SELINGKUH

SELINGKUH
Prahara


__ADS_3

Kini setelah semua permasalahan selesai dengan solusi yang diberikan oleh Dedi, Dedi dapat tenang dan segera pergi dari perusahaan menuju hotel untuk ia beristirahat.


Karena lelah, segera Dedi turun terlebih dahulu dan langsung menuju presidential suit untuk menjadi kamarnya beristirahat sejenak.


Sedangkan Anggi tampak begitu kesal, dan menyesal telah membawa koper yang begitu berat sehingga memerlukan waktu untuk mengeluarkannya dari bagasi.


"Uh, malah ditinggal." ucapnya kesal.


Setelah ia mendapatkan kopernya, Anggi segera melangkah memasuki hotel yang dimana kamar untuknya sudah disiapkan.


Tapi sebelum ia masuk, pak supir berlari mengejarnya.


"Non Anggi." panggilnya.


Anggi lalu menoleh, dengan enggan. "Ada apa, pak?"


"Ini, ponsel pak Dedi ketinggalan tadi dimobil. Tolong Non antarkan!" memberikan ponsel milik Bosnya, dan Anggi menerimanya.


"Ah, oke pak."


Anggi begitu senang, karena akhirnya dia mempunyai kesempatan untuk bertemu dan masuk kedalam presidential suit milik atasannya itu.


"Yes, akhirnya aku punya kesempatan buat deketin dia."


Anggi begitu tampak senang, tapi sebelum itu. Ia memutuskan untuk pergi ke kamarnya terlebih dahulu dan kebetulan juga, ada panggilan telefon berulang dari Sefia.


Segera Anggi tersenyum licik dan menjawab panggilan itu.


"Hallo." jawab Anggi.


"Kenapa kamu yang mengangkat telefon suamiku, hah?" bentaknya, emosi.


"Ah, Dedi." sahutnya tersenyum malu dan manja. "Dia lagi mandi tuh."


"Brengsek." umpat Sefia kemudian, lalu menutup panggilan teleponnya.


"Ha ha ha. Mampus! Dia pasti lagi kebakaran jenggot sekarang." ucapnya tertawa senang, melempar ponsel milik atasannya diatas ranjang. "Ah, aku mau mandi dulu deh. Terus dandan buat ketemu pujaan hati."


****


Disisi lain, Sefia begitu tampak emosi dan juga kebingungan.


"Nyonya kenapa?" tanya Ratih.


"Aku harus menyusul pak Dedi, tetapi aku tidak bisa meninggalkan Rian." sahutnya, kebingungan. "Aku benar-benar takut." ucapnya gemetar, dan kali ini bahkan ia mulai mengeluarkan airmatanya.


"Kalo Nyonya khawatir, kenapa tidak disusul saja? Den Rian juga sepertinya sudah baikan."


Mendengar itu, Sefia melangkah mendekati ranjang anaknya lalu menempelkan telapak tangannya didahi anaknya itu.


"Iya, demamnya benar-benar sudah turun dan suhunya juga sudah normal." ucapnya, memastikan dirinya sendiri.

__ADS_1


"Saya akan menemani den Rian, juga meminta pelayan yang lain membantu saya." ucap Ratih.


"Baiklah, kalau begitu aku akan berangkat sekarang. Tapi kalo terjadi sesuatu, kamu harus segera menghubungiku dan segera membawa Rian kerumah sakit."


"Baiklah Nyonya, tapi ini sudah sore. Apa Anda yakin masih ingin menyusul Bapak?"


Sefia mengangguk. "Iya, aku harus menyusulnya."


Dengan ditemani supir pribadinya, Sefia segera menyusul suaminya itu keluar kota dengan perasaan gelisah serta pikiran yang berkecamuk.


"Semoga, mereka tidak seperti apa yang sedang aku pikirkan." doanya, penuh harapan.


****


Setelah Anggi membersihkan diri, mengenakan baju terbaiknya serta parfumnya yang mahal untuk menemui atasannya itu.


Segera Anggi memencet bel pintu kamar milik Tuannya itu dengan penuh percaya diri.


"Argh, siapa sih yang ganggu." gumamnya kesal.


Dedi langsung beranjak dari tempat tidurnya, dan segera membukakan pintu untuk sekretarisnya itu.


"Kamu, ada apa kemari?" tanya Dedi, ketika membuka pintu.


"Saya ingin mengembalikan ini pak." menyodorkan ponselnya. "Tadi pak supir menemukan ponsel milik bapak terjatuh didalam mobil."


