
Aldy terkapar di lantai dengan sudut bibir pecah mengeluarkan darah. Lalu dedi menariknya berdiri lagi sambil mencengkram kerahnya.
"Ku biarkan kamu menyumpahi anakku karena aku merasa iba pada anakmu waktu itu, tapi tidak untuk sekarang. Bahkan kamu tidak berhak sedikitpun mendapat belas kasih lagi dariku." teriaknya dengan geram.
Aldy menepis tangan Dedi agar melepas cengkeramannya. "Kamu pikir aku butuh dikasihani, hah? Akibat ulah anakmu itu, anakku jadi menanggung beban yang menyedihkan."
"Kamu pikir kita senang dan tidak menanggung banyak beban, hah?" Dedi balas membentak. "Aku yakin anakku tidak seperti yang anakmu tuduhkan."
"Apa kamu baru saja menuduh seorang korban telah berbohong?"
"Ya! Siapa yang tahu." sahutnya. "Aku bahkan rela menaruhkan nyawaku sendiri demi kebenaran ini. Anakku tidak seburuk yang anakmu tuduhkan dan jika memang benar anakku yang terbukti bersalah, aku sendiri yang akan menghukumnya dan jika anakmu telah berbohong, aku benar-benar tidak akan tinggal diam." ancamnya.
Aldy jadi tertegun mendengar itu, ia tak mampu membalas perkataan menekan yang dibalut kemarahan memuncak itu.
"Terserah padamu mau kamu jual pada siapa saham itu, mulai sekarang aku tak lagi berbelas kasih padamu atau anakmu itu." ucapnya kemudian berbalik untuk pergi. "Aku tidak akan lagi menganggapmu sebagai temanku."
Setelah memberikan kalimat menohok itu, Dedi kemudian berlalu pergi meninggalkan Aldy yang masih tertegun.
Mereka berlalu pergi, sedangkan Aldy mulai memuncak dan membanting seluruh yang ada didalam ruangannya.
Aldy terisak dan frustasi, marah dengan segala kebodohannya sendiri.
****
"Suruh seseorang untuk membeli saham yang akan Aldy jual tanpa dia ketahui." pintanya pada Erfan.
"Baik pak." sahutnya. "Apakah bapak juga akan menarik segala fasilitas yang telah kita berikan pada pak Aldy?"
"Tidak perlu, dia masih memiliki keluarga. Cukuplah memutus hubungan denganku menjadi hukuman terbesar baginya."
Merekapun segera melaju untuk menghadiri konferensi pers dengan sejumlah media.
Dedi melangkah masuk ke ruangan dengan segala keyakinannya. Menanggapi segala pertanyaan oleh sejumlah awak media, apalagi menyangkut tentang isu anaknya.
"Saya tidak akan banyak berbicara disini." tegasnya. "Menyangkut tentang laporan dan tuduhan pada anak saya, saya menyerahkan seluruhnya pada pihak kepolisian untuk segera mengungkap kebenaran ini. Saya menghormatinya, tetapi saya juga akan berusaha mencari bukti kebenarannya. Saya akan dengan senang hati menyerahkan anak saya jika terbukti seperti yang telah dituduhkan tetapi jika anak saya terbukti tidak bersalah. Saya juga akan mengambil jalur hukum, dengan melaporkan balik karena telah melakukan tuduhan palsu dan pencemaran nama baik."
Merekapun mulai heboh dan melontarkan dengan sejumlah pertanyaan yang bertubi. Tapi Dedi memilih tak menanggapi dan langsung keluar dari ruangan dan berlalu pergi.
__ADS_1
Tentu hal yang disiarkan langsung itu tak luput dari Sefia yang menontonnya.
"Astaga! Apa yang baru saja papi katakan, bukankah ini akan memperberat Aldy dan juga Nadin." Sefia menekan dadanya yang begitu sesak, bertanya-tanya ada hal apa yang sebenarnya terjadi. "Apa mereka sudah memutus hubungan karena kejadian ini?" tebaknya dengan gelisah.
Persahabatan yang sudah terjalin lama, kini musnah sudah. Membuat siapapun yang memikirkannya menjadi sangat gelisah. Mereka berdua bukan cuma sekedar sahabat tapi bagaikan keluarga. Sakit rasanya memikrikan hal yang sudah dibangun dan menjadi rata dengan tanah.
Hal yang dikatakan Dedi juga langsung menyebar bahkan sampai ke telinga teman satu sekolah Rian dan Yuda.
Mereka banyak menyimpulkan dengan banyak persepsi mereka sendiri.
"Sudah aku duga kan? Rian gak mungkin melakukan hal rendah seperti itu."
"Iya benar, bukannya Putri sendiri yang mengejar-ngejar Rian? Itu berarti kan gak mungkin kalau Rian sampai memperkosanya."
"Bener banget, banyak halunya si Putri."
"Pengen kaya dia mungkin, ha ha."
Sejumlah komentar pro - kontra telah dilakukan bagi siapa saja yang mendengar. Bahkan sejumlah gunjingan dan kata umpatan juga terlontar.
Lalu tiba-tiba saja seseorang mengirim video yang membuat mereka membelalakkan mata.
"Ya ampun! Ini si Rian kan?"
"Bagaimana ini bisa terjadi?"
"Mereka yang melakukan ini ingin mati ya rupanya?"
"Dia memang pantas mendapatkannya karena kelakuannya yang buruk."
"Bukannya ini si Yuda, ya? Dia cuma liatin doang tuh. Ha ha, brengsekk bener."
Satu sekolah menjadi heboh karena video yang dikirim oleh nomor yang tak dikenal itu.
****
Kini Dedi telah kembali pulang dan langsung disambut oleh Sefia yang menatapnya nanar.
__ADS_1
"Papi." ucap Sefia melangkah mendekati suaminya.
Dedi merangkulnya, tahu apa yang akan dimaksud istrinya. "Papi baik-baik saja kok." sahutnya yang langsung mengerti.
"Apa Aldy sudah mengatakan hal yang keterlaluan lagi?" tanya Sefia penasaran.
Dedi mengangguk, membenarkan. "Bahkan lebih buruk mi." sahutnya.
Sefia memeluk suaminya itu. "Mami mengerti."
"Papi mau mandi dulu, ya!" pamitnya, ingin menenangkan perasaannya.
"Apa mau mami siapain air hangat buat papi berendam?"
"Gak perlu sayang, siapin makan malam aja! Papi lapar." pintanya mengelus rambut istrinya
Sefia tersenyum. "Baiklah."
Segera Sefia menyiapkan makan malam untuk suaminya, setelah itu dia datang memasuki kamar untuk menunggu.
Tiba-tiba dering ponsel milik suaminya berbunyi yang ia letakkan diatas nakas dekat ranjang.
Sefia menggapai ponsel itu, yang dimana pengirimnya adalah asisten pribadinya, Erfan.
"Video." gumam Sefia, lalu membuka pesan video tersebut.
Betapa syok dirinya melihat video yang menyakitkan perasaannya tersebut. Ia membelalak kaget dan jadi menjerit histeris dan langsung menjatuhkan ponsel yang semula digenggamnya erat itu.
"Ada apa, mi?" tanya Dedi panik ketika mendengar jeritan histeris dari istrinya.
****
Bukan maksud pengen bertele-tele, tapi bentar lagi akan terungkap sesuai alur.
Kunci utama dari permasalahan kan yang sudah salah paham, jadi perlu kejujuran :) Ngerti kan, ya??
Bentar lagi kok bakal terungkap.
__ADS_1
Masuk 20 besar bakal Crazy UP. Kalo bisa sih kencengin POINnya he he.