SELINGKUH

SELINGKUH
AFFECTION : Rasa Agista


__ADS_3

Agista berlari dengan cepat dan hendak masuk kedalam mobil begitu keluar dari rumah.


Tapi untunglah Rian segera mengejarnya, dan langsung menarik kembali tas gendong milik Agista. Guna menghentikan langkah cepat gadis itu.


"Mau kemana, hah?" tanya Rian, sembari menarik tas Agis. "Bukannya kakak menyuruh untuk ganti seragammu!"


Agista yang sudah ketangkap basah itu lantas memundurkan langkahnya, lalu menoleh dengan senyum tengilnya. "He he, maap kelupaan."


"Cih!" decihnya, lalu membukakan pintu mobil belakang untuk sang Adik. "Masuk!" perintahnya.


Agis menunduk pasrah dan segera masuk dengan tenang, sedangkan Rian menyuruh salah satu pelayan untuk mengambil seragam milik adiknya itu.


"Cepet ganti!" memberikan set seragam pada Agis yg tengah duduk didalam mobil.


Agis memandang sedih seragam yang diberikan kakaknya, sungguh bukan seleranya. "Agis ganti dikamar aja." pintanya.


"Udahlah ganti disini aja!"sahutnya pendek, lalu menutup pintu mobil. "Kacanya gak bisa dilihat dari luar, lagian kakak jamin gak bakal ada yang ngintip."


"Tapi kak."


"Udah deh buruan! Cerewet banget sih." dengusnya.


"Iya iya." rengeknya dengan pasrah.


Rian sangat tahu sifat adiknya yang sangat mementingkan penampilan, agar mirip dengan model idolanya.

__ADS_1


Jika Rian masih membiarkan Agis ke kamarnya, Rian yakin Agista memilih lari daripada kesekolah bersamanya.


****


Untukmu, semua hati yang pernah mencintai dan dicintai. Yang pernah di khianati sampai tak ingin hidup lagi. Baca kisah ini dengan hati hati.


****


"Udah sampek, gak mau turun?" tanya Rian pada adiknya yang dari tadi duduk bersindakap, bahkan enggan menoleh padanya.


"Mau turun kok." sahutnya ketus, melirik tidak enak dengan tajam pada sang kakak.


"Dih, ngambek." ledeknya.


Agista membuang muka lalu turun dari dalam mobil, dan berjalan tanpa menoleh pada kakaknya.


Agista mengangkat sebelah tangannya keatas, memberi isyarat 'OK' tanpa menoleh dan menyahut karena kesal.


Rian hanya tersenyum dengan kelakuan adiknya yang sudah kebiasaan itu, lalu melajukan mobilnya kembali untuk segera pergi kekantor.


"Whoa Agis." temannya terkejut, ketika melihat penampilan Agista yang tak seperti biasanya saat masih SMP. "Lo mau jadi anak culun?"


"Udah deh diem! Gue mau belajar bukan gaya-gayaan." sahut Agis dengan arogan.


Kikan hanya menahan tawa, kesambet apa temannya yang satu ini mendadak berubah. "Serius lo?"

__ADS_1


Seketika Agis malah jadi tertawa sendiri, membuat Kikan jadi heran. "Gue tetap gue." sahutnya. "Lo tunggu disini bentar!"


"Lah, elo mau kemana emang?"


"Mau ketoilet ganti seragam lah." sahutnya cekikikan. "Untung tadi kakak gue gak sadar kalo seragam gue, gue masukin kedalam tas."


"Ha ha ha dasar si Agis." Kikan jadi ikut tertawa melihat tingkah nakal temannya itu.


"Tungguin bentar ya!" pintanya sekali lagi.


"Oke gue tungguin." sahutnya.


Agispun berjalan terburu-buru menuju toilet, tetapi di tengah perjalanan ia tak sengaja membentur seorang pemuda bertubuh tinggi melebihinya.


Hingga akhirnya Agista terpental kebelakang karena tubuh mereka sungguh sangat berlawanan. Tapi untung saja pemuda itu segera mengakap Agista, ketika gadis itu hendak terjatuh.


"Bukankah ini adalah adegan yang sering muncul di drama korea?" gumamnya dalam hati, menatap lamat-lamat wajah pemuda itu.


"Kamu tidak apa-apa?" tanya pemuda itu kemudian, membuat Agista seketika tersadar lalu meluruskan kembali tubuhnya dan tersenyum penuh malu.


"Iya. aku tidak apa-apa. Aku baik-baik saja." sahutnya malu-malu.


Pemuda itupun berbalik dan pergi tanpa sekalipun membalas senyuman, sedangkan Gista berdiri mematung sembari memegang dadanya yang dimana jantungnya sudah berdetak kencang.


"Aku menyukainya." teriaknya ketika tersadar.

__ADS_1


****


__ADS_2