SELINGKUH

SELINGKUH
Dari Hati ke Hati


__ADS_3

Brakk! Sebuah kursi melayang ke dinding. Seorang pria berdiri di balik meja dengan wajah penuh amarah. Dua pria lainnya berdiri gemetar ketakutan.


" Menculik bocah saja tidak bisa! Bodoh!"


" K-kami melihat keadaan bos. D-di sana tidak pernah sepi. Akhirnya k-kami nekat. Tapi seorang wanita hamil berusaha menyelamatkannya. Kami terpaksa mundur."


" Cih! Kalian kalah dengan wanita hamil! Kenapa tidak kau lempar saja ke jalan! Hah!"


Dua pria tadi menunduk, tidak berani lagi menjawab. Ia berputar putar sambil meremas kepalanya.


" Aku harus mencari cara lain! Aku harus menemukan cara untuk menghancurkannya! Kalian pergilah!"


" B-baik bos."


Kedua pria tadi pun meninggalkan ruangan. Kini hanya tinggal Ia sendiri. Ia benar benar murka.


"Aaarrrghhhkk!"


Ia menggeser kasar semua tumpukan barang di rak. Ia merasa kepalanya seperti akan meledak.


Zaky. Aku tidak akan menyerah. Aku akan menjatuhkanmu. Itu pasti! Apapun caranya! Lila. Wanita itu malah menghilang! Kemana dia! Mungkin kau bisa bangga karena proyek hotelmu yang baru. Tapi aku tidak akan membiarkan proyek resortmu. Aku akan menggagalkannya.


Benny. Ia mengepalkan tanggannya dengan kuat. Hatinya penuh kemarahan. Bagaimana bisa sudah hampir setahun tapi dia belum bisa mencegat Zaky. Ambisinya untuk menjadi perusahaan properti nomor satu belum terwujud. Lila yang ia gadang gadang akan mengecoh Zaky dengan cinta malah terseret dan menghilang. Dan kemarin saat ia berencana menekan Zaky dengan menculik Zoya, itu juga gagal.


Aku akan membuat rencana lagi. Aku tidak akan pernah berhenti sampai aku bisa melampauimu.


---


Sudah seminggu sejak Lila tinggal di sini. Rasa nyaman perlahan muncul karena perlakuan Tia padanya. Lila tidak habis pikir mengapa Tia bisa begitu baik padanya setelah semua yang Ia lakukan. Tia selalu perhatian padanya, mengingatkannya waktu makan, minum susu dan vitamin, malah kadang mengantarkan makanan ke kamar di sela kesibukannya bolak balik pergi ke Yayasan. Kadang Lila merasa tidak enak, tapi ia tidak bisa menolak ketulusan hati Tia.


Berbeda dengan Tia, Zaky sama sekali tidak peduli padanya. Jangankan bicara, melirik saja tidak. Ia selalu menghindar saat ada Lila. Zaky benar benar menutup rapat kesempatan bagi Lila. Saat berpapasan, Zaky rela berbalik arah, begitu juga saat akan mengambil makanan di dapur, Ia segera berbalik saat melihat Lila di sana.


Zoya dan adik adiknya adalah alasan lain rasa nyaman itu. Seminggu ini waktu Lila lebih banyak dihabiskan dengan bermain bersama anak anak. Mereka senang dengan kehadiran Tante baru. Lila yang pada dasarnya juga menyukai anak anak bisa dengan mudah mendekati mereka.


Hari hari Lila juga dipenuhi dengan tontonan kemesraan Tia dan Zaky. Kemesraan mereka saat makan bersama, Zaky yang selalu mengganggu Tia memasak, Mencium Tia saat pergi dan pulang bekerja, Juga kemesraan lainnya yang tidak terduga, seperti malam ini.


Lila duduk diatas tempat tidur menghadap ke jendela kamar. Ia membuka kacanya sedikit, Udara malam masuk melalui celah jendela. Kaca jendela itu menyajikan pemandangan kolam renang yang di terangi lampu taman. Lila menatap ke langit, hamparan bintang bersanding dengan bulan yang terang benderang.


Terdengar suara Tia. Tampak Ia berjalan ke arah kolam dengan memegang ponselnya di dekat telinga. Ia pasti sedang menelepon. Lila memandanginya. Tia hanya berbalut gaun tidur, Ia seharusnya tidak keluar dengan gaun seperti itu, di luar pasti dingin sekali, pikir Lila.


Dari arah belakang Tia, Zaky berjalan mengendap endap sambil tersenyum. Ia memakai kaos putih polos dengan celana pendek. Lila dengan cepat berdiri dan menutup perlahan jendelanya agar mereka tidak mendengar. Kemudian Lila menarik gordennya menutupi seluruh jendela kaca. Ia mengintip dari balik gorden.


