
Sefia berjalan mondar-mandir, melirik jam yang menempel di dinding.
"Kok belum pulang ya, pi? Coba papi hubungi lagi!" desak Sefia pada suaminya.
"Iya mi, ini papi coba hubungi dari tadi tapi ponselnya gak aktif." sahutnya, tak kalah khawatir dari istrinya.
Seketika itu pula, telfon rumah berdering dan Dedi dengan sigap mengangkatnya.
"Hallo." jawabnya.
"Apa benar ini kediaman Saudara Rian Atmadja?" tanya salah seorang diseberang.
"Iya benar." sahut Dedi cepat.
"Saya suster dari rumah sakit Kusuma, ingin memberitahukan bahwa Saudara Rian Atmadja tengah mengalami kecelakaan dan kondisinya sedang kritis, sehingga membutuhkan persetujuan dari orangtuanya untuk melakukan operasi segera." ucapnya menjelaskan.
Seketika Dedi lemas dan berakhir jatuh duduk dikursi tunggal dekat nakas, masih memegang telepon dengan wajah tak percaya. "Saya akan segera kesana, tolong lakukan yang terbaik untuk anak saya!" pintanya kemudian sebelum menutup telepon.
Ia mengusap kasar wajahnya, matanya pun begitu nanar. Membuat Sefia bertanya-tanya.
"Ada apa, pi? Kenapa Rian?" tanyanya mulai khawatir.
Dedi tak mampu menjawabnya, ia kemudian beranjak berdiri untuk segera pergi kerumah sakit. "Kita harus segera kerumah sakit, mi."
"Kenapa, pi? Apa terjadi sesuatu dengan Rian?" tanya Sefia lagi, ketika belum mendapat jawaban.
Ia mengikuti langkah suaminya yang tergesa-gesa masuk kedalam mobil, lalu meminta supir melajukan kendali mobil kerumah sakit Kusuma.
Sepanjang jalan Sefia mengguncang bahu suaminya dengan gemetar. "Tolong pi jawab! Ngapain kita kerumah sakit? Ada apa pi dengan anak kita?"
__ADS_1
Dedi memeluk erat istrinya guna memberi ketenangan. "Anak kita pasti baik-baik saja, mami jangan terlalu khawatir!" mengingat istrinya tengah mengandung, Dedi tidak ingin membuatnya syok.
"Jadi benar? Terjadi sesuatu dengan Rian?" tanyanya terisak.
Dedi mengangguk, mengelus wajah istrinya yang sudah mengeluarkan air mata kekhawatiran. "Iya." sahutnya.
Seketika Sefia langsung memegang dadanya, begitu sesak hingga ia tak tahan.
"Hah, hah, hah." ia menghembus nafas kasar, merasa sesak didadanya. Dan Dedi lagi-lagi memeluknya agar istrinya menjadi lebih tenang.
Dan kini mereka sudah sampai didepan gedung rumah sakit, Segera Dedi dan Sefia turun dan langsung melangkah cepat menuju ruang operasi.
Mereka duduk menunggu dengan gelisah, khawatir tak terkira. Bahkan Sefia sudah seperti kehilangan akalnya.
"Sayang, ini semua cuma mimpi kan? Ini Gak nyata kan?"
Dedi hanya bisa memeluk istrinya yang bahkan sudah terisak tak tertahan.
"Dia pasti baik-baik saja, sayang." sahut Dedi mencoba menenangkan.
Hingga tak lama kemudian, dokter pun keluar dibalik pintu dan Dedi segera beranjak berdiri menghampirinya.
"Bagaimana anak saya, dok?"
"Puji Tuhan, operasinya berjalan dengan lancar dan saudara Rian segera kita pindahkan keruang perawatan intensif. Tetapi..." Dokter itu menunduk sedih seakan suaranya tersekat ditenggorokan, membuat Dedi jadi khawatir.
"Tapi kenapa, dok?"
"Lebih baik, kita bicarakan diruangan saya saja." sahutnya. "Ada beberapa hal yang perlu saya sampaikan."
__ADS_1
"Baiklah."
****
Mereka pun berada saling duduk berdampingan untuk menguatkan, belum lagi wajah Sefia yang sudah tampak pucat pasi tetapi ia memaksa ikut untuk mendengar sendiri kondisi anaknya seperti apa.
"Operasinya berhasil pada beberapa bagian yang patah karena jatuh. Ini mungkin karena ada benturan keras dibagian kepala tapi untunglah pendarahan diotaknya tidak begitu parah. Tapi, napas dan tanda vitalnya sangat tidak stabil. Lebih pentingnya lagi, dia menderita hemotoraks yang parah, jadi kami harus melakukan CPR selama hampir 20 menit. Tapi karena hipoksia, otaknya akan mengalami kerusakan.” jelas dokter itu.
"Kerusakan otak, dok?" Dedi terperangah.
Dokter itu mengangguk. "Ada kemungkinan ia akan mengalami koma atau mati otak."
Seketika Sefia yang mendengar itu langsung memegang dadanya yang tampak ingin berhenti berdetak, sedangkan Dedi masih bertanya.
"Apa ada kemungkinan untuk anak saya sadar?" tanya Dedi penuh harap.
"Untuk sekarang ini saya tidak bisa memberikan jawaban, kalau pun sadar maka besar kemungkinan anak bapak akan mengalami cacat mental." sahutnya. "Kita hanya bisa menunggu untuk ia pulih dan ada sebuah keajabaian."
Mendengar itu Sefia langsung menangis histeris. "Ini cuma mimpi." teriaknya, sebelum ia benar-benar terjatuh lemas, untunglah dengan sigap Dedi menangkapnya lalu memeluk tubuh istrinya yang sudah lemah seperti orang tak sadar.
"Sayang." ucap Dedi memeluk istrinya dan menangis. "Kuatlah!"
****
Kini Sefia menangis histeris melihat kondisi putranya di ranjang. Berbagai kabel dan peralatan medis terpasang di sekujur tubuh putranya. Dia benar-benar tidak kuat melihatnya.
Dedi pun demikian, dia menangis histeris melihat kondisi putranya. Hati orang tua mana yang tidak teriris melihat putranya yang masih sehat saat pagi, tiba-tiba berada dalam kondisi terluka parah dan tidak sadarkan diri.
****
__ADS_1
Kamsamida :*