angga mengeram penuh tak percaya.


Yuda menyentuh pipinya yang panas akibat ditampar dan balik menatap penuh kemarahan. "Aku benci papa." ucapnya, kemudian berlari pergi begitu saja.


"Dek, maafin anakku ya? Aku benar-benar minta maaf padamu." ucapnya.


Sefia mengangguk, mencoba tenang. "Tidak apa-apa mas, sebaiknya kamu kejar Yuda sekarang!"


Angga mengangguk, sebelum ia juga berlari mengejar anaknya itu.


Untunglah Yuda tak begitu jauh dan Angga dapat mengejarnya.


"Yuda, tunggu!" pinta Angga, berteriak.


Yuda menghentikan langkahnya, menoleh pada papanya.


"Kenapa sikapmu jadi seperti ini?" tanyanya.


"Aku hanya tidak suka papa masih berhubungan dengan perempuan itu, perempuan yang sudah menyebabkan mama meninggal." sahutnya menggebu.


Angga membelalak kaget. "A..apa maksudmu? Siapa yang sudah menyebabkan mamamu meninggal?"


Yuda tertawa sarkas. "Papa tidak usah berbohong lagi! Aku sudah tahu semuanya, kalau mama meninggal bukan karena melahirkanku, tetapi dia bunuh diri gara-gara papa masih memikirkan perempuan itu."


"Yuda." Angga tertegun. "Siapa yang sudah mengatakan hal konyol ini padamu, Nak?"


"Nenek yang mengatakannya padaku! Dari itu aku sangat membenci Sefia dan Rian itu." teriaknya sembari terisak.


Tanpa menjawab, dan banyak bicara Angga langsung menarik lengan anaknya. Menuntun Yuda untuk memasuki mobilnya. "Ikut papa!"


"Papa mau bawa Yuda kemana, hah? Kebohongan apa yang ingin papa tunjukan lagi pada Yuda?"


Angga berbalik, menoleh. "Papamu ini memang berbohong, tapi semua demi kebaikanmu tapi ternyata malah membuatmu menjadi salah paham separah ini."


Yuda jadi bingung. "Maksud papa apa?"


"Papa akan membawamu menemui mamamu, dia masih hidup. Papa akan membiarkan dia sendiri yang menceritakan semuanya padamu."

__ADS_1


****


Masuk 20 besar bakal Crazy UP deh :* Syukur Syukur 10 besar wkekek


__ADS_2