Tia menatap ponselnya, mungkin menutup panggilan. Zaky memeluk Tia dari belakang, kepalanya tenggelam dalam lekukan leher Tia. Tia tersenyum lalu memiringkan wajahnya sedikit, menepis jarak diantara mereka. Mereka berciuman, sesekali berhenti untuk menarik napas lalu berlanjut. Zaky mengusap tangannya keatas dan kebawah. Ia mendekap Tia semakin erat. Zaky memutar tubuh Tia dan kembali berciuman, ciuman yang panas.


Dari balik tirai Lila melihat adegan itu. Muncul perasaan aneh di hatinya. Bukannya merasa marah malah kemudian ia tersenyum melihat tingkah kedua orang itu.


Padahal di luar dingin sekali. Hmm.. seperti tidak bisa bermesraan di kamar saja. Mungkin begitulah orang yang saling mencintai ya? Tidak peduli waktu dan tempat. Hihi... Lalu bagaimana dengan kita nak? Tidak ada yang mencintai kita.


Lila mengelus perutnya. Ia menutup tirainya ketika melihat Zaky membopong Tia masuk. Ia merebahkan dirinya perlahan dan menutup matanya.


Robi.


Wajah itu muncul begitu saja dalam benaknya.


Kenapa aku jadi mengingatnya? Ahh.. aku masih saja memikirkan suami orang. Sebaiknya aku tidur sekarang.


---


Pagi hari, semuanya baru selesai sarapan. Zaky sudah pergi ke kantor, Tia sendiri pergi ke rumah sakit untuk melihat Anak anak penderita Kanker. Zoya di antar Pandi ke sekolah, Ifa dan Naya menonton kartun kesukaan mereka, Nami sudah tidur, mungkin kekenyangan.


Bi Tuti membereskan piring makan dan mencucinya di wastafel. Lila menghampirinya. Lila mengambil piring yang sudah bersih dan menyusunnya di rak. Bi Tuti menoleh.


" Sudahlah, letakkan saja di situ, pergilah beristirahat."


Lila tidak menggubrisnya, Ia terus meletakkan piring dan sendok itu satu per satu. Setelah piringnya habis, Ia berdiri di samping Bi Tuti dan menatap wanita tua itu.


" Bibi.. apa kau juga membenciku?"


Bi Tuti urung menjawab. Ia mencuci tangannya dulu lalu mengelapnya. Ia duduk di kursi, letih berdiri saat mencuci piring. Ia menatap Lila yang masih menunggu jawaban.

__ADS_1


" Menurutmu?"


" Iya.. kau membenciku. Kau selalu menatapku dengan tatapan tidak senang."


" Bukankah itu wajar, kau hampir membuat kedua orang itu berpisah. Rumah ini menjadi panas."


" Aku tahu." Lila menunduk.


" Jadi sekarang karena kau sudah di sini, bersikap baiklah. Tia itu, dia sangat tulus, jangan sia siakan kebaikannya."


Lila mengangkat wajahnya memandang bi Tuti. Kemudian tersenyum.


" Kau tidak perlu khawatir Bi, tidak ada yang bisa memisahkan mereka, termasuk aku. Mereka saling mencintai, dan itu yang menguatkan pernikahan mereka."


Lila menghela napas dan melihat keluar jendela.


Apa kau menyerah? Kau tidak mengejar Zaky lagi.


Perasaan lega terpancar dari wajah Bi Tuti. Ia merasa agak tenang mendengar perkataan Lila. Setidaknya Lila tahu posisinya. Bi tuti berdiri dan menarik kursi lain untuk Lila.


" Duduklah, berdiri terlalu lama bisa membuat kakimu pegal."


Lila pun duduk.


" Kau sudah menghabiskan susumu? Tia selalu ingin aku memastikan kau menghabiskannya."


Lila mengangguk.


"Makanlah dengan benar, agar kau bisa menyusui bayimu nanti."


Lila mengangguk lagi. Mereka mengobrol ringan, saling bertanya tentang kehidupan masing masing. Bi tuti sampai meneteskan air mata mendengar kisah Lila yang pelik. dan Lila juga tahu tentang kesedihan bi tuti yang di tinggal suami dan anaknya yang tewas karena musibah longsor belasan tahun yang lalu. Itu sebabnya dia sudah lama bersama Tia. Di akhir Obrolan mereka berpelukan, saling menguatkan saling menguatkan satu sama lain.


Ternyata hidupmu sangat berat Lila. Aku mendoakan yang terbaik untukmu nak. dan semoga kau juga menemukan orang yang mencintaimu.


---


Hari berganti petang. Lila duduk di sofa kamar berselonjoran meluruskan kakinya. Ia meremas remas kakinya yang terasa pegal sekali. Ia tidak keluar sejak selesai makan siang tadi. Rasanya kakinya berat sekali.


Sempat sempatnya kesini, padahal dia sepertinya baru pulang.


