
"Apa kabar?" sapa Desi mendongak, pada pemuda yang tengah berdiri tegap didepannya itu.
Ia kemudian mengulas senyum dengan tenang, serta menyodorkan jemari tangannya untuk berjabatan.
"Hanya itu?" tanya Rian, tanpa menggapai jemari Desi yang masih terurai didepannya.
Desi mengangguk. "Iya, hanya itu." sahutnya.
"Cih!" Rian jadi tersenyum miris pada dirinya sendiri.
Lihat saja, penampilannya saja sudah sungguh sangat berbeda. Bahkan Desi hampir seperti bukan Desi yang ia kenal dahulu.
Mana mungkin ia datang langsung mengatakan kerinduan dan meminta maaf karena tak pernah sekalipun memberi kabar.
Bodohnya Rian mengharap hal mustahil, lebih lagi dia masih menyimpan perasaan itu sendiri meski sudah belasan tahu lamanya.
Ketika menyadari itu membuat Rian bahkan menertawakan dirinya sendiri dengan pilu.
Desipun tahu akan kekecewaan yang Rian rasakan saat ini, tetapi ia pun juga harus mencoba pura-pura tenang dan tak mengerti.
****
Untukmu, semua hati yang pernah mencintai dan dicintai. Yang pernah di khianati sampai tak ingin hidup lagi. Baca kisah ini dengan hati hati.
__ADS_1
****
"Selamat pagi pak." sapa Bibik, memecahkan suasana sembari menaruh segelas coklat hangat diatas meja. "Silahkan diminum coklat hangatnya, Non!" tawarnya kemudian pada Desi.
Desi jadi menoleh. "Terimakasih Bik, tapi sepertinya saya harus segera pergi." sahutnya buru-buru berbalik untuk pergi.
Bibikpun jadi terheran, tapi mengerti ketika Tuannya menatap gadis itu penuh dengan kemarahan, jadi dia memilih diam dan segera kedapur kembali.
"Kenapa buru-buru pergi? Bukanya kamu datang kemari untuk menemui pemilik rumah ini." tanya Rian, membuat Desi menghentikan langkahnya lalu berbalik kembali pada pemuda yang memunggunginya.
"Apa kamu pemilik rumah ini?" tanyanya.
Rian berbalik, menatap dengan sorot mata tajam pada gadis itu kembali. "Aku segera meminta papiku membeli rumah ini, ketika aku mendengar bahwa rumah ini akan dijual. Dan ya, tentu rumah ini menjadi milikku sekarang."
"Kenapa? Kamu menganggapku seorang yang menyedihkan, bukan?" tanya Rian tersenyum miris, menertawai dirinya sendiri. "Bahkan sampai sekarang aku menjaga rumahmu, berharap suatu saat nanti kamu kembali pulang."
Desi menggelengkan kepalanya. "Tidak, aku tidak berpikir seperti itu."
"Cih!" decihnya dengan senyum mengejek. "Lalu kenapa kamu bahkan tidak pernah memberi kabar padaku?"
"Bukannya aku tidak ingin memberi kabar tapi." seketika Desi tersekat, tak bisa meneruskan.
Membuat Rian frustasi sendiri. "Aku setiap hari dan setiap waktu berharap kamu menghubungiku, bahkan..."
__ADS_1
"Ha ha ha." Desi terbahak mendengarnya, jelas penuh ejekan yang digambarkannya. "Rian Rian. Ck Ck!"
Rian sontak tertegun, terdiam ketika jelas-jelas Desi tak lagi sama.
"Dengar ya! Itu semua hanyalah masalalu, dan kita akan berubah seiring berjalannya waktu." ucapnya, lalu melangkah mendekati Rian dengan angkuh. "Semua hanyalah cinta monyet penuh bualan, Rian."
"Yah, aku akui aku memang sungguh menarik jadi pria sepertimu pasti akan cinta mati padaku." sambungnya tersenyum, menepuk sebelah bahu Rian yang tengah tertegun. "Aku pergi dulu." pamitnya kemudian.
Seketika itu pula Rian langsung menarik lengan Desi dengan kasar.
"Aw!" pekiknya, mengaduh kesakitan.
"Dengar ya Nona!" ucap Rian dengan sorot mata tajam penuh kebencian. "Bukannya aku tak bisa menemukan perempuan selainmu, tetapi aku hanya tidak suka caramu membahasakan luka, dengan diam lalu pergi begitu saja."
Rian melepas genggamannya dengan kasar. "Ambil saja rumah ini, karena mulai detik ini aku tidak akan mengenalmu lagi." ucapnya kembali dengan sinis. "Ini bentuk toleransiku karena kamu pernah mengisi hatiku, tapi jika kamu muncul sekali lagi dihadapanmu. Aku benar-benar akan mengikatmu dan merasakan sakit yang kamu berikan berulang."
Setelah mengucapkan kalimat ancaman itu, Rian segera melangkah cepat untuk pulang. Sementara Desi jadi jatuh terduduk dan menangis tersedu karena perasaannya ia tahan.
"Apa aku telah mengulang kesalahan yang sama untuk kedua kalinya?"
****
OTW NGETIK KURANG 2-3 BAB LAGI HARI INI.
__ADS_1
BENTAR SABAR!! YANG PENTING VOTENYA JAN PELIT OKE