
"Siapa yang datang?" tanya Dedi pada istrinya.
"Ah, tadi itu Anggi. Dia mengembalikan mantel ini padaku." sahutnya menunjukkan mantelnya, sembari mengulas senyum.
"Sepertinya kalian sudah baikan."
Sefia mengangguk. "Iya. Dia benar tidak seburuk yang aku kira, ternyata dia baik."
"Semua orang itu ada sisi baiknya, tergantung bagaimana keputusan mereka. Mau mengikuti hawa nafsu atau menekan hidup agar lebih baik."
Seketika Sefia mendongak, tersenyum tanpa mengedipkan matanya.
"Apa?" tanyanya heran, pada sikap istrinya itu.
"Kok kata-katamu selalu bijak, ya?" kagumnya.
Dedi memeluk istrinya dari belakang dan menyandarkan satunya dibagi rapuh milik istrinya itu. "Iya dong, setiap kisah kan pasti ada pembelajaran hidupnya. Dan semoga besok langsung jadi, ya."
"Apanya?"
"Bayi kita." sahutnya terkekeh.
"Yah! Ujung-ujungnya itu lagi." sahut Sefia mendengus kesal. "Besok kita keluar, yuk! Jalan-jalan." ajaknya.
"Kemana? Berdua saja, kan?" tanyanya memastikan.
"Bawak Rian juga dong."
"Yah, dia masih umur segitu udah bisa ngerebut kamu dari aku." ucapnya justru mendapat cubitan dipipinya. "Becanda doang, sayang."
"Yaudah berdua, tapi jangan lama-lama."
"Yang ngajak siapa, yang nentuin juga siapa." ledeknya.
Sefia menoleh, menyipitkan matanya. "Kenapa? Gak mau? Yaudah."
"Mau mau, gitu doang ngambek sih." ucap Dedi, balik mencubit pipi istrinya dengan gemas.
****
Kini sudah tiba waktu pagi hari dan seperti biasa, Dedi bersiap diri untuk pergi bekerja.
"Kamu udah ngasih pengumuman untuk nyari calon sekretaris baru?" tanya Sefia, membantu suaminya memakai jas rapinya.
"Belum." sahutnya pendek.
"Kok belum, sih? Kan kamu butuh. Terus persyaratan utama, dia harus cowok loh ya." tegasnya.
Dedi jadi tersenyum. "Iya sayangku, tenang saja. Aku sudah menemukan calon yang pas untuk jadi sekretaris sekaligus asisten pribadiku."
"Ah, syukurlah kalo begitu. Jadi, aku tidak perlu cemas lagi."
__ADS_1
Dedi menarik pinggang istrinya, mengeratkannya. "Jangan mencemaskan sesuatu yang mustahil!"
"Iya iya, aku mengerti." sahut Sefia, berjinjit untuk menggapai pipi suaminya dan mengecupnya.
"Nanti kita jadi keluar, kan?" tanya Dedi memastikan, sebelum ia melangkah pergi.
Sefia mengangguk. "Iya, jadi kok."
"Oke. Aku berangkat dulu." mengecup bibir dan kening istrinya sekilas. "Sampai jumpa nanti, sayang."
"Iya, sampai jumpa. Hati-hati dijalan."
Dedipun segera masuk kemobilnya lalu berlaju pergi keperusahaannya.
Sesampainya disana, Dedi masih disambut oleh Anggi untuk terakhir kalinya.
"Selamat pagi, pak." sapanya, diam sejenak untuk membereskan segala pekerjaan yang tersisa.
"Pagi." sahutnya. "Setelah selesai, langsung keruanganku, ya!" pintanya.
"Baik pak." sahut Anggi dengan seluruh senyum yang ia punya.
Setelah selesai ia merapikan meja kerjanya untuk terkahir kali, Anggi masuk ke ruang atasannya karena permintaannya tadi.
"Terimakasih atas kebaikan bapak." ucap Anggi kemudian.
Dedi tersenyum. "Kamu pantas menerimanya, dan aku sudah meminta pengacara untuk mendampingimu di pengadilan nanti."
Seketika Anggi menundukkan kepalanya, bak padi yang siap dipanen. "Terimakasih pak, saya banyak banyak berterimakasih untuk kebaikan bapak." ucapnya tulus, penuh syukur.
"Ah, iya baik pak." sahutnya, bersamaan dengan anggukan.
"Aku sudah memberitahunya bahwa besok kamu akan mulai bekerja untuknya."
"Baik, pak. Terimakasih." sahutnya mengangguk. "Kalau tidak ada hal lain lagi, saya pamit undur diri."
"Iya."
****
"Angga Pratama." gumamnya, memutar otaknya untuk mengingat. "Kenapa namanya gak asing banget, ya."
