
"Emang ada apa kok Rian tanya mami pas masih muda?" tanya Sefia kemudian, ketika Rian menidurkan kepalanya kembali dan Sefia mengelusnya.
"Rian cuma penasaran aja, mi." sahutnya.
Sefia menyipitkan matanya, curiga. "Rian mau nembak cewek, ya?" tebaknya.
Sontak Rian jadi gugup. "He he, enggak mi. Cuma tanya aja kok, soalnya penasaran."
Sefia hanya menghela nafas, tersenyum akan tingkah anaknya yang tampak malu-malu dan tak berterus terang. "Rian, kalo kamu memang suka, memang ada rasa. Katakan saja nak!" ucapnya memberitahu dengan nada kelembutan. "Cinta itu untuk diungkap, bukan ditahan."
Hati seorang ibu pasti tahu, dan Rian tidak dapat mengelaknya. "Rian hanya masih takut, mi. Ada rasa bersalah yang begitu besar."
Sefia jadi tersenyum penuh ironi. "Mami tahu, tapi bukan tidak boleh kamu menyukai orang lain." sahutnya meyakinkan. "Kamu harus ingat nak! Perasaan yang kamu miliki, hati yang kamu miliki, bahkan kesakitanpun, itu semua datangnya dari Tuhan. Jika Tuhan sudah memberi, apa kamu sanggup menahannya?"
Rian jadi bersedih, mengingat dirinya yang seakan masih terikat dan terkurung rasa bersalah. "Tapi dia juga suka kok sama Rian."
__ADS_1
"Terus, Rian biarin dia jatuh cinta sendirian?" tanya Sefia telak, dan Rian pun mengangguk lemah sebagai jawaban. "Ingat ya! Hati yang sering patah, hati yang sering terluka maka lambat laun akan berubah karena sering merasa tersiksa. Kalian itu masih muda, tentu perjalanan kalian masih panjang."
Sontak Rian jadi beranjak duduk mendengar ucapan maminya. "Maksud mami gimana?" tanyanya mulai merasa khawatir.
Sefia jadi tersenyum. "Maksud mami! Katakan sebelum dia berpaling, karena perasaan itu bisa berubah kapanpun ketika merasa disakiti."
Rian kini akhirnya jadi mengerti perkataan maminya yang dalam, dan tak akan mengulur waktu untuk mengatakan perasaannya.
Semenjak memutuskan untuk memberikan hatinya penuh, Rian yakin Tuhan tidak akan salah memberi.
"Selamat malam." sapa Dedi ketika memasuki rumah, pulang dari kantornya.
"Tapi ini sudah malam, sayang."
"Gak apa-apa kok mi, Rian gak mau nunda-nunda lagi." sahutnya, mengambil jaket tebalnya lalu mengecup pipi maminya sebelum pergi.
__ADS_1
"Yaudah Rian hati-hati dan jaga diri baik-baik ya!"
"Pasti mi." sahutnya melangkah pergi. "Tolong jagain mami, Rian titip bentar, pi!" pamitnya dengan logatnya yang tengil, langsung berlari pergi.
"Yah!" teriaknya sembari mendengus, lalu menoleh pada sang istri. "Dia mau kemana mi udah hampir larut malam begini?"
"Dia mau nyusul teman-temannya, jadi biarin aja pi." sahutnya, sembari membantu melepas jas milik suaminya yang kini tengah duduk bersamanya.
"Oh gitu, baiklah papi bakal suruh anak buah papi buat ngawasin Rian diluar."
"Rian kan cuma main sama temen-temennya, pi." tegur Sefia.
"Iya sayang." sahutnya gemas, menangkup dagu istrinya lalu mengecup bibirnya sekilas. "Tapi Rian itu penerus papi, anak kita yang perlu dilindungi. Papi akan menyuruh mereka mengawasi tanpa perlu Rian dan teman-temannya tahu kok. Ini cuma demi keselamatan anak kita."
Sefia jadi tersenyum, mengelus wajah suaminya penuh sayang. "Baguslah jika begitu." sahutnya. "Papi sudah makan malam?"
__ADS_1
"Sudah kok" sahutnya, memeluk istrinya dari belakang. "Kita istirahat aja, yuk!" ajaknya.
Sefia mengangguk. "Yuk."