SELINGKUH

SELINGKUH
AFFECTION : Panik


__ADS_3

Kini mereka sudah sampai dirumah sakit, karena Yuda juga mendapat pukulan maka dia sudah terluka dan perlu mendapat pengobatan karena luka lebam, pun sudut bibirnya yang pecah.


Mega membantu Yuda mengoles salep di sudut bibirnya serta luka lebam yang lainnya, sembari menunggu Rian sadar dan juga kedua orangtua Rian datang.


"Sakit banget, ya?" tanya Mega cemas.


Yuda tersenyum, tahu gadis itu khawatir padanya. "Enggak kok, aku baik-baik saja." sahutnya.


Lagi-lagi Mega menunduk sedih. "Maaf." ucapnya.


Melihat itu, Yuda menggerakkan jemarinya mengelus sisi pipi gadis itu. "Jangan menyalahkan dirimu! Apa kamu khawatir padaku?"


Mega mengangguk. "Sangat, aku sangat khawatir. Bagaimana kalau kita tidak datang pada waktu yang tepat? Dia bisa aja..."


Seketika Yuda mengecup bibir Mega, agar gadis itu berhenti berbicara. "Yang penting aku sekarang baik-baik saja, dan aku sudah tahu jawabanmu. Kalau kamu juga sama menyukaiku." ucapnya mengelus pipinya.


"Bolehkah? Tidak terlalu cepatkah?"


Yuda mengangguk. "Perasaan tidak bisa menentukan lama atau cepatnya suatu hubungan. Cinta pertama saja ada, apalagi teman jadi saling suka."


Mega jadi mengerti dan tersenyum merekah pada pemuda itu, dan waktu itu juga dering ponselnya berbunyi. Menunjukan adanya panggilan telefon.


"Hallo Des." sapa Mega, mengangkat ponselnya.


"Lo dimana? Gue sama Loli mau hangout nih. Mau ikut gak?" tanyanya.


Mega jadi ragu. "Gue lagi dirumah sakit." sahutnya.


"Loh, siapa yang sakit? Perasaan tadi lo baik-baik aja."


"Bukan, tapi Rian. Tadi kak Rendi gak sengaja mukul dia pakai balok kayu."


Sontak Desi jadi kaget. "Apa!! Gimana bisa?"


"Duh, ceritanya panjang nanti gue ceritain."


"Lo dirumah sakit mana? Gue kesana sekarang." tanyanya dengan panik.


"Rumah sakit Mitra."


Seketika Desi langsung mematikan sambungan teleponnya.


"Ada apa Des? Kok lo tegang banget." tanya Loli heran.


"Rian dirumah sakit, gue harus kesana sekarang." sahutnya, lalu segera berlari keluar.


Loli pergi mengejar gadis itu yang buru-buru. "Des, lo mau kemana? Pake mobil! Ngapain jalan kaki."


"Eh, iya." menepuk dahinya, segera berbalik dan meminta Supirnya untuk mengantarnya segera kerumah sakit Mitra.


****

__ADS_1


Rian kini sudah mengerjapkan matanya, mencoba langsung duduk ketika ia mulai membuka matanya.


"Akh." keluhnya, ketika merasakan pening pada kepalanya.


"Rian, syukurlah lo udah sadar." ucap Yuda, melangkah mendekati pemuda itu. "Apanya yang sakit? Apa lo masih pusing?" tanyanya tak kalah panik.


Rian tersenyum. "Gue udah gak apa-apa kok, tadi cuma pusing dikit." sahutnya.


"Syukurlah." Yuda jadi lega. "Makasih udah nyelametin gue."


"Ah, udahlah! Yang penting lo baik-baik aja." sahutnya dengan senyumnya yang ramah.


"Punggung lo sakit gak?" tanya Yuda kemudian.


"Enggak kok, sepertinya gak begitu parah." sahutnya tenang.


"Rian." tiba-tiba Desi sudah datang, berlari masuk dengan suara nafas terengah-engah.


Sontak Rian dan Yuda menoleh. "Desi." gumamnya.


"Gue keluar dulu." pamit Yuda, yang mengerti mereka berdua. Ia kemudian langsung keluar kamar perawatan, menyusul Mega yang tengah keluar membeli makanan.


"Sayang, bagaimana bisa kamu seperti ini?" tanyanya dengan panik. "Mananya yang sakit? Disini? Disini atau disini?" melihat bagian tubuh Rian sambil membolak-balikkan.


"Aku baik-baik saja kok." sahutnya canggung, karena Desi langsung memegangi tubuhnya.


"Apanya yang baik-baik saja!" bentaknya, membuat Rian sedikit kaget. "Kamu sampai pingsan dan masuk rumah sakit begini, kamu masih bilang kamu itu baik-baik saja." omelnya. "Tunjukin dimana kamu dipukul! Aku pengen mastiin."


"Sudah ku bilang, aku mau mastiin." sahutnya lalu menangis dengan kencang. "Bagaimana kalau lukanya parah, terus tulangmu jadi kropos dan patah? Kamu kan baru aja sembuh karena kecelakaan." ucapnya sembari tersedu-sedu.