Anggi berjalan, bersamaan dengan membawa barang-barang pribadi yang sengaja dia taruh untuk menjadi penghias meja kerjanya.
"Kenapa kamu disini?" tanya seseorang tiba-tiba, menghentikan langkah Anggi dan mengagetkannya.
Anggipun menoleh dan membelalak kaget. "Kakak, kakak ngapain disini?" balik bertanya.
"Ini adalah tempat umum, tentu siapa saja boleh datang kesini. Sedangkan dirimu sendiri, kenapa masih berkeliaran di jam kantor seperti ini?" ucapnya penuh tanya, lalu melirik barang yang sedang adiknya bawa. "Itu barang, apa?"
Dengan gugup namun berani, Anggi menjawab dengan lantang. "Aku akan pindah, aku tidak akan bekerja lagi sebagai sekretaris pak Dedi."
__ADS_1
Sontak Sherly membelalak kaget. "Apa?! Kamu bercanda?"
"Tidak kak, aku serius. Maafkan aku." sahutnya menunduk, seakan sudah tahu akan sikap kasar yang akan kakaknya berikan.
"Kamu! Dasar gak guna." umpatnya mengeram, ingin melayangkan pukulan keras diwajah adiknya.
Tapi untung saja, seseorang datang menangkap tangannya hingga tamparan itu tak mendarat dengan semestinya.
"Dedi." Sherly membelalak, serta tertegun tak menyangka bahwa orang yang ia punya tahu akan sifat aslinya.
Dedi menepis tangan Sherly kasar, memberi tatapan mengancam. "Hentikan kelakuan burukmu!" pintanya.
"Ma.. maksudmu apa? Aku hanya bercanda saja."
Dedi tertawa sarkas. "Oh, jadi dengan melakukan tindak kekerasan itu hanyalah candaan bagimu?"
Sherly menggelengkan kepalanya cepat. "Gak, bukan begitu maksudku." sahutnya gugup.
"Sudahlah, jangan berpura-pura lagi! Aku sudah tahu semuanya, aku sudah tahu tujuanmu mengirim adikmu ini kepadaku."
"Dedi." Sherly memeluk lengan Dedi, untuk merayu dan menyangkalnya. "Itu gak seperti yang kamu kira, Anggi hanya berbohong dan mencoba menyudutkanku."
Dedi menepis tangan Sherly kasar dari lengannya. "Sudahlah, apa kamu gak capek terus hidup dalam kepura-puraan seperti ini?" tanyanya, lalu menatap tajam. "Dengarkan aku! Mau kamu berusaha bagaimanapun, kamu tidak akan pernah bisa menggantikan posisi istriku dihatiku. Aku juga sudah memiliki putra untuk pelengkap rumah tangga kita, apa kamu juga tidak menginginkan hal yang sama?"
"Tentu, tentu aku mau tapi itu denganmu."
"Sherly." memengang kedua lengan Sherly, dan menuntunnya untuk berbalik. "Pria disana, bisa membahagiakanmu tanpa kamu sadari. Hanya saja kamu masih buta dengan egomu."
Terlihat Jovan sedang memegang dua cup minuman hangat dikejauhan, karena sebelumnya memang Sherly bepergian bersama sahabatnya itu dan tak sengaja berpapasan dengan Anggi dipinggir jalan.
Sherly berbalik, kesal. "Apa sih maksudmu?"
"Maksudku adalah, berhenti menggangguku atau aku akan melakukan hal yang bisa membuatmu menyesal, bahkan kamu akan berada dititik terendah dan tidak akan menjalani keartisanmu dengan bangga lagi." ancamnya tak main-main. Sherly ciut seketika. "Berbaliklah sekarang! Dan temui sahabat setiamu itu."
Dengan enggan, Sherly berbalik badan dan Jovan menyambutnya dengan lambaian tangan.
Sedangkan Dedi menoleh lagi pada mantan sekretarisnya itu. "Aku hanya ingin memberikan ini! Dari istriku. Tadi aku lupa memberikannya padamu."
"Terimakasih pak sekali lagi."
"Ah, okelah. Aku pergi dulu." pamitnya, berbalik dan pergi.
Sekali lagi Anggi menunduk, memberi hormat pada atasannya yang telah melaju pergi dengan cepatnya.
"Ini apa?" Dengan rasa penasaran, segera Anggi membuka pembungkus berwarna coklat yang menjadi penghalangnya. "Novel 'SELINGKUH' kayaknya bagus."
****
Aku akan meneruskan SEASON 2 BERJUDUL AFFECTION disini :*
Pasti gak kalah serunya kok, berlatar belakang kisah cinta remaja tapi akan ada suatu tragedi terjadi menimpa anaknya.
__ADS_1
Sebagai orangtua, pasti akan sangat tahu akan perasaan itu.
DITUNGGU YA :*