"Oh." sahutnya, mengambil ponsel miliknya. "Terimakasih, aku ingin beristirahat sebentar. Dan tolong nanti malam siapkan aku makan malam." pintanya sebelum menutup kembali pintu kamarnya.


Dan Dedi langsung menutup pintu kamarnya, dan kembali melemparkan tubuhnya kembali keatas kasur.


Anggi menghentakkan kakinya, kesal. "Ih, dia bahkan tidak membiarkan aku masuk meski sebentar."


****


Dan Kini sudah memasuki malam hari, dan tiba-tiba kondisi Rian buruk kembali.


"Ya Tuhan, kenapa suhu tubuhnya tinggi sekali." gumam Ratih panik.


Lalu ia segera memanggil pak Umang untuk mengantarkannya kerumah sakit.


"Pak, antarkan saya kerumah sakit sekarang!" pinta Ratih, panik terburu-buru. "Den Rian suhu tubuhnya tinggi lagi."


"Baik mbak, seger saya antar."


Merekapun segera menuju rumah sakit, dan dokter meminta agar Rian dirawat inap karena kondisinya tidak memungkinkan lagi untuk rawat jalan.


Mengetahui itu, Ratih buru-buru menghubungi Sefia tetapi sayangnya telepon milik Sefia tidak aktif. Bahkan, Ratih mencoba menelponnya berulang.


Karena telpon milik Sefia tidak aktif, maka dengan panik Ratih menelpon Dedi untuk memberitahu kondisi Rian yang sedang sakit.


"Hallo." jawab Dedi diseberang.

__ADS_1


"Pak, apa Nyonya sudah disana?" tanyanya panik.


"Nyonya? Gak ada. Bukannya Nyonya dirumah, Rat?" tanyanya heran.


"Nyonya tadi pamit pergi buat nyusul bapak." sahutnya. "Terus saya telfonin tapi nomornya gak aktif."


"Memangnya ada apa? Apa terjadi sesuatu sama Rian?"


"Den Rian tiba-tiba panas lagi pak, jadi segera saya bawa kerumah sakit dan dokter menyarankan untuk dirawat inap."


"Ya Tuhan, anakku." sahut Dedi, cemas. "Ya sudah, aku akan mencari Nyonya dan segera pulang."


"Ah iya, baik pak."


Dedi langsung mematikan sambungan teleponnya dengan cemas.


"Fia, kamu kemana sih?"


****


Disisi lain, Sefia yang sudah sampai langsung buru-buru memasuki hotel dengan hati cemas dan ia langsung disuguhkan dengan wajah Anggi yang tengah menyibukkan diri dengan para pelayan.


Seketika Sefia melangkah mendekati Anggi dan langsung melayangkan tamparan padanya tanpa basa-basi.


"Dasar perempuan penggoda." umpatnya kemudian, membuat orang yang melihatnya heboh.


Anggi memegangi pipinya yang panas, ia hanya menatap tajam dan tersenyum licik karena ia tahu bahwa ia telah menjadi bahan tontonan.


"Jauh-jauh dari suamiku, aku benar-benar akan menyingkirkanmu." ucapnya geram, dan mendorong tubuh Anggi hingga ia jatuh terperanjat kelantai.


"Fia." teriak Dedi, membentak. Membuat Sefia tercengang. "Apa yang kamu lakukan disini?"


****


****


Sorry Sorry Nih!!


Kalo gak suka mending gak usah baca daripada ninggalin hate komen bikin sakit hati dg mengatakan "Gak menarik lah dll."


Ini part spesial untuk diambil pembelajaran hidupnya, agar semua dapat kebahagiaan masing-masing.


Netizen : "Kenapa Sefia gak langsung bilang klo Anggi itu bla bla bla."


Author : "Sefia udah pernah ngasih tau Dedi klo Anggi ada niatan lain tapi Dedi menertawainya, Kenapa? Karena bahkan untuk sekedar dekat apalagi ngerayu itu gak bisa. Dedi gak ngasih kesempatan. Klo tiba-tiba Sefia nyerocos, bukankah itu namanya nuduh? Kan tidak se bar-bar itu."


Lagian pembelajaran hidupnya disini adalah "saling terbuka." dan lebih pentingnya bahwa Pelakor itu ada ketika pria memberi celah untuk mereka masuk, kaya Angga contohnya. Yang selalu nuruti kemauan Lia dan akhirnya terjebak, berbeda dengan yang benar-benar tertutup rapat.


Pokoknya, Author bikin Novel ini agar kalian bisa mikir dan juga bisa menguras emosi.


Jangan HATE KOMEN LAH ANJIRRR!! Kesel Gua, Berantem sini!!

__ADS_1


__ADS_2