"Des, gue..."


"Kamu ini ya gak mikir! Kalau itu berbahaya ya pergi aja! Jaga kesehatanmu!" omelnya. "Aku kan gak pengen kamu kenapa-kenapa, kalo nanti kamu jadi sakit-sakitan dan meninggal gimana? Aku bakal jadi janda sebelum menikah."


Sungguh Rian ingin menegaskan kalau pemikiran Desi terlalu sangat jauh, tapi dia tidak bisa menahan tawanya ketika Desi terus mengomelinya dengan segala perhatiannya.


Selesai berucap, Desi langsung memegangi baju Rian. Memaksa pemuda itu menunjukkan luka dipunggungnya.


"Yah! Jangan!" ronta Rian, mencoba menepis tangan Desi.


"Aku mau mastiin doang kok." tegasnya, berhasil membuka satu kancing pemuda itu. Tapi Rian sudah berhasil memegangi kedua lengan gadis itu agar berhenti.


Seketika juga Sefia dan Dedi membuka pintu, dan kaget melihat keduanya seperti pasangan intim.


"Mami, papi." Rian menoleh dan kaget.


Seketika keduanya jadi canggung, dan ia buru-buru memasang kancing kemejanya kembali.


"Maaf ya kalau mengganggu." ucap Sefia dengan senyum, bahkan Dedi menahan tawa ketika melihat wajah anaknya begitu merah merona karena malu.


"Ini gak seperti yang mami pikir." ucap Rian ingin menjelaskan, tapi Desi keburu menyahut.

__ADS_1


"Gak apa-apa kok, mi." sahut Desi dengan malu-malu, membuat Rian tercengang.


"Mami?" tanya Rian heran, berbisik pada Desi.


"Ya kan aku calon mantu, gak apa-apa dong panggil mami juga." sahutnya.


"Iya, tidak apa-apa kok." Sefia menyahut, merangkul lengan gadis itu. "Rian gak boleh galak-galak sama perempuan, gak baik."


"Iya mi." sahutnya lemah, tak bisa membantah.


"Namamu siapa Nak?" tanyanya.


"Desi mi, saya juga sekelas dengan Rian." sahutnya lalu menoleh pada lelaki disamping Sefia dan menyapanya. "Selamat malam, saya sering melihat Anda di majalah juga stasiun televisi. Sungguh Rian duplikat Anda." pujinya penuh kagum.


"Malam." balas Dedi menyapa. "Terimakasih atas pujiannya, dan kamu juga boleh memanggilku papi kok."


"Sungguh? Boleh?"


Dedi mengangguk, dan Rian hanya cemberut saja. Ia kemudian menepuk bahu anaknya. "Kamu baik-baik saja?"


Rian mengangguk. "Baik pi." sahutnya. "Maaf sudah membuat mami dan papi khawatir."


"Sudah sewajarnya kita selalu khawatir sayang." sahut Sefia, duduk sebelah anaknya. "Yang terpenting Rian tidak kenapa-kenapa, kita sudah tenang."


Rian tersenyum. "Makasih mi." sahutnya, lalu Sefia mengecup pipi anaknya dengan sayang.


Desi yang melihat kehangatan tersebut jadi teringat kedua orangtuanya yang kini sibuk, bahkan tidak sempat menghubungi dirinya. "Desi juga ingin di sayang mi." ucapnya tanpa malu-malu. "Boleh? He he."


Sefia jadi tersenyum, lalu mengangguk. "Sini!" Desi mendekat, dan Sefia mengecup kedua pipinya bergantian.


"Terimakasih mi." ucapnya dengan tatapan nanar, ketika Sefia sudah mencium pipinya.


"Apa kamu ada masalah?" tebak Sefia ketika melihat ekspresi kesedihan diwajah gadis itu.


"Enggak kok mi, cuma Desi lagi kangen aja sama mama papa yang lagi sibuk diluar negeri." sahutnya memberi senyum seakan ia baik-baik saja. "Kalau begitu Desi pamit pulang dulu, dan cepat sembuh ya Rian." peminatnya buru-buru karena tidak bisa menahan gejolak dijiwanya.


Ia membungkuk memberi hormat pada mereka kemudian buru-buru keluar kamar perawatan.


"Rian." sapa Sefia seraya bertanya pada anaknya yang masih memandangi pitu.


"Iya mi."


"Gadis itu anak yang sangat baik, mami lihat dia sangat menyukaimu. Kamu jangan pernah mengecewakannya ya! Dia begitu mirip dengan mami dahulu."


"Iya, mami mu benar" sahut Dedi. "Dia sangat mirip dengan mamimu, dan jangan pernah membuatnya sedih ataupun memberinya harapan palsu. Kalau kamu memang tidak menyukainya, tegaskan padanya! Apalagi orangtuanya jauh darinya."


Rian jadi terdiam sejenak, ia masih bingung dengan perasaannya. "Iya pi, Rian ngerti."


"Baguslah kalau kamu mengerti." mengacak rambut anaknya.


****

__ADS_1


Selamat berpuasa :)


__ADS_2