
"Kamu ingin membicarakan apa?" tanya Desi menggebu.
"Itu tentang pertunangan kita." sahutnya.
Desi jadi semakin tak sabar dan kegirangan. "Ah pasti kamu sudah tidak sabar menunggu pernikahan kita segera dilaksanakan." tebaknya malu-malu. "Tenang babe, bulan depan kita sudah resmi jadi suami istri kok."
Daren menghela nafas, jantung nya seakan meledak. Melihat Desi yang begitu ceria membuatnya tak tega, tapi dia juga tidak ingin membiarkan Desi tahu tentang keadaannya.
Ia pun menunduk sambil memejamkan matanya lalu berkata, "Mari kita akhiri hubungan kita!"
Desi yang semula tertawa kecil nan bahagia seketika raut wajahnya berubah. "Ya?" tanyanya mengulang, sepertinya ia salah dengar.
"Mari kita putuskan pertunangan kita!" tegasnya.
"Ha ha ha kamu pasti bercanda, kamu ingin kita memutuskan pertunangan lalu mengganti dengan pernikahan, kan?"
"Tidak Meiza, aku bahkan tidak bisa menikah denganmu."
Desi pias seketika, dan tak terasa ia meneteskan air mata. "Tapi kenapa? Kamu tahu semua ini bukan lelucon, kenapa kamu dengan mudah memutuskan?"
"Maaf." hanya kata itu yang terlontar.
"Apa ada oranglain di hatimu selain aku?"
Dengan terpaksa Daren mengangguk, "Iya."
Mendengar jawaban itu membuat hatinya sakit, air mata yang sedaritadi ia tahan kini tidak bisa lagi. Ia menutup wajah dengan kedua tangannya sambil menangis tersedu-sedu namun Daren tidak bisa melakukan apa-apa.
Jemari yang biasa mengelus Desi ketika ia sedih, tidak bisa ia gunakan karena keadaan yang memaksa dirinya untuk tega.
"Kamu jahat! Kamu menyusul ku kemari hanya untuk mencampakkan ku. Kamu jahat Daren." ucapnya dalam tangis dengan bibir bergetar.
Daren hanya bisa menunduk dan terdiam, lebih baik Desi membencinya dari pada Desi tahu apa yang akan terjadi kedepannya.
Melihat Daren yang hanya terdiam membuat Desi jadi geram, ia lalu beranjak berdiri dan langsung meninggalkan Daren seorang diri.
Ketika Daren melihat Desi telah melangkah pergi, ia pun menangis. Menuangkan perasaan yang sedari tadi ia tahan.
"Aku sangat mencintaimu Meiza." tangisnya.
__ADS_1
****
Untukmu, semua hati yang pernah mencintai dan dicintai. Yang pernah di khianati sampai tak ingin hidup lagi. Baca kisah ini dengan hati hati.
****
Dalam perjalanan pulang, dari kejauhan ia seperti melihat gadis yang ia kenal sedang berjalan kaki menuju taman dengan raut wajah penuh kesedihan.
"Stop!" Irfan pun menghentikan laju kendaraan. "Bukannya itu Desi, ya? Ngapain dia ditaman malam-malam begini?"
"Apa perlu saya menanyakannya langsung?" tawarnya.
"Bodoh! Seperti kurang kerjaan sekali kau tiba-tiba datang lalu menanyakannya untuk apa kemari lalu pergi." hardiknya.
"Ah, kalau begitu bapak saja yang bertanya langsung. Sepertinya Nyonya butuh seorang teman."
"Kamu benar." Rian kemudian segera turun dari mobil dan langsung melangkah menemui Desi yang kini tengah duduk bersedih dibangku taman.
Irfan jadi tertawa, bukan kah dia sendiri yang kurang kerjaan.
Rian menatap Desi yang tengah menunduk dan bersedih, ia lalu membuka jas yang ia kenakan untuk menutupi wajah gadis itu.
"Kalau ingin menangis, menangis lah!" ucap Rian, pura-pura acuh sembari duduk disebelahnya.
Setelah ia cukup tenang, ia jadi malu sendiri karena sudah menangis layaknya anak kecil. Belum lagi ingus bening yang ikut keluar membasahi jas kerja Rian.
"Terimakasih, maaf aku sudah membuat jas mu kotor." ucapnya.
Rian menghela nafas. "Bawalah! Kau bisa mencucinya lalu kembalikan padaku!" sahutnya, agar ia bisa bertemu kembali.
Desi mengangguk, mengiyakan. "Kamu ngapain disini?" tanya Desi ketika perasaannya sudah tenang.
"Justru aku yang ingin menanyakan itu padamu, ngapain kamu disini?"
Desi menunduk. "Aku tadi habis bertemu dengan tunanganku." sahutnya dan Rian bisa menebaknya.
"Ah begitu, sudah ku duga dari tampangnya itu, dia suka mempermainkan wanita. Kamu jangan menangis hanya karena pria macam itu! Desi yang ku sukai hanya boleh menangisi ku."
Desi jadi tertawa mendengarnya. "Cih! Kamu pikir hanya kamu yang berhak ditangisi."
__ADS_1
"Oh tentu." sahutnya dengan percaya diri, membuat Desi jadi terhibur dan Rian sedikit lega melihatnya.
"Terimakasih." ucapnya lagi.
"Untuk apa?"
"Untuk tidak menertawakan ku. Ya aku tahu kamu masih membenci ku Rian, tapi kamu selalu datang untuk menolong ku."
Rian bersindakap, sebenarnya dia sendiri juga bingung dengan sikapnya yang labil. Setiap kali ia melihat Desi bahagia, ia begitu benci. Namun ia juga ikut merasakan sakit ketika Desi bersedih. Rian benar-benar tak mengerti.
"Kamu akan menginap disini, kah?" tanya Rian memecah suasana, ketika mereka lama terdiam.
"Menginap di taman maksudmu?"
"Iya, masalahnya dari tadi kita hanya berdiam diri sampai larut seperti ini."
Desi jadi tertawa. "Maaf, pikiran ku hanya sedang kosong saja."
Rian mengangguk, menelaah. "Mari ku antar kamu pulang!"
"Tidak perlu repot-repot, tempat tinggal ku dekat sini kok."
Tanpa menunggu persetujuan Desi, Rian menarik jemarinya agar mengikuti langkahnya. "Masuklah!" pintanya, dan Desi memasuki mobil bersamanya.
Desi jadi kaku, jantung nya rasanya ingin meledak ketika menyadari bahwa Rian duduk bersamanya. Belum lagi ketika ia menatap lekuk wajah tegas milik Rian dari samping, begitu mengagumkan. Kesedihannya dalam sekejab sirna hanya karena pria ini.
"Kamu tinggal disini, kan?" tanya Rian membuat Desi tersadar dari lamunan.
"Iya, aku akan turun." Desi buru-buru turun dari dalam mobil.
"Besok aku akan menjemputmu!" ucap Rian tiba-tiba.
"Hah, apa?"
Rian jadi geram, kenapa gadis ini begitu tak peka. "Kamu harus mentraktirku makan karena sudah menemani mu dan mengantar mu, setidaknya kamu harus berterimakasih untuk itu."
"Ah iya baiklah."
"Dandan yang cantik!" pintanya.
__ADS_1
Desi mengangguk, mengiyakan. Sebelum akhirnya Rian pergi.
"Eh bentar, kenapa aku mau-mau saja disuruh olehnya? Ah bodohnya aku!" Desi jadi frustasi, ia geram sendiri.