SELINGKUH

SELINGKUH
Pulang Malam


__ADS_3

"Ratih, sebaiknya kamu pulang aja gih! Ini udah malem." ucap Sefia pada babysitter anaknya itu.


"Tapi Nyonya, Anda kan sendirian. Mana tega saya ninggalin Nyonya, den Rian kan aktifnya malem, juga pak Dedi pulangnya pasti larut."


"Gak apa-apa kok, aku bisa jaga Rian sendirian."


"Beneran Nyonya gak apa-apa saya tinggal?" tanya Ratih tak yakin.


Sefia mengangguk dengan senyuman. "Gak apa-apa, lagian kamu juga butuh istirahat kok."


"Itu memang tugas saya Nyonya, saya juga sayang banget sama den Rian. Jadi pekerjaan seperti ini sudah bukan suatu masalah bagi saya."


Sefia jadi tersenyum mendengar itu. "Terimakasih ya Ratih? pak Dedi memang gak salah milih kamu jadi babysitter buat Rian."


"Terimakasih juga Nyonya, karena mau mempercayakan saya untuk mengurus penerus Atmaja."


Ratihpun membereskan ruangan sebelum ia pergi untuk pulang, dan dengan malu-malu ia bertanya.


"Oh ya Nyonya, pria yang bawak anak tadi dirumah sakit itu siapa?" tanyanya dengan malu.


Sefia yang tahu itu lantas tersenyum. "Dia mas Angga, mantan suamiku."


"Wah pantes, gak kalah ganteng sama pak Dedi."


Sefia jadi tertawa mendengarnya. "Memangnya kenapa? Kamu naksir dia?"


Seketika Ratih jadi merah merona, dan malu. "Ah, gak gitu kok Nyonya. Lagian mana mungkin pria seperti pak Angga melirik perempuan rendah seperti saya."


Sefia menepuk bahu Ratih. "Rat, mas Angga itu orangnya baik. Dia gak pandang kasta orang, buktinya dia dulu tulus terima aku apa adanya. Jadi, kamu gak boleh ngomong kayak gitu ya?"


Ratih mengangguk cepat, dengan senang. "Iya, Nyonya."


"Kalo ketemu dia lagi, ntar aku kenalin kalian deh."


"Jangan Nyonya! Saya tahu diri."


"Hem, lagi-lagi."


****

__ADS_1


Dedi disibukkan dengan berkas-berkas yang berserakan di meja kerjanya, sampai ia lupa mengisi baterai untuk ponselnya.


"Ya Tuhan, aku sampai lupa memberi kabar istriku." keluhnya pada dirisendiri.


Dedi mengusap kasar wajahnya, lalu memencet telefon dimejanya yang dimana langsung terhubung kepada sekretarisnya.


"Hallo, iya pak?" jawab Anggi diseberang.


"Kamu sebaiknya pulang saja! Ini sudah malam."


"Tidak pak, saya akan menunggu bapak untuk pulang bersama."


"Jangan tunggu saya! Sebaiknya kamu pulang terlebih dahulu, saya tidak masalah."


"Tapi pak..."


Dedi langsung menutup sambungan telefonnya.


"Ih, kok langsung dimatiin sih. Terserahlah, ini mungkin kesempatanku."


Segera Anggi memesan coklat hangat untuk ia berikan kepada atasannya Dedi, untuk mengambil hatinya akan lebih peduli padanya.


"Pak, saya memesan ini untuk bapak." menaruh diatas meja.


"Terimakasih." sahutnya tanpa menoleh. "Tapi bukankah aku sudah menyuruhmu untuk pulang?"


"Saya ini sekretaris bapak, begitu tidak sopan jika saya pulang mendahului bapak."


"Aku akan pulang larut, pulanglah!"


"Tapi pak.."


Dedi menatap Anggi tajam, hingga Anggi ciut seketika. "Supirku akan mengantarkanmu pulang."


"Baik pak, terimakasih." ucapnya menunduk, kemudian keluar ruangan untuk berlalu pegi.


"Aaaaa. Sial sial! Kok gak mempan sih." gumamnya kesal, pada dirisendiri.


****

__ADS_1


Kini hari kian larut, dan Dedi segera mengemasi barangnya untuk pulang.


Saat pulang, Dedi sudah mendapati anak dan istrinya tengah tertidur nyenyak karena kelelahan, sampai tidak sadar bahwa suaminya sudah pulang.


Dengan hati-hati ia memasuki ruang ganti untuk mengenakan piyama, lalu mengangkat anaknya yang berbaring disebelah ibunya, untuk dipindahkan kedalam ranjang khusus untuknya.


Kebetulan juga, anaknya menggeliat dan merengek minta susu. Lalu Dedi dengan sigap membuatkan susu formula untuk anaknya.


"Mimik yang banyak ya, sayang." ucapnya ketika memberikan anaknya susu, sedangkan Sefia masih tertidur pulas di tempat tidur.


Saat Rian sudah cukup kenyang, ia kembali tertidur lelap, dan Dedi mengecup pipinya dengan lembut. "Selamat tidur, sayang." ucapnya berbisik pada anaknya itu.


Ia kemudian berbalik dan merebahkan tubuhnya disebelah istrinya yang tengah tertidur miring diatas ranjang.


Dedi mengelus rambut istrinya, menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajahnya kebelakang telinganya. Hingga ia dengan leluasa menatap wajahnya istrinya yang tengah tertidur dengan begitu polosnya.


"Sayang, kamu udah pulang." ucap Sefia kemudian, terbangun dengan mata masih tertutup rapat.


"He'emm." sahutnya, mengelus wajah istrinya dan mengecup bibirnya sekilas. "Tidur lagi aja kalo ngantuk."


"Iya, tapi aku lapar dan juga ngantuk." sahut Sefia serak.


"Yaudah, kamu tunggu disini aja! Biar aku masak nasi goreng buat kamu."


"Jangan sayang! Kamu kan pasti capek."


"Gak apa-apa kok, kamu juga pasti capek karena ngurus Rian sendirian daritadi." ucap Dedi beranjak, tapi Sefia menarik lengannya. "Apa?"


"Sayang dulu!" pintanya, karena terlalu senang memiliki suami yang sangat pengertian dan perhatian padanya.


Dedi tersenyum melihat tingkah istrinya, ia lalu memegangi kedua sisi wajah istrinya dan mengecup kening, kedua pipi,pucuk hidung serta bibirnya bergantian. "Tunggu sebentar ya!" pintanya sebelum berlalu pergi Ke dapur untuk memasak.


Sefia mengangguk. "Iya."


****


TOLONG VOTE POIN, LIKE DAN KOMEN :(


Note : Tuhan, tolong berikan aku suami seperti mas Dedi! Kalo gak mas Dedi, Mario Maurrer juga gak masalah kok. Aku ikhlas lahir batin.

__ADS_1


__ADS_2