
Kini mereka sudah mulai memasuki ruang kelas, seperti hari-hari yag sebelumnya yang memang selalu ramai dan saling bergurau ketika guru belum memasuki ruangan.
Ketika guru pengajar datang, mereka jadi kembali kebangku mereka masing- masing dengan tertib.
Tapi kali ini pak guru masuk di ikuti dengan salah satu murid yang asing, tapi tidak bagi Desi dan Rian juga.
"Wah, dia benar-benar pindah ke sekolah ini." gumam Desi begitu tak percaya.
"Selamat pagi anak-anak." sapa pak guru pada semua murid didalam kelas.
"Pagi pak." sahutnya serentak.
"Semester kedua ini kita kedatangan murid pindahan dari SMA khayalan, semoga kalian bisa berteman dengan baik." ucapnya memberitahu, sebelum kemudian mempersilahkan gadis itu untuk mengenalkan diri.
"Selamat pagi, salam kenal namaku Mela." sapanya dengan lembut, beda dari biasanya. "Semoga kita bisa saling akrab."
Desi hanya bisa menyunggingkan bibirnya, benar-benar gadis bertopeng menurutnya.
Mela menoleh pada gurunya. "Pak, apa saya boleh memilih tempat duduk? Saya ingin duduk disebelah sana." menunjuk tepat disebelah Rian.
Guru itupun mengangguk. "Doni, kamu pindah kedepan!" perintahnya.
"Baik pak." sahutnya, menganmbil tasnya lalu beralih duduk dibangku depan yang kosong.
Dengan senang hati Mela jadi senang karena bisa duduk dekat dengan Rian, membuat Desi jadi berdecak sebal.
Ketika Mela berjalan, sengaja Desi menjulurkan kakinya kepinggir agar Mela jatuh terjerambat.
__ADS_1
BUGH!!
Seketika Rian yang begitu dekat memilih menolong gadis itu. "Elo gak apa-apa?" tanyanya, membantu Mela untuk berdiri.
"Gue gak apa-apa kok." sahutnya mencoba tersenyum lembut. "Makasih ya."
Desi jadi semakin kesal, niat mengerjai malah apes sendiri. Bahkan Mela kini menoleh padanya dan memberikan tatapan penuh permusuhan padanya.
"Haiishhh, benar-benar." gumam Desi kesal.
****
Kini bel istirahat sudah dimulai, mereka berlima pergi ke kantin bersama. Pun Erfan kemudian datang menyusul lalu berkumpul.
"Wajah lo kenapa Des, kok ditekuk mulu dari tadi?" tanya Loli heran.
"Maksudnya gimana, sih? Jadi cewek yang tadi itu adalah cewek nyebelin yang pernah lo ceritain?" tebak Loli dan Mega, jadi bingung.
"Iya." sahut Desi, masih dengan kesal.
"Tapi kayaknya dia anak baik deh." ucap Loli dengan hati-hati.
"Yaelah, dia mah topeng doang." sahut Desi tak terima.
"Orang kan bisa berubah." sahut Rian. "Lagian dia gak ngapa-ngapain kok."
"Tapi dia itu mau ngerebut pacar dari aku." rengeknya.
__ADS_1
"Aku gak akan berpaling kok." yakinnya dan malah mendapat sorakan dari teman-temannya.
"Janji ya!" pinta Desi yang kini senyum merona.
Rian mengangguk. "Iya, janji."
Disisi lain Mela yang mendengar serta melihat itu jadi bergejolak, menahan amarah serta rasa tak terimanya.
Ia memiliki paras yang tak kalah cantik, bagiamana mungkin ia tidak bisa mendapatkan pemuda sebaik dan sesempurna Rian, pikirnya.
"Gue ke toilet dulu." pamit Desi beranjak berdiri meninggalkan temannya.
"Apa perlu gue temenin?" tawar Mega dengan bercanda.
"Dih, gak perlu." sahutnya.
Ketika Desi berjalan memasuki ruang toilet, Mela pun langsung mengikutinya dari belakang. Mengawasi sekitar agar tidak ada orang yang tahu.
Saat Desi tengah berada dibilik toilet, Mela dengan sengaja langsung mengunci pintu dari depan agar Desi tak bisa keluar.
Bukan hanya itu, ia bahkan mengambil rambu peringatan dan mengatakan bahwa toilet ini sedang rusak, sehingga tak ada satupun murid yang akan datang menolongnya.
"Rasain! Main main sama gue." gumamnya, tertawa puas.
****
Tolong like dan komen ya :)
__ADS_1