SELINGKUH

SELINGKUH
AFFECTION : Kebersamaan


__ADS_3

Rian kembali ke kamarnya, penuh dengan rasa khawatir dalam hatinya.


Kali ini bukan mencemaskan maminya, tetapi mencemaskan Putri yang akan melakukan kencan dengan sahabatnya, Yuda.


Mengingat hal tadi, membuat Rian jadi tertawa sendiri. Kenapa maminya datang diwaktu yang tidak tepat, membuat semuanya gagal saja.


"Apa aku menghubungi dia saja, ya? Tapi ini udah larut malam." menggulingkan diri diatas kasur, sembari memegangi ponselnya. "Besok aja deh, sekarang tidur dulu."


Disisi lain, Putri juga sama. Ia memikirkan hal yang mengecewakan sekaligus lucu tadi, sampai-sampai hari sudah larutpun, Putri tetap menjaga matanya agar tidak terlelap.


"Apa sebaiknya aku jujur saja ya sama kak Rian?" menggulingkan tubuhnya diatas kasur, memeluk bantal guling. "Ah, pikirin besok aja deh. Sekarang tidur dulu."


****


Kini sudah pagi hari, dan seperti biasa Angga selalu membangunkan Yuda untuk lari pagi bersamanya.


"Yud, bangun! Kita olahraga."


Angga duduk ditepi ranjang, mengguncang lengan anaknya itu.


Yuda pun menggeliat, merenggangkan ototnya. "Iya pa." sahutnya, masih menguap.


Lalu ia segera bangun dan bersiap diri untuk melakukan lari pagi.


Mereka berlari keliling taman dan pasti tak luput dari orang-orang yang mandang.


Bagaimana tidak, Angga masih terlihat tampan dan lebih matang diusianya yang tak lagi muda, begitupun dengan Yuda yang bertubuh tinggi dan menyamai papanya.


Setelah cukup mereka berolahraga, Mereka memutuskan untuk merenggangkan otot dibangku taman.


"Ini pa." Yuda memberikan sebotol minuman untuk menghapus rasa haus yang didera karena berolahraga.


"Makasih." ucap Angga, lalu meneguk sebotol minuman yang diterimanya. "Oh ya, siapa nama tamanmu itu?"


"Rian pa, dia sekelas dengan Yuda." sahutnya.


Angga menoleh, mengingat sesuatu. "Rian? Rian Atmadja bukan?"


Yuda kaget. "Loh kok papa tahu? Iya, namanya Rian atmadja."


"Wah! Seperti sebuah kebetulan." Angga tak menyangka. "Dia itu anak dari mantan... eh, maksudnya anak dari Bos papa, pak Dedi."


"Pak Dedi?" tanya Yuda mengulang. "Pantas aja waktu ketemu wajahnya gak asing, dia ternyata pak Dedi yang sering dibicarakan orang-orang. Wah, keren."

__ADS_1


Angga terkekeh. "Emang temanmu gak pernah cerita apapun mengenai orangtuanya?"


Yuda menggelengkan kepala. "Gak pa, dia cuma cerita papinya pengusaha." sahutnya.


"Menurutmu, lebih keren siapa antara papa sama pak Dedi?"


"Ya lebih keren papa lah jauh, papa itu terbaik." sahut Yuda, membuat Angga tertawa senang. "Tapi pak Dedi juga keren, orang kaya."


"Ha ha, kamu bisa aja." mengacak rambut anaknya, gemas.


"Oh ya pa, Yuda lupa. Nanti malam Yuda akan keluar sebentar kerumah temen." ucap Yuda meminta ijin.


"Kerumah Rian lagi?" tanyanya.


Yuda menggelengkan kepala. "Bukan pa, tapi dia juga temen sekelas Yuda."


"Oh, cewek ya? Mau pacaran ya?" tebak Angga, meledek.


"Ah, papa bisa aja. Gak gitu kok, cuma keluar biasa."


"Ha ha, ya ya papa ijinin kok. Asal jangan bawak anak orang pulang malam."


"Iya pa, pasti."


****


Rian menopang dagunya, mengubah channel televisi sesuka hatinya.


"Rian, kamu gak keluar? Ini kan akhir pekan." tanya Sefia, mendekati anaknya.


"Gak mi." sahutnya tak bertenaga, memandangi televisi.


"Oke. Main game bareng papi." ucap Dedi menepuk bahu anaknya tiba-tiba, mengagetkannya.


"Huh, papi bikin kaget! Gak seru kalo maen bareng papi, kalah mulu."


"Yee! Ngeledek nih anak." menjitak kepala anaknya, hingga mengaduh. "Hayo tanding! Yang kalah lari keliling komplek."


Seketika Rian bersemangat. "Oke, jangan bohong tapi ya!"


"Oke, deal?" mengulurkan tangan, dan ia menyambutnya.


"Deal!"

__ADS_1


Sefia hanya bisa menggelengkan kepala, tertawa melihat tingkah suami dan putranya yang tiada habisnya membuat suasana rumah selalu hidup.


Mereka bertanding game sepak bola, memilih tim andalan mereka bersama. Hingga dimana tim Rian sudah berhasil menggiring bola hingga mendekati gawang lawan dan Dedi tak kehabisan akal.


"Rian, ada temenmu tuh." ucap Dedi berbohong, agar Rian mengalihkan pandangan.


"Suruh tunggu! Ganggu aja." sahut Rian, tak peduli.


Dedi mendengus lalu berpikir. "Putri, Rian gak mau diganggu katanya." teriak Dedi pura-pura.


Sontak Rian langsung menoleh, dan Dedi langsung dengan leluasa merebut bola, menggiring dengan mudah dan..


"Gol." teriaknya penuh kemenangan.


Rian yang sudah menyadari itu jadi mendengus kesal. "Papi curang!" teriaknya.


"Siapa yang curang? Papi gak curang. Lihat tuh wasitnya gak ngeluarin kartu pelanggaran." sahutnya telak.


"Ah, papi gak asyik. Curang!" ucapnya kesal.


"Gak ada kata curang! Kamu aja yang langsung bereaksi berlebihan begitu waktu papi nyebutin nama Putri." sahutnya meledek.


Sontak Rian jadi salah tingkah, menggaruk tengkuknya, bingung. "Ah, pokoknya papi curang." beranjak dan pergi.


"Loh kok pergi, mau kemana?" tanya Dedi pada anaknya yang sudah beranjak keluar.


"Mau keliling komplek." sahutnya asal.


Dedi jadi tertawa, teringat dirinya sendiri waktu muda dulu.


"Papi ngapain ketawa?" tanya Sefia heran. "Terus Rian kemana?"


"Itu mi, anak kita kayanya udah gede." sahutnya dengan gelak tawa. "Kita pergi makan aja yuk! Papi laper lagi." ajaknya, merangkul istrinya.


"Tapi pi, Rian?"


"Udah, dia mungkin lagi keluar kerumah temannya." sahutnya, menebak.


"Oh gitu."


****


Terimakasih dukungannya :* Yang minta Visual Rian, ada di Episode sebelumnya.

__ADS_1


__ADS_2