
"Akh kenyang." ucap Sefia mengelus perutnya.
Berbeda dengan Dedi yang hanya tertawa melihatnya, karena dirinya hanya makan secukupnya saja.
"Kita langsung pulang aja, yuk!" ajak Dedi pada istrinya.
Sefiapun mengangguk. "Yuk!"
Mereka langsung berjalan pulang, sepanjang jalan Sefia menyandarkan kepalanya dibahu suaminya dan terlelap.
Dedi juga tak lupa menyatukan jemari mereka, pun juga memeluknya dengan hangat.
"Sayang, kita udah dirumah." bisik Dedi, mengelus pipi istrinya agar terbangun.
Sefiapun akhirnya membuka matanya yang berat. "Aduh, aku sampek ketiduran."
Dedi terkekeh. "Lihat tuh ilermu keluar!"
Sontak Sefia salah tingkah dan langsung mengusap mulut nya yang baik-baik saja.
"Gak ada kok." ucapnya ketika mendapati mulut nya kering. "Ih, nyebelin." memukul dada suaminya.
"Ha ha, bercanda sayang."
Sefia menebalkan bibirnya. "Yuk ah turun!"
Dedi mengangguk, dan merekapun turun dari mobil dan langsung menuju kamar Rian.
Disana mereka menemukan Ratih tengah mengangkat Rian yang tertidur dari kereta bayi, dan dipindahkan ke ranjang bayi khusus. "Eh, Bapak dan Nyonya udah pulang."
"Iya Rat, Rian udah tidur?"
"Iya, baru saja dia tidur. Tadi saya ajak dia jalan-jalan ke taman sama pak Umang."
"Oh, syukurlah. Asalkan gak rewel."
Sefia kemudian menciumi Rian yang tengah terlelap.
"Oh ya, nanti kita akan datang ke pesta. Sementara kamu jagain Rian, ya?" pinta Dedi.
"Baik pak. Saya tidak masalah jika harus bermalam disini." sahut Ratih.
"Ah, syukurlah! Nanti aku akan menyuruh para pelayan untuk tidak pulang juga agar kamu gak kesusahan."
"Baik pak."
Setelah mereka selesai menyapa anaknya yang sedang tertidur, Sefia dan Dedi kembali ke kamarnya untuk istirahat sejenak dan membersihkan diri.
__ADS_1
"Sayang, mandi bareng yuk!" ajak Dedi pada istrinya.
"Duluan aja! Aku mau tiduran dulu disofa." sahut Sefia sembari merebahkan tubuhnya disofa kamarnya.
Dedi berdecak, lalu tiba-tiba langsung mengangkat istrinya menuju kamar mandi bersama.
"Aaaaa. Turunin! Aku capek." rontanya, tapi Dedi tak menggubrisnya.
"Iya, bentar lagi turun." sahutnya tertawa.
"Ih, nyebelin." dengus Sefia kesal.
Dedipun menurunkan Sefia dan langsung membantu Sefia membuka bajunya.
"Ini yang niat mandi duluan siapa? Kenapa malah aku duluan yang buka baju." ucap Sefia heran.
"He he, suka aja kalo kamu yang duluan."
Dedi kemudian menghidupkan kran di bathup untuk mengisi air agar mereka dapat berendam bersama.
Setelah bak terisi penuh, Sefia lebih dulu masuk. Disusul Dedi yang duduk dibelakangnya.
"Kamu capek, ya? Aku pijet ya?!" tawarnya.
"Enggak, gak usah! Aku gak capek kok." sahut Sefia cepat, karena ia tahu apa yang akan dilakukan suaminya.
"Yaudah, kalo gak mau. Sini jangan jauh-jauh!" memeluk tubuh Sefia agar menempel padanya.
Apalagi tangannya sudah bergerak nakal dan bermain kesukaannya, membuat Sefia semakin tak dapat menolaknya.
Akhirnya Sefiapun menoleh, dan Dedi menyambut dengan bibirnya yang basah untuk saling terpaut.