Tia duduk di sisi sofa yang satunya, di ujung kaki Lila.


" Lila, kakimu bengkak. Harusnya aku mengurangi garam di makananmu ya?" Tia menekan nekan telapak kaki Lila.


Lila mengibaskan tangannya. Ia merasa tidak enak.


" Jangan.."


" Kenapa? sakit?"


" Kau baru pulang, istirahat saja. Aku akan memijatnya sendiri."


Tia pun tertawa.


" Dengan perut yang seperti itu kau pikir bisa memijat sendiri kakimu? Aku saja selalu meminta Zaky memijatku saat hamil."


Tia melepas tasnya dan mengikat rambutnya. Ia keluar sebentar mengambil sebotol olive oil lalu mulai memijat kaki Lila.


" Nah, coba kalau kau sendirian di kontrakanmu, bagaimana kau mengatasi ini?"


Tia memijat kaki Lila perlahan. Ia menekan di beberapa titik telapak kakinya. Ia tahu sedikit tentang titik relaksasi yang di bacanya di buku.


Sementara itu, Lila memandang Tia dengan mata bekaca kaca. Ia terenyuh dengan perlakuan Tia padanya. Tak pernah ada yang begitu peduli padanya selain ibunya. Terlebih Tia adalah orang yang pernah di sakitinya.


"Hey, mengapa melihatku seperti itu?" tanya Tia yang rupanya menyadari bahwa Lila menatapnya lekat.


" Kau.. baik sekali padaku.."


Tia tidak menjawab, Ia cuma tersenyum saja.

__ADS_1


" Aku sangat iri padamu. Hidupmu sangat sempurna. Pernikahan yang bahagia, putri yang lucu, hidup berkecukupan. Kau pasti tidak pernah terluka dan sedih selain saat kehadiranku kan?"


Tia berhenti di kaki kanan dan mulai memijat kaki kiri.


" Tentu saja aku pernah terluka sebelumnya. Dulu aku batal menikah dengan pacarku karena perbedaan keyakinan. Dan itu tahun yang sulit. Aku sangat menderita. Kami berpacaran sangat lama."


" Benarkah?"


"Iya, tapi sekarang aku bersyukur putus dengannya, karena aku akhirnya bertemu Zaky, suami yang baik, ayah yang baik. Dan barulah ini menjadi sempurna seperti katamu tadi."


"Akhirnya kau menemukan pria yang sangat mencintaimu kan, hmm.. kisah yang indah. Entah aku akan punya moment bahagia sepertimu nantinya. Hidupku sangat menyedihkan. Ingin sekali rasanya dicintai sepertimu."


Tia selesai memijat. Ia mengelap tangannya dengan tisu. Lila ingin menurunkan kakinya tapi Tia menahannya. Akan lebih baik di luruskan saja dulu kakinya pikir Tia.


" Lila, kau pasti akan menemukan pria yang mencintaimu juga."


Lila menggeleng dan tersenyum. " Aku tidak berharap hidupku akan lebih baik dari ini."


" Lila, mengapa kau tidak bersama ayah bayi ini?"


" Bagaimana aku bisa tinggal bersama pria yang memperkosaku."


" Apa benar? Kau di perkosa?"


" Iya, kau pasti tidak percaya karena aku pernah menjebak Zaky kan?"


" Aku percaya.."


Lila tersenyum. Ingatannya kembali ke malam benny memukulnya hingga Ia sadar diperkosa keesokan paginya. Tak terasa air matanya jatuh ke dagu.


Tia yang melihat itu segera meraih tangan Lila.


" Lila, jangan bersedih. Kau punya kami, tidak.. kau punya aku. Aku akan ada untukmu. Kau boleh bercerita padaku. Jangan menyimpan kesedihanmu sendiri."


Air mata Lila semakin deras. Ia mengangguk mengiyakan.


" Apa aku boleh memanggilmu kakak.. Kau baik sekali. Aku ingin sekali punya kakak yang baik sepertimu..."


Tia tersenyum. " Tentu saja." Mereka berpandangan.


" Kau tidak mau memelukku?" Tanya Tia.


Lila tersenyum dan menurukan kakinya. Ia memeluk Tia dengan erat. Menangis terisak di bahunya. Tia mengusap usap punggungnya.


Bagaimana bisa aku mendapatkan begitu banyak cinta dari orang yang aku sakiti.


Dari celah pintu, Langkah Zaky terhenti melihat kedua wanita itu berpelukan. Ia melihat Lila yang benar benar menangis di pundak Tia, dan Tia menenangkannya.


Wanita memang sangat sulit di mengerti.


---


Semoga suka ya 😊


Show your love ya pembaca yang baik.


❤❤❤


☺Like


☺Commet


☺Share


☺Rate


☺Vote


☺Favorite

__ADS_1


Makasi buat kalian yang selalu dukung aku.


__ADS_2