Saat ciuman itu berlangsung, Dedi menggiring tubuh Sefia agar berbalik padanya dan berakhir duduk dipangkuannya.
Dan akhirnya merekapun menyatu, dengan Sefia bermain diatasnya serta memagut bibir suaminya dengan ganas ketika ia mulai mendesah dengan hebatnya.
Setelah selesai mereka bermain, mereka membersihkan tubuh mereka dipancuran air shower dan saling membersihkan diri.
"Acaranya jam berapa?" tanya Sefia, ketika mereka selesai mandi dan memakai jubah handuk bersama.
"Dua jam lagi." sahut Dedi, menggiring istrinya agar duduk didepan cermin dan membantu mengeringkan rambutnya.
"Acaranya bakalan seperti apa? Aku takut hanya membuatmu malu."
"Tenang saja! Tidak akan ada yang berani mengejekmu." sahutnya sembari mengeringkan rambut istrinya dengan hairdyer. "Kamu itu Nyonya Dedi Atmaja, kamu gak boleh minder. Kamu harus bangga dan menyombongkan dirimu. Angkat dagumu ketika berbicara dengan teman-temanku! Mereka pasti iri denganmu."
"Bener juga sih." sahut Sefia senang.
__ADS_1
"Makanya, jangan ngomong seperti itu lagi! Kalo ada yang ganggu kamu, mereka akan berhadapan dengan suamimu yang tampan ini."
"Dih, mulai pede-nya." mencubit perut suaminya, dan Dedi jadi tertawa.
Setelah selesai mengeringkan rambut istrinya, ia juga membantu Sefia merapikan dengan menyisir rambutnya.
Sefia kemudian mengambil sebuah serum rambut, menuangkannya ditelapak tangan lalu mengusap rambutnya yang sudah kering agar berkilau.
"Itu apa?" tanya Dedi penasaran, sembari mengeringkan rambutnya sendiri.
"Ini vitamin rambut, seharusnya aku mengolesinya saat rambutku setengah kering tapi aku lupa."
"Oh, pantas saja wanginya beda dengan punyaku."
Dedi mengambil sehelai rambut istrinya lalu menciuminya. "Benar-benar wangi."
Sefia tersenyum. "Syukurlah, kalo kamu suka." ia kemudian mengambil beberapa makeup yang ia punya lalu mengaplikasikan diwajahnya. "Bagus gak makeupku?"
Dedi melihat wajah istrinya dari pantulan cermin. "Cantik." pujinya. "Kamu belajar darimana pakai makeup begini?"
"Dari Loutube lah, persiapan biar suami bangga." sahutnya.
Membuat Dedi memegang kedua sisi pipinya lalu mencium bibirnya. Seketika Sefia mendorongnya agar ia berhenti.
"Aaaaa. Lipstikku kan jadi berantakan lagi." keluhnya, membuat Dedi tertawa dibuatnya.
"Lagian kamu gemesin sih, jadi aku gak tahan pengen cium kamu."
"Huh, nyebelin! Minggir sana! Aku mau makeup lagi."
"Oke, aku siap-siap pake tuxedoku."
Seketika Sefia menoleh pada punggung suaminya yang berjalan keruang ganti dengan mulut menganga. "Wah! Kayaknya pestanya resmi dan gak biasa."
****
Selesai bersiap menuju pesta, Mereka tak lupa untuk berpamitan sekaligus menyapa anaknya terlebih dahulu sebelum pergi.
"Rian, Papi Mami tinggal dulu ya sebentar." ucapnya pada anaknya. "Jangan rewel ya. Oke!"
Mereka menciumi anaknya bergantian, lalu berbalik untuk pergi.
"Ratih, titip Rian ya!"
"Baik Nyonya."
****
__ADS_1
TOLONG VOTE POIN, LIKE DAN KOMEN.
Yang belum tahu caranya vote bisa klik VOTE disebelah nama Author, lalu Klik jumlah poin yang ingin kamu berikan 10,100,1000.